Krisis Sosial Menggerogoti Angka Perkawinan di Korea Selatan

Krisis Sosial Menggerogoti Angka Perkawinan di Korea Selatan

Tren Perkawinan yang Menurun di Korea Selatan

Kementerian Data dan Statistik Korea Selatan merilis data terbaru mengenai kondisi keluarga muda di negara tersebut, yang menunjukkan angka yang kembali memicu kekhawatiran. Pada tahun 2024, jumlah pasangan pengantin baru tercatat sebanyak 952.026 pasangan, turun 2,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini merupakan kali kedua berturut-turut jumlah pengantin baru berada di bawah satu juta.

Dalam laporan ini, istilah "pengantin baru" merujuk pada pasangan yang telah menikah selama lima tahun atau kurang per 1 November 2024, dengan salah satu pihak memiliki domisili di Korea Selatan. Sejak pencatatan dimulai pada 2015, tren penurunan ini terus berlangsung tanpa henti, menandai perubahan mendasar dalam dinamika sosial negara yang dikenal dengan tekanan ekonomi dan budaya urban yang intens.

Penurunan jumlah pasangan menikah ini berkaitan erat dengan perubahan perilaku sosial, seperti penundaan pernikahan, meningkatnya pilihan hidup tanpa menikah, serta ketidakpastian ekonomi yang menghantui generasi muda. Beberapa faktor utama yang disebut oleh para analis sebagai "tembok struktural" yang menghalangi banyak pasangan untuk memasuki jenjang pernikahan antara lain adalah lonjakan harga rumah, pasar kerja yang tidak stabil, serta beban tinggi dalam memiliki dan membesarkan anak.

Dari kalangan pengantin baru yang menikah untuk pertama kali, hanya 51,2 persen yang memiliki anak pada 2024turun 1,3 poin persentase dari tahun sebelumnya. Angka ini semakin memperkuat tantangan demografis yang dihadapi Korea Selatan, negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia.

Namun, di tengah tekanan tersebut, ada satu tren yang menunjukkan pergerakan ke arah yang berbeda. Proporsi pasangan berpenghasilan ganda meningkat menjadi 59,7 persen, naik 1,5 poin persentase dari 2023. Hal ini mencerminkan bahwa semakin banyak keluarga muda menggantungkan stabilitas hidup mereka pada dua sumber pendapatan. Rata-rata pendapatan tahunan pengantin baru yang menikah untuk pertama kalinya juga naik 5 persen menjadi 76,29 juta wonsebuah peningkatan yang tampak positif, tetapi dinilai masih belum sebanding dengan biaya hidup yang kian membebani.

Di tengah semua perubahan ini, laporan ini menjadi pengingat kuat bahwa persoalan demografi Korea Selatan bukan sekadar soal angka kelahiran yang rendah, tetapi tentang struktur sosial dan ekonomi yang mempersulit generasi muda membangun keluarga. Seperti banyak negara maju lainnya, Korea Selatan kini berada di persimpangan: mempertahankan model ekonomi yang menekan atau berinvestasi besar-besaran untuk memastikan masa depan keluarga tetap mungkin bagi warganya.

Tren-tren yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa perlu adanya kebijakan yang lebih proaktif dan inovatif untuk mengatasi tantangan yang dihadapi. Diperlukan langkah-langkah yang tidak hanya fokus pada peningkatan angka kelahiran, tetapi juga pada pembentukan lingkungan yang mendukung generasi muda dalam membentuk keluarga yang stabil dan sejahtera.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan