
Tim Medis UMI Berada di Lokasi Bencana Aceh
Tim Kemanusiaan dan Pelayanan Medis Universitas Muslim Indonesia (UMI) masih berada di lokasi bencana alam. Mereka melanjutkan misi kemanusiaan di wilayah yang terdampak banjir bandang di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Kali ini, Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran (TBM-FK) UMI telah menjangkau daerah Kota Lintang Bawah, Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.
Lokasi ini berada di tepi Sungai Tamiang, salah satu daerah yang paling parah terdampak. TIM medis UMI mendirikan rumah sakit darurat dengan atap tenda dan alas terpal. Dalam rilis resmi TBM FK UMI, disebutkan bahwa banyak rumah warga hancur akibat arus deras, pohon tumbang, serta material besar yang terbawa banjir. Dari keterangan masyarakat, tinggi air saat puncak banjir mencapai sekitar 8 meter.
Tim medis UMI bersama tim relawan lainnya memberikan pelayanan langsung ke masyarakat terdampak. Ketua TBM FK UMI, dr Berry, mengatakan bahwa banyak masyarakat masih bertahan di sekitar rumah mereka menggunakan tenda bantuan maupun tenda terpal seadanya. Oleh karena itu, pelayanan medis langsung di titik ini sangat mendesak dan prioritas.
Pada kegiatan hari ini, tim UMI memberikan pelayanan kesehatan kepada sekitar 50 pasien. Keluhan mereka antara lain luka-luka, infeksi saluran pencernaan, gangguan pernapasan, serta berbagai keluhan umum pasca-bencana. Meskipun ketersediaan makanan dan air bersih di lokasi dinilai cukup, masyarakat menyampaikan kebutuhan mendesak berupa kelambu dan alat pelindung diri (APD). Tujuannya adalah untuk menjaga kesehatan mereka selama berada di tenda-tenda terbuka yang rentan gigitan serangga dan paparan lingkungan.
Enam orang yang tergabung dalam Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran (TBM-FK) UMI, dikirim dari kampus beralamat di Jl Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar. Enam orang ini menyusul empat tim medis yang sebelumnya diberangkatkan pada pekan lalu, dan telah sepekan membantu penanganan korban banjir di Aceh. Tim TBM FK UMI ini terdiri dari dokter spesialis bedah, dokter umum, mahasiswa kedokteran yang tergabung dalam TBM, serta perwakilan dari Asian Medical Students Association (AMSA).
Pelepasan Tim Medis UMI
Tim medis dengan misi kemanusiaan ini dilepas di Aula Senat Fakultas Kedokteran UMI, Selasa (9/12/2025) sore. Pelepasan dihadiri secara virtual melalui zoom oleh Rektor UMI, Prof Dr H Hambali Thalib dan Wakil Rektor II UMI, Prof Dr Ir H Zakir Sabara HW, yang sedang umrah. Pelepasan juga dihadiri jajaran pimpinan Fakultas Kedokteran UMI, termasuk Wakil Dekan II dr Shulhana Mokhtar dan Wakil Dekan III Dr dr Irna Diyana Kartika. Keduanya memberikan pembekalan teknis, arahan keselamatan lapangan, serta motivasi agar seluruh relawan tetap menjaga profesionalisme, etika medis, dan kepekaan sosial selama bertugas.
Seluruh anggota tim telah melalui pelatihan penanganan kegawatdaruratan, respons cepat bencana, serta pelayanan kesehatan lapangan.
Dikelilingi Lumpur, Jadi Tak Layak Huni
Banjir bandang dan longsor yang menerjang wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat beberapa pekan lalu mengakibatkan kerusakan parah pada sejumlah desa. Di Aceh, proses pemulihan berjalan agak lama lantaran infrastruktur yang terputus dan lumpur yang tak kunjung surut. Ada banyak rumah tertimbun lumpur hingga setinggi dada orang dewasa, bahkan beberapa bangunan hilang tertelan material lumpur yang mengeras bak semen.
Pakar Kebijakan Publik dan Dosen Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, menilai tahap pemulihan harus difokuskan pada penataan kembali permukiman, relokasi, dan sosial ekonomi warga yang terdampak berat. Menurut Trubus, penentuan lokasi relokasi menjadi poin krusial agar masyarakat tidak dikembalikan ke kawasan rawan.
Sedimentasi Lumpur di Lokasi Bencana
Ahli klimatologi dan perubahan iklim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menilai lokasi-lokasi yang terdampak banjir bandang dan longsor di Aceh berpotensi besar tidak lagi layak untuk ditempati. Hal itu disebabkan endapan lumpur atau sedimentasi yang cukup tebal dan berlapis-lapis yang kini mengering dan mengeras, sehingga mustahil dipulihkan dengan cara pembersihan biasa.
Menurut Erma, pemulihan permukiman di wilayah yang tertimbun lumpur jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan bencana lain seperti gempa, tsunami, atau banjir reguler. Ia menegaskan bahwa lumpur-lumpur itu mengeras, jadi semua yang terendam sangat sulit diambil dan diselamatkan.
Pemerintah Harus Fasilitasi Relokasi Warga Terdampak
Menurut Trubus, pemerintah harus segera mengambil keputusan jelas terkait pemindahan warga, baik ke hunian sementara maupun ke lokasi relokasi permanen. Ia menekankan, penetapan lokasi harus mempertimbangkan aspek keselamatan, akses pendidikan, layanan kesehatan, dan peluang ekonomi.
Percepatan Pembersihan Lumpur
Erma mengingatkan bahwa Aceh saat ini baru memasuki fase tanggap darurat, yang idealnya berlangsung satu hingga dua minggu. Namun, hingga minggu kedua, penanganan masih belum tuntas, sehingga BNPB telah memperpanjang status tanggap darurat untuk kedua kalinya. Ini berarti ketidakpastian bagi warga bisa semakin panjang kalau tidak dipercepat.
Warga Terdampak Sedimentasi Lumpur
Adapun warga yang rumahnya terdampak pengerasan lumpur tebal dialami oleh Nasruddin (38), warga Dusun Meunasah Krueng Baroh, Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. Nasruddin masih harus bertahan di lokasi pengungsian, dan keluarganya belum dapat pulang karena rumah mereka terkubur lumpur tebal sisa banjir bandang yang melanda kawasan tersebut.
Desa yang Hilang Tertelan Lumpur
Setelah rumah warga korban banjir longsor tertelan lumpur dan mengeras, minimnya bantuan membuat warga mulai kelaparan dan kesulitan bertahan hidup. Muhammad Hendra Vramenia, warga Kampung Bundar di Kecamatan Karang Baru, menggambarkan kondisi memilukan yang terjadi. Ia menyebut, beberapa desa kini hilang ditelan lumpur, tertutup tumpukan kayu dan balok-balok raksasa. Salah satunya Desa Sekumur, yang sebelumnya dihuni sekitar 1.234 jiwa dengan 280 rumah. Kini, seluruh permukiman itu musnah setelah dihantam banjir setinggi hampir 7 meter.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar