Konflik dengan Kamboja, Thailand Beli Rudal Barak MX dari Israel


Pembelian Sistem Pertahanan Udara Barak MX oleh Thailand

Thailand kini mengambil langkah penting dalam memperkuat pertahanan udaranya dengan menandatangani kontrak bernilai sekitar US$ 108 juta (sekitar Rp 1,7 triliun) untuk membeli sistem pertahanan udara Barak MX dari Israel Aerospace Industries (IAI). Kesepakatan ini menjadi akuisisi pertama Thailand dalam beberapa dekade terkait sistem pertahanan udara jarak menengah dan menunjukkan komitmen negara tersebut untuk modernisasi militer setelah konflik dengan Kamboja beberapa waktu lalu.

Spesifikasi dan Fungsi Sistem Barak MX

Barak MX adalah sistem pertahanan udara multi-lapis yang dirancang untuk menangani berbagai ancaman, mulai dari pesawat tempur hingga rudal balistik taktis. Sistem ini telah diadopsi oleh beberapa negara seperti India, Azerbaijan, Slovenia, dan Siprus. Diklaim memiliki desain multi-misi dan kemampuan jaringan canggih, Barak MX mampu meningkatkan efektivitas medan tempur sambil menekan biaya operasional.

Paket yang dipesan oleh Thailand mencakup unit komando dan kendali, radar multi-misi, peluncur rudal, kendaraan pemuat ulang, serta kendaraan logistik. Semua komponen ini dirancang untuk beroperasi pada platform bergerak, sehingga memudahkan penggunaannya dalam situasi darurat atau perpindahan posisi.

Presiden dan CEO IAI, Boaz Levy, menyatakan bahwa kesepakatan ini merupakan pencapaian penting bagi perusahaan di Asia Tenggara. Menurutnya, Barak MX dipilih karena memenuhi persyaratan ketat Angkatan Udara Thailand (RTAF) dan memiliki interoperabilitas tinggi dengan sistem komando lokal.

Tahap Awal Pengadaan

Menurut laporan Asian Military Review, tahap awal proyek ini melibatkan pengadaan satu baterai Barak MX yang akan dioperasikan oleh Resimen Antipesawat Komando Pasukan Keamanan. RTAF menyatakan bahwa mereka harus bersiap menghadapi ancaman masa depan dengan membeli sistem persenjataan modern untuk meningkatkan pertahanan udara. Saat ini, sistem pertahanan udara Thailand masih bergantung pada senjata jarak pendek seperti VADS, M163/M167, dan MANPADS FIM-92 Stinger.

Selain itu, IAI akan bekerja sama dengan Thai Aviation Industries (TAI) untuk memberikan layanan pemeliharaan dan dukungan teknis. Sistem jarak menengah KS-1A dari Tiongkok sebelumnya menjadi alternatif, tetapi dinilai kurang efektif dibandingkan sistem Barak MX yang berasal dari Israel.

Kondisi Ketegangan dengan Kamboja

Konflik antara Thailand dan Kamboja kembali memanas setelah insiden besar terjadi pada Ahad lalu. Dalam insiden tersebut, dua tentara Thailand terluka dan gencatan senjata yang didorong Donald Trump gagal. Hingga 11 Desember, 9 tentara Thailand tewas, lebih dari 120 terluka, dan 4 warga sipil meninggal saat evakuasi karena penyakit bawaan. Sementara itu, Kamboja melaporkan 11 warga sipil tewas dan 74 terluka.

Kementerian Pertahanan Kamboja menuduh Thailand menjatuhkan tiga bom dari pesawat tempur dan menggunakan senjata berat untuk memasuki wilayah mereka. Namun, Thailand membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa Kamboja lebih dulu menyerang posisi Thailand dengan artileri dan mortir.

Juru bicara Angkatan Udara Thailand, Air Marshal Jackkrit Thammavichai, tidak mengkonfirmasi maupun membantah penggunaan serangan udara. Ia menegaskan bahwa operasi udara akan terus dilakukan sampai pihak Kamboja menghentikan semua upaya yang mengancam kedaulatan, keamanan, dan keselamatan rakyat Thailand.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan