Kredit UMKM Menurun di Oktober 2025, OJK Catat Kontraksi

Pertumbuhan Kredit Perbankan pada Oktober 2025

Pertumbuhan kredit perbankan pada bulan Oktober 2025 tercatat melambat, meskipun kinerja intermediasi perbankan menunjukkan peningkatan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa penyaluran pinjaman kepada sektor UMKM justru mengalami kontraksi, sementara sektor lainnya menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik.

Menurut data yang dirilis oleh OJK, kredit perbankan pada Oktober 2025 tumbuh sebesar 7,36 persen year-on-year (yoy), turun dari 7,70 persen pada bulan September 2025. Total kredit yang disalurkan mencapai Rp8.220,21 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa meski ada penurunan, pertumbuhan kredit masih berada di level yang stabil.

Kategori Penggunaan Kredit

Dari sisi penggunaan, kredit investasi menjadi yang paling tinggi pertumbuhannya, yaitu sebesar 15,72 persen. Disusul oleh kredit konsumsi dengan pertumbuhan 7,03 persen dan kredit modal kerja yang hanya mampu tumbuh sebesar 2,39 persen yoy.

Kategori Debitur

Dari segi debitur, kredit korporasi tercatat tumbuh sebesar 11,02 persen. Namun, kredit UMKM justru mengalami kontraksi sebesar 0,11 persen yoy. Ini menunjukkan bahwa sektor UMKM sedang menghadapi tantangan dalam mendapatkan akses kredit.

Pertumbuhan Kredit Berdasarkan Sektor

Secara sektoral, pertumbuhan kredit sebesar 7,36 persen terutama didorong oleh sektor rumah tangga dengan pertumbuhan 7,28 persen, industri pengolahan dengan 7,53 persen, serta pertambangan dan penggalian yang tumbuh sebesar 14,58 persen.

Beberapa sektor lain juga mencatat pertumbuhan kredit double digit. Contohnya adalah administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial dengan pertumbuhan 36,79 persen. Selanjutnya, pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin tumbuh sebesar 26,40 persen; aktivitas profesional, ilmiah, dan teknis 25,32 persen; serta aktivitas jasa lainnya 22,84 persen.

Dana Pihak Ketiga (DPK)

Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan yang signifikan, yaitu sebesar 11,48 persen yoy, mencapai Rp9.756,6 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah dana yang didepositokan oleh masyarakat dan pelaku usaha tetap stabil dan bahkan meningkat.

Suku Bunga Kredit

BI-Rate tercatat tetap stabil setelah mengalami penurunan sebesar 125 basis point (bps) sejak awal tahun. Penurunan bertahap suku bunga perbankan juga terjadi, yang memengaruhi tingkat suku bunga kredit.

Rerata tertimbang suku bunga kredit rupiah turun menjadi 9,01 persen pada Oktober 2025, menyusut 16 bps secara tahunan dan 5 bps secara bulanan. Penurunan yang paling tajam terjadi pada kredit modal kerja, yang turun sebesar 42 bps (yoy) dan 16 bps (mtm) menjadi 8,30 persen.

Sementara itu, suku bunga kredit investasi turun sebesar 39 bps (yoy), namun mengalami kenaikan sebesar 7 bps (mtm) menjadi 8,32 persen pada Oktober 2025, naik dari 8,71 persen pada Oktober 2024 dan 8,25 persen pada September 2025. Hal ini menunjukkan bahwa meski ada penurunan, suku bunga kredit investasi masih relatif stabil.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober 2025 menunjukkan adanya penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, namun kinerja intermediasi perbankan tetap stabil. Beberapa sektor menunjukkan pertumbuhan yang positif, sementara sektor UMKM mengalami kontraksi. Dengan stabilnya BI-Rate dan penurunan suku bunga kredit, kondisi ekonomi nasional terlihat cukup stabil.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan