Kualitas Layanan Keluhkan hingga Viral, RSUD Waled Butuh Perubahan Besar

Kualitas Layanan Keluhkan hingga Viral, RSUD Waled Butuh Perubahan Besar

Kritik Terhadap Pelayanan RSUD Waled di Cirebon Timur

Kualitas layanan publik kembali menjadi sorotan, khususnya di wilayah Cirebon Timur. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waled, yang merupakan rumah sakit rujukan terbesar di daerah tersebut, kini tengah menghadapi tekanan dari masyarakat setelah maraknya keluhan mengenai pelayanan medis dan etika tenaga kesehatan.

Aktivis dan pemerhati sosial Cirebon Timur, H. Dade Mustofa Efendi, menilai kondisi ini sebagai alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Cirebon agar segera melakukan reformasi secara menyeluruh. Menurut Kang Dade, selama beberapa bulan terakhir ia menerima banyak laporan mengenai buruknya pengalaman warga saat berobat di RSUD Waled. Keluhan tersebut berkisar pada dugaan penanganan medis yang kurang optimal, sikap tenaga kesehatan yang dianggap minim empati, hingga adanya perlakuan berbeda terhadap pasien BPJS.

Masyarakat Cirebon Timur sangat bergantung pada RSUD Waled sebagai fasilitas kesehatan utama. Ketika layanan tidak berjalan maksimal, dampaknya langsung mengenai kepercayaan masyarakat, ujarnya.

Saat ini RSUD Waled tengah memasuki masa pergantian kepemimpinan. Kang Dade memandang momentum tersebut sebagai kesempatan emas bagi Pemkab Cirebon untuk menata ulang sistem kerja rumah sakit. Ia menekankan bahwa pemimpin baru harus bukan hanya ahli manajemen, tetapi juga memiliki karakter humanis. Fasilitas kesehatan harus dikelola oleh figur yang mengedepankan empati dan pelayanan tanpa diskriminasi.

Ia juga mengingat pengalaman positif bekerja sama dengan pejabat RSUD Waled pada periode sebelumnya yang menurutnya mampu menjaga komunikasi dengan elemen kontrol sosial dan tetap menempatkan aspek kemanusiaan sebagai prioritas utama.

Ledakan Reaksi Publik di Media Sosial

Sentimen negatif terhadap pelayanan RSUD Waled juga memuncak di media sosial. Sebuah video yang diunggah akun Losar_info di TikTokmenampilkan foto RSUD Waled dengan caption Keluarga Pasien Kecewa!!! Laporkan humas BPJS RSUD Waled ke manajemen, kurang menghargai pasienmenjadi pemicu. Hingga Jumat (12/12/2025) belasan ribu komentar hingga like mewarnai postingan akun itu. Kolom komentar juga dipenuhi berbagai pengalaman kurang menyenangkan dari warganet.

Beberapa komentar paling menonjol antara lain: - Fadila Selviyana: Kalau ke sini tuh kaya nyerahin nyawa ke malaikat. - Dwi Handayani: Rumah sakit serem klo kepengurusan BPJS sulit dan dibebelit&. - Tina Ismaya: Rumah sakit terburuk di dunia. - Riisty97: Selalu kecewa sama pelayanan IGD& apa fungsinya BPJS?

Salah satu komentar paling emosional datang dari akun sempakteles, yang mengaku neneknya tidak mendapatkan bantuan kursi roda dan tidak ditangani dokter selama berjam-jam. Komentarnya bahkan menyebut adanya ucapan tidak pantas dari perawat kepada pihak keluarga.

Warganet lain turut menambahkan keluhan: - Basten: Rumah sakit paling jelek pelayanannya dari jaman purba. - Plat E: Rumah sakit paling sadis dan judes, fakta no bantah. - Titik: Temenku kecelakaan nggak ditangani, dibiarkan begitu saja.

Ada pula komentar yang menuduh adanya praktik pelayanan tidak setara. Akun Nuni W N menulis bahwa anaknya dalam kondisi kejang-kejang diminta menggunakan jalur umum meskipun memiliki BPJS. Sebagian warganet membandingkan RSUD Waled dengan RS lain yang dianggap lebih ramah. Akun Liya ceLLysta mengaku memilih RS Ciremai meski jaraknya lebih jauh karena kualitas pelayanan dinilai lebih baik.

Keluhan serupa juga diungkap akun taofikhidayatsahman03: Saya yang tinggal di sekitar situ saja males masuk situ, rumah sakit terburuk se-Indonesia. Beberapa akun bahkan mendorong agar kasus ini diviralkan agar sampai ke tingkat Gubernur dan Menteri Kesehatan.

Meski begitu, tidak semua komentar bernada negatif. Akun dd_dindut mengaku selalu mendapatkan pelayanan baik saat menjalani transfusi rutin di RSUD Waled. Namun komentar lain seperti akun Riyanti kembali menyoroti dugaan pelayanan berbeda bagi orang dalam.

Publik Menuntut Perubahan Nyata

Bagi Kang Dade, gelombang kritik ini menunjukkan bahwa perbaikan RSUD Waled bukan hanya kebutuhan internal, tetapi tuntutan seluruh masyarakat Cirebon Timur. Rumah sakit adalah tempat masyarakat datang pada saat paling rentan. Profesionalisme dan empati adalah dua hal yang tidak bisa ditawar, tegasnya.

Ia berharap Direktur baru yang ditunjuk mampu mengembalikan kualitas pelayanan dan kepercayaan masyarakat, sekaligus memastikan bahwa seluruh pasien, baik umum maupun BPJS, mendapatkan layanan yang setara.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan