Kritik Tajam Cinta Laura soal Banjir Sumatera, Sindir Karunia, Sawit, dan Pejabat Pencitraan

Kritik Tajam Cinta Laura terhadap Pemerintah dan Industri Kelapa Sawit

Cinta Laura, seorang aktris ternama di Indonesia, melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah dan narasi yang menyebutkan bahwa industri kelapa sawit adalah "karunia". Kritik ini muncul setelah bencana banjir dan tanah longsor yang parah melanda wilayah Sumatera. Bencana ini tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga memicu kekecewaan dari berbagai kalangan, termasuk para tokoh publik.

Salah satu suara paling lantang datang dari Cinta Laura, yang memilih untuk menyuarakan keresahannya melalui media sosial. Dalam sebuah unggahan video, ia menyoroti narasi tentang kelapa sawit sebagai karunia di tengah bencana yang sedang terjadi. Menurutnya, narasi tersebut menunjukkan kontras yang ironis antara kekayaan sumber daya alam dengan realitas penderitaan rakyat kecil.

Cinta Laura juga menyatakan kekecewaannya terhadap sikap sebagian pihak yang dianggapnya kurang memiliki kepekaan terhadap skala krisis kemanusiaan dan ekologis yang sedang terjadi. Ia bertanya-tanya apakah mereka yang hidup jauh dari realita rakyat sudah terlalu lama tidak merasakan tanah dan udara yang menjadi kenyataan sehari-hari bagi banyak orang.

"Apakah mereka yang hidup jauh dari realita rakyat sudah terlalu lama nggak ngerasain tanah dan udara yang jadi kenyataan sehari-hari bagi kita ya? Sampai-sampai saat rakyat tenggelam, yang keluar bukan empati, tapi kalimat manis tentang 'karunia sawit'," katanya dalam pernyataan yang viral.

Ia juga mempertanyakan jika kelapa sawit dianggap karunia, mengapa yang menikmati hanya segelintir orang. "Kalau komoditas seperti sawit dianggap 'karunia', kenapa yang nikmatin hanya segelintir? Siapa yang sebenarnya menang saat hutan hilang, sistem air rusak, bumi panas, dan banjir makin besar?" tanyanya.

Cinta Laura menegaskan adanya ketimpangan nyata yang secara brutal terungkap di lapangan. Menurutnya, keuntungan finansial yang masif dari industri ini hanya dinikmati oleh segelintir pemilik modal, sedangkan rakyat kecil, termasuk para pekerja lapangan, justru harus menanggung dampak buruknya.

"Pemilik modal tentu dapat margin, middleman dapat insentif. Tapi gimana dengan pekerja lapangan dan rakyat kecil lainnya? Mereka yang selalu nanggung harga termahal, menghirup asap, menerima upah minimum, dan tinggal di wilayah rawan bencana," tuturnya.

Sindiran terhadap Pejabat Pencitraan

Tidak hanya itu, Cinta Laura juga menyindir aksi pencitraan para pejabat di tengah bencana. Ia meminta para pejabat untuk meninggalkan retorika dan mulai serius dalam membuat kebijakan. Menurutnya, publik butuh kebijakan nyata yang berpihak pada kepentingan rakyat dan kelestarian lingkungan.

"Turun ke lapangan, mikul beras, salam-salaman dengan warga, semua orang bisa ngelakuin itu. Tapi nggak semua orang punya otoritas untuk bikin kebijakan publik yang bisa menghentikan kerusakan ini. Hanya yang berkuasa yang bisa, dan mereka belum ngelakuin hal krusial ini," ujarnya.

Kritik Cinta Laura ini menunjukkan pentingnya kesadaran akan dampak lingkungan dan sosial dari industri kelapa sawit. Ia menekankan bahwa kebijakan yang berkelanjutan dan adil harus menjadi prioritas, bukan sekadar retorika atau pencitraan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan