Krisis Literasi Digital: Apakah Sekolah Bisa Bertahan di Tengah Banjir Informasi?

Krisis Literasi Digital: Apakah Sekolah Bisa Bertahan di Tengah Banjir Informasi?

Krisis Literasi Digital di Kalangan Pelajar Indonesia

Di era di mana informasi mengalir tanpa henti, literasi digital menjadi kemampuan dasar yang seharusnya dimiliki oleh seluruh pelajar. Namun, berbagai survei menunjukkan bahwa siswa Indonesia masih berada pada tahap yang mengkhawatirkan. Mereka mengakses internet setiap hari, tetapi kemampuan memahami, memilah, dan memverifikasi informasi masih sangat rendah. Kondisi ini memunculkan krisis literasi digital yang semakin terlihat dampaknya dalam dunia pendidikan.

Salah satu tantangan utama adalah kemampuan siswa membedakan informasi valid dan hoaks. Banyak pelajar yang terpapar konten media sosial tanpa tahu cara mengecek kredibilitas sumbernya. Akibatnya, mereka mudah percaya pada informasi berbahaya seperti teori konspirasi, manipulasi politik, dan misinformasi kesehatan. Tanpa kemampuan verifikasi, siswa hanya menjadi konsumen pasif yang tidak kritis.

Krisis literasi digital juga memperburuk kualitas belajar. Banyak siswa mencari jawaban cepat melalui internet, tetapi tidak memahami konsep secara mendalam. Ketergantungan pada aplikasi AI, ringkasan instan, dan konten pendek membuat mereka sulit fokus mempelajari materi yang lebih kompleks. Guru pun menghadapi tantangan besar, karena proses belajar yang seharusnya melatih nalar malah tergantikan oleh upaya instan yang mengabaikan proses berpikir.

Sekolah sebenarnya belum siap menghadapi perubahan digital ini. Mayoritas sekolah belum memiliki kurikulum literasi digital yang lengkap dan terstruktur. Pelajaran TIK atau informatika pun sering kali hanya berfokus pada penggunaan perangkat lunak, bukan pada kemampuan analisis informasi. Akibatnya, siswa mampu menggunakan teknologi tetapi tidak mampu mengendalikannya dengan bijak.

Peran Guru dalam Literasi Digital

Di sisi lain, kompetensi guru menjadi faktor penting. Banyak guru belum mendapat pelatihan literasi digital yang memadai. Mereka menguasai materi pelajaran, tetapi tidak selalu memahami cara mengintegrasikan literasi digital dalam pembelajaran. Di beberapa sekolah, guru bahkan masih kesulitan menggunakan perangkat teknologi dasar seperti LMS atau aplikasi produktivitas. Jika guru belum siap, bagaimana mungkin siswa bisa berkembang?

Peran orang tua pun turut menentukan. Sebagian besar orang tua memberikan akses gawai kepada anak tanpa pendampingan. Banyak yang tidak memahami risiko konsumsi digital berlebihan, mulai dari kecanduan gim hingga paparan konten negatif. Kesadaran literasi digital di rumah masih sangat rendah, sehingga pendidikan digital sering kali hanya dibebankan pada sekolah.

Solusi untuk Mengatasi Krisis Literasi Digital

Lalu, solusinya apa? Literasi digital harus dijadikan prioritas nasional dalam pendidikan. Kurikulum perlu diperbarui agar literasi digital tidak hanya menjadi pelajaran tambahan, tetapi kompetensi inti. Siswa harus diajarkan cara mencari informasi ilmiah, membaca data, mengenali manipulasi visual, memahami jejak digital, hingga mempraktikkan etika online.

Guru membutuhkan pelatihan terstruktur dan berkelanjutan. Pelatihan bukan sekadar seminar singkat, tetapi program pendampingan selama implementasi. Pemerintah dapat menggandeng platform digital, universitas, dan lembaga riset untuk memperkuat kapasitas guru di seluruh daerah.

Selain itu, sekolah harus melakukan kolaborasi dengan orang tua. Edukasi literasi digital keluarga, seminar, dan panduan penggunaan gawai perlu diberikan secara rutin. Dengan begitu, pendidikan digital dapat dilakukan secara menyeluruh.

Menyongsong Masa Depan yang Lebih Baik

Tanpa literasi digital yang kuat, siswa akan menjadi korban dari derasnya arus informasi modern. Sekolah dituntut bukan hanya mengajarkan teknologi, tetapi membentuk generasi yang mampu berpikir kritis, etis, dan bijak dalam menghadapi dunia digital yang terus berubah. Jika tidak segera dibenahi, krisis literasi digital hanya akan memperdahsyat ketimpangan kualitas pendidikan Indonesia.



Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan