Perjalanan Kembali ke Takengon

Di awal tahun, rasanya belum terlalu terlambat untuk menulis tentang perayaan tahun baru. Di tengah riuhnya perayaan malam tahun baru beberapa hari lalu, mungkin hanya saya yang memilih duduk menikmati seduhan kopi oleh-oleh dari seseorang yang baru pulang dari Takengon. Ya, lelaki yang selama tiga minggu terakhir saya tangisi setiap malam karena hilang kabar akibat bencana banjir dan longsor di beberapa titik wilayah Aceh termasuk Takengon. Ketiadaan koneksi internet dan jaringan listrik benar-benar melumpuhkan komunikasi antara kami.
Dua minggu pasca bencana, ia akhirnya bisa berkabar dengan singkat bahwa ia selamat dan dalam kondisi baik-baik saja melalui akses internet dari satelit yang hanya ada di kantor desa setempat. Itupun harus dilakukan tengah malam, karena jika dilakukan pagi atau siang akan berebut dengan warga lainnya yang pada akhirnya membuat komunikasi kurang nyaman.
Kondisi Takengon sungguh memprihatinkan, sebab hampir semua akses jalan dan jembatan rusak dan putus. Keadaan ini juga yang membuat kesulitan para relawan untuk menyalurkan berbagai bentuk bantuan bagi para masyarakat yang terdampak bencana. Akibatnya, masyarakat Takengon pun menjadi terisolir karena tidak bisa mengakses apapun, baik jalan, koneksi internet maupun listrik.
Bisa ditebak, ketersediaan logistik seperti bahan makanan, bahan bakar minyak, dll menjadi langka sehingga harganya meroket. Kita tidak bisa serta merta menyalahkan hal tersebut sebab itulah hukum ekonomi permintaan dan penawaran yang salah satunya dipengaruhi oleh kelangkaan (scarcity) yaitu ketika penawaran (supply) barang sedikit sementara permintaan (demand) banyak, maka produsen akan menaikkan harga untuk mencapai keseimbangan pasar.
Takengon yang terkenal dengan hasil kopi dan cabai sebenarnya merupakan wilayah Aceh yang cukup makmur, baik masyarakat maupun sumber daya alamnya. Kopi Gayo yang menjadi andalan Takengon merupakan salah satu varian kopi arabika dan robusta yang berkualitas premium yang sangat terkenal bukan hanya di Indonesia tapi juga dunia.
Maka tak heran, ketika pulang, oleh-oleh yang dibawa oleh sang pujaan hati adalah kopi. Tentu saja kopi yang dibawa bukan sembarang kopi, tapi kopi terbaik yang dipetik dan diroasting sendiri dengan alat yang super canggih sehingga memiliki kualitas yang berbeda dengan kopi-kopi yang dijual bebas. Apalagi ia adalah seorang barista sekaligus coffee roaster yang memiliki pengetahuan luas tentang kopi, sehingga bisa membedakan mana kopi yang premium atau bukan.
Di tanggal 28 Desember 2025, ia memutuskan untuk pulang dan kembali ke Takengon setelah kondusif. Sempat hendak naik pesawat kecil namun gagal karena harga tiket yang cukup mahal, naik hercules yang gratis tapi tidak setiap saat terbang, akhirnya ia menggunakan jalur darat yang membutuhkan waktu hingga 20 jam yang seharusnya 9-10 jam menuju Medan, karena harus berjalan kaki melewati jembatan yang putus, melanjutkan lagi naik ojek, berjalan kaki lagi saat harus melewati jembatan putus hingga sampai di wilayah yang akses jalannya bisa dilalui kendaraan (bus).
Perjuangan untuk bisa pulang tentu harus disambut dengan keharuan. Itulah yang menjadi salah satu alasan, malam pergantian tahun cukup dirayakan dengan sederhana. Menyeduh kopi Gayo bersamanya sembari menikmati langit yang gemerlap oleh kembang api adalah sebuah kemewahan yang patut disyukuri.
Kopi Gayo yang kita seduh, bukan hanya terasa nikmat tapi juga bisa memberi kehangatan serta romantisme tersendiri, apalagi saat ia bercerita pengalamannya saat terjadi bencana dan memuja Takengon sebagai daerah yang sangat indah dan makmur. Bahkan, ia berkata bahwa ia tidak jera untuk tinggal di Takengon, karena ini adalah bencana yang bisa terjadi kapan dan dimana saja.
Hanya saja, ia berharap kekayaan alam yang ada di Takengon atau di daerah-daerah lainnya bisa benar-benar dijaga kelestariannya. Pembalakan liar adalah sumber dari segala bencana yang harus dihentikan, apapun alasannya. Indonesia adalah negeri yang sangat kaya dengan alamnya, namun ini juga menjadi PR besar, bukan hanya bagi pemerintah, pegiat lingkungan tapi juga seluruh masyarakat, bagaimana agar kekayaan alam yang ada menjadi lestari.
Bencana alam barangkali hanya menjadi salah satu warning alert bahwa keadaan alam kita sedang tidak baik-baik saja. Masih banyak peringatan-peringatan lainnya yang semestinya disadari dan disikapi dengan bijak. Jika pemerintah terus mengupayakan kebijakan yang berpihak pada kelestarian alam, maka kita sebagai individu bisa berkontribusi dengan turut menjaga lingkungan mulai dari hal yang terkecil, seperti tidak membuang sampah sembarangan, melakukan penghijauan hingga menggunakan segala peralatan yang ramah lingkungan.
Kepedulian kita sangat berarti. Walaupun terlihat kecil namun bisa membawa dampak yang besar bagi penyelamatan kelestarian alam Indonesia. Jadi, jangan pernah menganggap remeh langkah-langkah kecil yang kita lakukan untuk lingkungan, sebab semua itu bisa memberi dampak perubahan yang positif untuk menyelamatkan lingkungan.
Di detik pergantian tahun menuju 2026, seruputan terakhir kopi Gayo seperti memberikan energi dan semangat baru bagi saya. Saya memejamkan mata sesaat sembari melangitkan doa, semoga di tahun 2026 saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik, sebab saingan saya bukan orang lain tapi diri saya sebelumnya. Di sisi lain, semoga Indonesia semakin cerdas dan bijak dalam melindungi dan memakmurkan rakyatnya.
Terimakasih 2025, terimakasih kopi Gayo, selamat datang 2026...
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar