
Korekayu Merilis Live Album Sinematik yang Menggabungkan Musik, Visual, dan Narasi Sejarah
Korekayu, sebuah unit pop asal Yogyakarta, akan merilis live album sinematik dan video performance bertajuk Een Verhaal in de Tijd menjelang awal 2026. Rilisan ini menjadi bentuk perayaan atas pertunjukan mereka di panggung ARTJOG pada 8 Agustus 2025. Dalam proyek ini, band yang telah aktif sejak 2012 ini menampilkan karya-karyanya dalam format yang lebih luas, menggabungkan musik, visual, dan narasi sejarah.
Live album ini merupakan hasil interpretasi ulang dari album sebelumnya berjudul Verhaal. Namun, kali ini, Korekayu tidak hanya memindahkan materi dari album studio ke panggung, melainkan menciptakan pengalaman pertunjukan yang lebih menyeluruh. Mulai dari aransemen musik hingga konsep visual, semuanya dirancang dengan pendekatan yang lebih kreatif dan terstruktur.
Konsep yang Membangkitkan Nostalgia dan Perhatian Terhadap Sejarah
Pendekatan yang digunakan oleh Korekayu dalam Een Verhaal in de Tijd adalah respons terhadap periode peralihan penjajahan Belanda ke Jepang di Indonesia. Band ini fokus pada atmosfer militer Jepang antara tahun 1942 hingga 1945. Hal ini diperkuat melalui penggunaan kostum gakuran dan seifuku oleh para personel, yang memberikan nuansa teater musikal yang jarang ditemui dalam skena indie lokal.
Bondan, salah satu anggota Korekayu, menjelaskan bahwa konsep ini dirancang untuk memperluas pengalaman audiens. Ia menyatakan bahwa lewat Een Verhaal in de Tijd, band ini menghadirkan pendekatan artistik yang menggabungkan teater, sejarah, dan musik pop dari perspektif generasi muda.
Pengembangan Aransemen Musik yang Lebih Ekspansif
Dari sisi musikal, Een Verhaal in de Tijd menampilkan bentuk paling ekspansif dari karya Korekayu sejauh ini. Lagu-lagu dalam album Verhaal disusun ulang dengan penambahan elemen seperti brass section, backing vocal, seruling, ketipung, dan gitar akustik. Hal ini menciptakan soundscape yang lebih megah dan dramatis dibanding versi studio.
Salah satu momen paling emosional dalam konser ini terjadi ketika Indra Prasta dan Iwan Tanda dari The Rain naik ke atas panggung untuk membawakan lagu Terserah Maumu. Lagu tersebut ditampilkan dalam format live yang berbeda dari versi aslinya, dengan karakter yang lebih raw, lebih luas, dan menghentak secara emosional.
Live Album sebagai Pengalaman Naratif yang Terkurasi
Lukas, salah satu anggota Korekayu, menilai bahwa rilisan ini tidak sekadar menjadi dokumentasi pertunjukan. Menurutnya, setiap lagu dalam Verhaal disusun ulang agar dapat menyatu dengan konsep historis yang diangkat, sehingga membuat live album ini bukan hanya dokumentasi panggung, tetapi juga sebuah pengalaman naratif yang terkurasi.
Live album dan video performance Een Verhaal in de Tijd akan dirilis pada 1 Januari 2026 dan dapat diakses melalui YouTube serta seluruh platform streaming digital.
Profil Korekayu: Sekstet Pop yang Berpengaruh
Sebagai informasi, Korekayu, yang dibaca sebagai "korek kayu", merupakan sekstet oldies pop asal Yogyakarta yang aktif bermusik sejak 2012. Band ini dikenal dengan ciri khas harmoni vokal bertumpuk. Anggota Korekayu terdiri dari Alfon pada vokal, Bondan pada vokal dan gitar, Lukas pada vokal dan gitar, Bagas pada bass, Alvin pada drum, serta Yusti pada keyboard.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar