
Pertumbuhan Ekonomi Jawa Barat Menunjukkan Tanda Perlambatan
Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada Triwulan III 2025 menunjukkan gejala perlambatan yang semakin nyata. Hal ini diungkapkan oleh Acuviarta Kartabi, seorang pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan, dalam acara Bisnis Indonesia Group Conference di Hotel Savoy Homan, Kota Bandung, Senin (8/12/2025). Berdasarkan data yang disampaikan oleh Acuviarta, pertumbuhan ekonomi Jabar hanya mencapai 0,46 persen secara kuartal ke kuartal (q-to-q), yang merupakan level terendah dalam empat tahun terakhir.
Kondisi ini menjadi tanda bahwa ekonomi Jabar, yang selama ini dikenal sebagai pusat industri dan perdagangan terbesar di luar Jakarta, sedang menghadapi titik rentan. Acuviarta menilai perlambatan tersebut sebagai sinyal kuat bahwa tekanan ekonomi rumah tangga sedang membesar. Ia menjelaskan bahwa kontraksi konsumsi rumah tangga menjadi alarm penting karena konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 65% terhadap PDRB Jabar. Saat konsumsi turun, mesin utama ekonomi langsung melemah.
Data menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Jabar turun sebesar -2,04 persen q-to-q. Penurunan ini memengaruhi berbagai sektor, terutama perdagangan, jasa, dan kuliner—tiga sektor yang menjadi ruang hidup sebagian besar UMKM di Jawa Barat. Acuviarta menjelaskan bahwa penurunan konsumsi kemungkinan dipicu oleh tekanan biaya hidup, perlambatan pendapatan masyarakat perkotaan, serta kenaikan harga beberapa komoditas pangan sejak pertengahan tahun.
Kondisi daya beli yang tidak sehat membuat sektor-sektor yang selama ini relatif stabil ikut terkoreksi. Secara tahunan, ekonomi Jabar masih mencatat pertumbuhan kuat sebesar 5,20 persen (y-on-y), tertinggi sejak 2022. Namun, Acuviarta menilai capaian tahunan tersebut tidak boleh menutupi masalah jangka pendek yang lebih serius. Ia menegaskan bahwa angka y-on-y memberi kesan optimisme, tetapi jika melihat tren kuartalan, ekonomi Jabar sedang kehilangan momentum.
Perbandingan dengan kinerja nasional juga menunjukkan ketimpangan. Perekonomian Indonesia tumbuh 1,43 persen q-to-q, lebih tinggi dari Jabar. Namun secara y-on-y, Jabar sedikit lebih unggul dari rata-rata nasional yang berada di angka 5,04 persen.
Penurunan yang cukup dalam juga terjadi pada tiga lapangan usaha: administrasi pemerintahan, jasa lainnya, serta pertanian. Sektor pertanian tertekan akibat gangguan produksi dan distribusi, sementara administrasi pemerintahan terdampak perlambatan penyerapan anggaran triwulan. Acuviarta menjelaskan bahwa sektor jasa lainnya sangat tergantung pada belanja masyarakat. Ketika konsumsi menurun, sektor ini ikut tergelincir.
Perlu Intervensi Konkret untuk Menahan Pelemahan Konsumsi Rumah Tangga
Acuviarta menekankan perlunya intervensi konkret untuk menahan pelemahan konsumsi rumah tangga. Ia menilai pemerintah daerah perlu mengakselerasi belanja sosial, mempercepat realisasi anggaran, dan menghadirkan program-program stabilisasi harga pangan. Di sisi lain, kondisi ini menjadi pukulan bagi UMKM dan koperasi, yang sebagian besar bergantung pada sektor perdagangan, industri pengolahan, kuliner, serta pertanian.
Ia menilai penurunan permintaan berdampak langsung pada omzet pelaku usaha kecil. Yang paling rentan adalah UMKM dengan modal terbatas. Ketika permintaan anjlok, mereka tidak punya bantalan. Acuviarta menyoroti perlunya modernisasi UMKM melalui digital marketing, penguatan logistik terjangkau, hingga integrasi rantai pasok dengan usaha menengah dan besar. Menurutnya, sinergi skala usaha menjadi langkah penting agar produk UMKM tetap terserap pasar.
Dukungan Pembiayaan yang Tepat Sasaran
Acuviarta juga mendorong pemerintah daerah memperluas akses pembiayaan yang tepat sasaran, terutama untuk UMKM produksi dan pertanian. Ia menegaskan bahwa pembiayaan bukan sekadar modal kerja, tetapi harus diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi. Itu yang membuat UMKM lebih tahan menghadapi siklus ekonomi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar