Konferensi BIG 40: Peluang dan Tantangan Menuju Ekonomi Hijau Jatim

Kinerja Ekonomi Hijau Jawa Timur Masih Menyisakan Pekerjaan Rumah


Ekonomi hijau di Provinsi Jawa Timur masih memiliki tantangan yang harus diselesaikan, meskipun secara umum daya saing daerah tergolong kompetitif. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar bidang Ilmu Ekonomi Lingkungan dan Pembangunan Universitas Airlangga, Deni Kusumawardani, dalam acara Bisnis Indonesia Group Conference 2025 yang digelar di Hotel Wyndham Surabaya City Centre, Senin (8/12/2025).

Deni menjelaskan bahwa indeks daya saing ekonomi daerah diadopsi dari Global Competitiveness Index (GCI), kemudian di tingkat nasional dikenal sebagai Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) yang dikelola oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Berdasarkan IDSD 2024, Provinsi Jawa Timur menempati posisi kelima dengan skor 3,88, termasuk dalam 21 provinsi yang berada di atas rata-rata nasional sebesar 3,43.

Empat Kelompok Indikator dalam IDSD

IDSD terdiri dari empat kelompok indikator utama, yaitu pasar, lingkungan, sumber daya manusia, dan ekosistem inovasi. Dalam pengukuran tersebut, Jawa Timur mencatat tiga indikator teratas dan tiga indikator terendah.

Indikator terbaik yang dimiliki Jawa Timur antara lain: * Kualitas institusi – yang menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pemerintahan. * Stabilitas ekonomi makro – yang menunjukkan konsistensi pertumbuhan ekonomi. * Ukuran pasar – Jawa Timur menduduki peringkat kedua dalam kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Namun, ada tiga indikator yang menjadi kelemahan Jawa Timur, yaitu: * Pasar produk – struktur persaingan yang tidak sempurna, cenderung oligopoli atau monopoli. * Pasar tenaga kerja – masalah seperti upah, mobilitas, dan kesetaraan gender. * Sektor keuangan – kredit yang belum merata dan akses permodalan yang masih terbatas.

Ketimpangan Antara Kabupaten dan Kota

Deni juga menyebutkan adanya ketimpangan dalam kinerja ekonomi hijau antara kabupaten dan kota di Jawa Timur. Data menunjukkan bahwa delapan kabupaten-kota di atas rata-rata Jawa Timur, enam di antaranya adalah kota. Kota-kota seperti Surabaya, Madiun, Malang, dan Batu dinilai lebih progresif dalam aspek ekonomi dan inovasi.

Sebaliknya, beberapa wilayah seperti Probolinggo, Lamongan, Kediri, Bangkalan, dan Sampang menunjukkan kinerja yang lebih rendah, terutama pada indikator lingkungan, sosial, dan tata kelola.

Kinerja SDGs dan Masalah Lingkungan

Meski capaian Sustainable Development Goals (SDGs) Jawa Timur dalam aspek sosial cukup menonjol, seperti penanganan kemiskinan dan akses pendidikan, kinerja lingkungan justru menjadi yang terlemah. Masalah utamanya meliputi produksi, konsumsi, ekosistem, dan pemukiman.

Selain itu, porsi pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) di Jawa Timur masih jauh dari target nasional. Tahun 2025, target EBT seharusnya mencapai 23%, namun saat ini hanya sekitar 14%.

Trade-off Ekonomi dan Lingkungan

Deni mengungkapkan bahwa masih terjadi trade-off antara pertumbuhan ekonomi dengan kualitas lingkungan di Jawa Timur. Pertumbuhan ekonomi sering kali mengorbankan lingkungan, terutama dalam sektor industri dan pembangunan infrastruktur.

Perlu Penguatan Ekosistem Inovasi Hijau

Untuk meningkatkan kualitas ekonomi hijau, Deni menekankan pentingnya pemerintah sebagai regulator untuk memperkuat ekosistem inovasi hijau, green job, dan green investment. Saat ini, Jawa Timur masih tertinggal dalam komponen perdagangan hijau, pekerjaan hijau, dan inovasi hijau.

Kolaborasi untuk Transisi Menuju Ekonomi Berkelanjutan

Deni menyarankan adanya peran aktif dan kolaborasi dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pelaku industri untuk mempercepat transisi menuju pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Dengan kerja sama yang baik, Jawa Timur dapat meningkatkan daya saing dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan