
aiotrade.CO.ID – JAKARTA.
Beberapa bank pembangunan daerah (BPD) masih menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas aset, terutama karena meningkatnya rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL). Pada tahun 2025, sejumlah BPD mencatatkan NPL gross di atas ambang batas sehat yang ditetapkan oleh regulator, yaitu maksimal 5%.
Bank Banten menjadi salah satu yang memiliki NPL gross tertinggi dengan angka 5,53% per September 2025, meskipun penurunan signifikan dibandingkan 9,86% pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan NPL juga terjadi di beberapa BPD lain seperti Bank Jatim, Bank Kaltimtara, dan Bank Jakarta.
Penyebab Kenaikan NPL
Direktur Bisnis Bank Banten, Bambang Widyatmoko, menjelaskan bahwa NPL terbesar berasal dari segmen komersial, khususnya sektor konstruksi serta pengadaan barang dan jasa. Sejak 2022, penyaluran kredit di segmen ini telah dihentikan sementara untuk menekan risiko.
Meski NPL gross masih di atas batas sehat, kualitas kredit sesungguhnya menunjukkan perbaikan signifikan. “NPL gross Bank Banten cenderung menurun secara tahunan, didukung ketersediaan CKPN yang memadai sehingga NPL net berada di bawah 2%,” ujarnya.
Strategi Perbaikan Kualitas Kredit
Perbaikan kualitas kredit dilakukan melalui dua strategi utama:
- Pertama, penyelesaian kredit bermasalah secara bertahap tanpa harus menunggu pelunasan penuh. “Yang penting setiap bulan ada penurunan outstanding, walaupun kecil. Misalnya dari Rp 6 miliar turun Rp100 juta setiap bulan, lama-lama kan jadi signifikan.”
- Kedua, Bank Banten aktif menumbuhkan kredit baru yang berkualitas. “Kita menambah pembagi dalam rumus NPL, artinya menambah kredit sehat. Tapi kredit baru yang kita salurkan harus benar-benar berkualitas — tidak boleh ada yang macet.”
Langkah Mitigasi dan Kerja Sama
Untuk mempercepat penyelesaian kredit bermasalah, Bank Banten melakukan sejumlah langkah, baik litigasi maupun non-litigasi, termasuk kerja sama dengan Kejaksaan Tinggi Provinsi Banten sejak 2022. Dengan mitigasi tersebut, Bambang menegaskan tidak ada hambatan berarti dalam penyaluran kredit baru.
Fokus penyaluran diarahkan pada segmen berisiko rendah, seperti kredit konsumer untuk ASN yang payroll-nya di Bank Banten, kredit pensiun bekerja sama dengan Taspen, serta kredit kontraktor dengan sumber pembayaran melalui APBD yang termonitor jelas.
Target dan Strategi Jangka Panjang
Bambang menargetkan, hingga akhir 2025, NPL Bank Banten bisa ditekan ke bawah 5%. “Kalau bisa di bawah 5%,” ujarnya optimistis.
Dalam memperbaiki struktur portofolio kredit, Bambang juga mengarahkan Bank Banten untuk meninggalkan model pembiayaan komersial dan beralih fokus ke sektor yang lebih aman.
Perbaikan Kualitas Aset di BPD Lain
Peningkatan NPL juga dialami Bank Sumsel Babel, yang naik dari 2,55% menjadi 2,68%. Pemimpin Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Sumsel Babel, Teddy Kurniawan, menilai posisi tersebut masih dalam kategori baik.
Di tengah tren kenaikan, sejumlah BPD lain menunjukkan perbaikan kualitas aset. BPD Bali berhasil menurunkan NPL dari 1,14% pada September 2024 menjadi 0,85% pada September 2025. BPD DIY juga mencatat penurunan dari 3,64% menjadi 3,24%.
Pengendalian Risiko di BPD
Menyikapi maraknya kasus kredit fiktif yang menyeret sejumlah BPD, Bank Banten menegaskan bahwa perseroan telah memperkuat prinsip kehati-hatian dan membangun sistem pengendalian risiko yang ketat.
Bambang menjelaskan, Bank Banten memiliki model bisnis yang relatif terukur. Pada kredit ASN, misalnya, sumber pembayaran berasal langsung dari gaji yang telah dikelola oleh Bank Banten. Dengan demikian, data debitur, kemampuan bayar, dan alur pendapatan bisa divalidasi secara jelas.
Mekanisme Pengendalian Berlapis
Untuk kredit produktif, terutama Kredit Modal Kerja Kontraktor (KMKK) dengan pembayaran yang bersumber dari APBD, Bank Banten menerapkan struktur pengendalian berlapis. Selain verifikasi dokumen dan konfirmasi kepada perangkat daerah, perseroan juga menerapkan mekanisme dual control dalam proses persetujuan kredit.
Keputusan kredit tidak hanya berasal dari analisis unit bisnis, tetapi juga harus melalui credit review di kantor pusat. Tidak ada satu pihak yang memegang kewenangan penuh. Setiap proposal kredit tidak hanya dilihat dari potensi laba, tetapi juga diuji kelayakan risikonya, sumber pembayaran, dan keabsahan kontrak.
Manajemen Risiko yang Menyeluruh
Bambang menegaskan, manajemen risiko di Bank Banten berjalan secara menyeluruh, tidak hanya pada saat kredit diberikan tetapi sejak tahap awal hingga monitoring pascakredit.
Langkah pengawasan yang diterapkan antara lain:
- Penguatan KYC dan verifikasi data
- Struktur persetujuan berbasis dual control
- Penerapan four eyes principle
- Review risiko independen
- Monitoring pasca kredit yang ketat
- Penerapan early warning system manual dan berbasis data
- Portofolio yang selektif dan terukur
- Penguatan kompetensi SDM
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar