
nurulamin.pro Situasi memanas terjadi di Venezuela setelah serangkaian ledakan keras mengguncang ibu kota Caracas pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat.
Pemerintah Venezuela menuding Amerika Serikat (AS) berada di balik insiden ini, menyebutnya sebagai bentuk agresi militer yang serius.
Melansir laporan langsung dari CNN, Sabtu (3/1/2026), ledakan tersebut terdengar di beberapa titik strategis di Caracas memicu kepanikan warga di tengah malam.
Insiden ini menandai eskalasi drastis dalam hubungan kedua negara yang memang sudah tegang selama beberapa bulan terakhir.
AS serang Venezuela pada dini hari
Ledakan mulai terdengar sekitar pukul 02.00 pagi waktu setempat.
Tidak hanya suara ledakan, saksi mata juga melaporkan mendengar suara pesawat yang terbang rendah di atas langit Caracas sesaat sebelum insiden terjadi.
Sejumlah saksi mata menggambarkan suasana yang mencekam.
Carmen Hidalgo (21), seorang pekerja kantor yang diwawancarai di lokasi, mengatakan kepada awak media bahwa getaran akibat ledakan sangat kuat.
"Seluruh tanah berguncang. Ini mengerikan. Kami mendengar ledakan dan suara pesawat di kejauhan," ujar Hidalgo dikutip dari Irish Independent, Sabtu (3/1/2026).
Agresi militer AS ini disebut juga menargetkan fasilitas militer utama di Caracas.
Juru bicara pemimpin oposisi Venezuela Maria Corina Machado, David Smolansky kepada CBS News, Sabtu (3/1/2026) menyebut, beberapa lokasi fasilitas militer dan pelabuhan terkena serangan.
Lokasi pertama adalah pangkalan udara militer La Carlota yang terletak di jantung kota Caracas.
Lokasi kedua adalah Fuerte Tiuna, kompleks militer terbesar di Venezuela yang selama ini diyakini sebagai tempat tinggal Presiden Nicolas Maduro beserta keluarganya.
Lokasi ketiga adalah La Guairá Port yang merupakan salah satu Pelabuhan besar di tepi laut Karibia sekaligus pintu gerbang utama Caracas.
Keempat adalah El Volcan, puncak tertinggi di ibu kota negara tersebut.
Reaksi negara tetangga Venezuela
Presiden Kolombia, Gustavo Petro, menjadi salah satu pemimpin negara tetangga yang pertama kali merespons situasi ini. Melalui akun media sosial X (sebelumnya Twitter), Petro menyebut bahwa Caracas sedang dibombardir.
"Saat ini mereka membombardir Caracas... membombardirnya dengan rudal," tulis Petro.
Dalam laporan The Guardian, Sabtu (3/1/2026), Petro merilis daftar instalasi yang diduga menjadi target serangan. Salah satu yang paling menonjol adalah barak Cuartel de la Montaña.
Tempat ini memiliki nilai simbolis yang sangat tinggi bagi pendukung pemerintah karena merupakan lokasi mausoleum atau makam mendiang Hugo Chavez, mentor politik Nicolas Maduro sekaligus tokoh sentral gerakan Chavismo.
Merespons krisis ini, Petro menyerukan agar Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi negara-negara Amerika (OAS) segera menggelar sidang darurat untuk membahas legalitas internasional atas agresi yang terjadi terhadap Venezuela.
AS akui serang Venezuela dan Trump klaim tangkap Maduro
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan melalui akun media sosialnya Truth Social bahwa AS telah melakukan serangan militer berskala besar di Venezuela.
Trump juga menyebut bahwa Presiden Venezuela Nicolás Maduro serta istrinya, Cilia Flores, telah ditangkap dan dibawa keluar dari negara itu.
“Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan dibawa keluar dari negara ini. Operasi ini dilakukan bersama aparat penegak hukum AS,” tulis Trump di Truth Social.
Pernyataan Trump itu menjadi salah satu klaim utama terkait kejadian ini, meskipun hingga saat ini laporan independen belum dapat memverifikasi klaim tersebut secara penuh.
Di sisi lain, menurut laporan Hindustan Times, Sabtu (3/1/2026), pemerintah Venezuela menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui keberadaan Presiden Maduro dan istrinya pasca-insiden tersebut, dan menuntut bukti kehidupan dari kedua tokoh itu.
Sementara itu, situasi di ibu kota Caracas sendiri terus berkembang.
Warga setempat merekam suara ledakan, melihat pesawat terbang rendah, dan merasakan guncangan hebat ketika serangan berlangsung.
Hingga laporan ini ditulis, informasi lengkap mengenai korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan skala operasi militer belum dipastikan sepenuhnya.
Media internasional dan otoritas di wilayah terus memantau perkembangan serangan AS ke Venezuela.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar