Koreksi Bitcoin Berlanjut di Tengah Regulasi dan Adopsi yang Matang


nurulamin.pro, JAKARTA — Bitcoin sedang mengalami penurunan tahunan yang keempat dalam sejarahnya. Namun, kali ini tidak diiringi dengan skandal besar atau krisis industri kripto. Tekanan terbaru terjadi pada Senin, ketika aksi jual tajam membuat aset kripto terbesar itu turun hingga 3,7%. Secara year to date, Bitcoin kini turun sekitar 7%. Sementara itu, data Coinmarketcap pada Rabu (17/12/2025) mencatat harga Bitcoin menguat 1,64% pada level US$87.677,20.

Koreksi Bitcoin kali ini relatif lebih ringan dibandingkan tiga fase penurunan tahunan sebelumnya. Namun, penurunan tersebut terjadi dalam lanskap yang jauh berbeda. Sejak kejatuhan besar kripto pada 2022, adopsi institusional semakin meluas, regulasi semakin matang, dan industri memperoleh pendukung paling berpengaruhnya, yakni Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Penurunan cepat sejak Bitcoin menembus rekor di atas US$126.000 pada awal Oktober membingungkan kubu bullish dan membuat aset kripto kesulitan menemukan pijakan. Volume transaksi menipis, investor menarik dana dari ETF Bitcoin, sementara pasar derivatif menunjukkan minimnya minat bertaruh pada pemulihan. Bahkan, pembelian besar-besaran dari "whale" atau investor dengan kepemilikan besar, yakni Strategy Inc. milik Michael Saylor, belum mampu membalikkan keadaan.

“Banyak pihak terkejut karena tidak ada kelanjutan penguatan meski katalis positif sangat banyak,” ujar Pratik Kala, manajer portofolio hedge fund Apollo Crypto.

Fase pasar bearish ini juga membuat Bitcoin terlepas dari pergerakan saham. Indeks S&P 500 ditutup di level rekor awal bulan ini dan telah menguat 16% sepanjang tahun. Saham teknologi—yang selama ini kerap bergerak seirama dengan Bitcoin—bahkan mencatat kinerja lebih baik.

Penurunan Tahunan Pertama Bitcoin

Tiga penurunan tahunan pertama Bitcoin sejak mulai diperdagangkan di bursa pada 2010 selalu ditandai peristiwa yang sempat meruntuhkan kepercayaan pasar. Pada 2014, peretasan dan kolapsnya bursa Mt. Gox menyingkap rapuhnya infrastruktur kripto di fase awal, sekaligus menunjukkan dana nasabah tak selalu aman di platform terpusat. Bitcoin anjlok 58% pada tahun itu.

Empat tahun berselang, gelembung initial coin offering (ICO) pecah setelah otoritas melakukan pengetatan, menyeret Bitcoin dan token lain ke tren koreksi. Penurunan 2018 sebesar 74% masih menjadi yang terdalam sepanjang sejarah.

Adapun kejatuhan 2022 menjadi yang paling signifikan, seiring membesarnya skala pasar dan tumbangnya sejumlah pemain besar, termasuk FTX milik Sam Bankman-Fried, serta memicu pengetatan luas di era Presiden Joe Biden.

Hingga puncak Oktober, laju Bitcoin tampak tak terbendung. Trump menetapkan kripto sebagai prioritas nasional, Kongres AS mengesahkan regulasi stablecoin, dan ETF Bitcoin menyedot dana miliaran dolar. Nilai akuisisi dan penggalangan dana melonjak, sementara sejumlah perkara penegakan hukum warisan pemerintahan Biden ditarik.

Namun di balik reli tersebut, kerentanan menumpuk—terutama leverage yang ekstrem. Kerapuhan reli itu meledak ke ruang publik pada 10 Oktober, saat likuidasi taruhan berleverage mencapai US$19 miliar dan menyeret pasar kripto ke pusaran volatilitas.

Para “whale” Bitcoin mulai melepas aset, menahan tekanan harga meski sebagian besar leverage telah tersapu. Perputaran transaksi merosot tajam, dengan volume November turun paling dalam sejak awal 2024, menurut data CoinDesk.

Beragam indikator menunjukkan pelaku pasar memilih menepi. Investor telah menarik lebih dari US$5,2 miliar dari ETF spot Bitcoin yang tercatat di AS sejak 10 Oktober. Kedalaman pasar—indikator kemampuan menyerap transaksi besar tanpa gejolak harga—turun sekitar 30% dari puncak tahunannya, berdasarkan data peneliti Kaiko.

“Penjualan dari para whale lama benar-benar meredam momentum. Industri sudah mendapatkan semua yang diminta dari sisi regulasi—bahkan ETF dengan staking—tetapi harga tidak ikut bergerak," ujar Kala.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan