Korsel Latih Pertahanan di Laut Timur, Jepang Keberatan

Latihan Militer Korsel di Dekat Dokdo Memicu Protes dari Jepang

Korea Selatan (Korsel) baru-baru ini melakukan latihan pertahanan rutin di dekat Dokdo, pulau kecil yang terletak di Laut Timur dan juga dikenal sebagai Laut Jepang. Tindakan tersebut telah memicu protes dari pihak Tokyo.

"Militer kami telah melakukan latihan pertahanan Laut Timur secara rutin setiap tahun. Latihan ini juga dilaksanakan untuk memenuhi misi melindungi wilayah, rakyat, dan harta benda kami," kata sumber militer Korsel, seperti dikutip dalam laporan media setempat.

Pihaknya juga membenarkan bahwa latihan tersebut berlangsung pada 23 Desember 2025. Latihan ini merupakan yang kedua di bawah pemerintahan Presiden Lee Jae Myung. Latihan sebelumnya berlangsung pada Juli lalu.

Latihan Kedua Korsel di Bawah Pemerintahan Presiden Lee Jae Myung

Latihan terbaru ini diadakan dalam skala yang serupa dengan latihan-latihan sebelumnya dalam hal metode pelatihan dan pasukan yang dikerahkan. Namun, pihaknya tidak memberikan detail lebih lanjut.

Seoul pertama kali meluncurkan latihan pertahanan pada 1986, dan sejak 2003 pihaknya telah melaksanakannya dua kali setahun.

Jepang Ajukan Protes Diplomatik Terhadap Korsel

NHk News melaporkan, Kepala Biro Urusan Asia dan Oseania Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Jepang, Masaaki Kanai, telah menyampaikan protes terkait latihan militer terbaru itu kepada Kedutaan Besar (Kedubes) Korsel di Tokyo melalui telepon. Kedubes Jepang di Seoul juga mengajukan protes kepada Kemenlu Korsel.

Sebelumnya, Jepang telah memprotes latihan militer rutin tersebut melalui jalur diplomatik. Serta, mendesak Korsel untuk membatalkan latihan militer tersebut.

Tokyo telah menegaskan kembali pendiriannya yang sudah lama terkait gugusan batuan tersebut, yang disebutnya Takeshima. Bagi Jepang, Takeshima merupakan wilayahnya yang sah, berdasarkan fakta sejarah dan hukum internasional.

Konflik Teritorial yang Menguji Hubungan Jepang-Korsel

Pulau-pulau kecil tersebut juga dikenal secara internasional sebagai Liancourt Rocks. Pulau itu telah lama menjadi titik konflik dalam hubungan kedua negara yang belum terselesaikan, yang berasal dari masa penjajahan Jepang di Semenanjung Korea pada 1910-1945.

Tokyo terus mengajukan klaim kedaulatan dalam dokumen kebijakan, pernyataan publik, dan buku teks sekolahnya. Sementara itu, Seoul telah mengendalikan Dokdo secara efektif, dengan detasemen polisi kecil, sejak awal tahun 1950-an. Gugusan pulau kecil ini terletak kira-kira di tengah-tengah antara Pulau Ulleungdo milik Korsel dan Pulau Oki milik Jepang, dilansir dalam laporan media internasional.

Perkembangan Terkini Terkait Konflik

Selain latihan militer yang memicu protes, beberapa isu lain juga muncul dalam hubungan antara Korsel dan Jepang. Salah satunya adalah kasus kontraktor Korsel yang dihukum karena bocorkan desain kapal selam ke Taiwan. Hal ini menunjukkan adanya ketegangan dalam hubungan bilateral yang terus berkembang.

Selain itu, presiden Korsel kembali bekerja di Blue House setelah renovasi selesai, menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjalankan tugas sehari-hari. Dalam konteks yang lebih luas, Korsel juga siap menjadi mediator dalam konflik China dan Jepang, menunjukkan peran penting negara tersebut dalam dinamika regional.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan