
PARA pemimpin Kuba dan Kolombia mengutuk serangan di Venezuela pada Sabtu 3 Januari 2026 yang dilaporkan sebagai serangan militer Amerika Serikat.
"Kuba mengecam dan menuntut reaksi mendesak dari komunitas internasional terhadap serangan kriminal AS terhadap Venezuela," kata Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel di media sosial AS X seperti dilaporkan Anadolu.
Ia mengatakan kawasan tersebut sedang “diserang secara brutal” dan menyebutnya sebagai “terorisme negara terhadap rakyat Venezuela yang berani dan terhadap Amerika Kita.”
Sementara itu, Presiden Kolombia Gustavo Petro juga menyatakan keprihatinan atas laporan ledakan dan aktivitas udara yang tidak biasa di Venezuela dan peningkatan ketegangan yang diakibatkannya.
Ia menolak segala bentuk tindakan militer sepihak yang berpotensi memperburuk situasi atau membahayakan penduduk sipil.
Dalam laporan Al Jazeera, Petro memposting daftar lokasi yang menurutnya dibombardir pada Sabtu dini hari di Venezuela.
Dalam sebuah unggahan di X sebelumnya, Petro membagikan klaim berikut, yang belum diverifikasi secara independen:
-Pangkalan udara La Carlota dinonaktifkan dan dibom.
-Cuartel de la Montaña di Catia dinonaktifkan dan dibom.
-Istana Legislatif Federal di Caracas dibom.
-Fuerte Tiuna, kompleks militer utama Venezuela, dibom.
-Sebuah bandara di El Hatillo diserang.
-Pangkalan F-16 No. 3 di Barquisimeto dibom.
-Sebuah bandara swasta di Charallave, dekat Caracas, dibom dan dinonaktifkan.
-Sebuah rencana pertahanan diaktifkan di Miraflores, istana presiden di Caracas.
-Sebagian besar wilayah Caracas, termasuk Santa Mónica, Fuerte Tiuna, Los Teques, 23 de Enero dan daerah selatan ibu kota, mengalami pemadaman listrik.
-Serangan dilaporkan terjadi di pusat Caracas.
-Pangkalan helikopter militer di Higuerote dinonaktifkan dan dibom.
Tidak ada konfirmasi langsung dari pihak berwenang Venezuela. Namun, Venezuela menuduh Amerika Serikat menyerang lokasi sipil dan militer di Caracas serta kota-kota lain.
Mengutip pejabat AS, Fox News melaporkan bahwa militer Amerika Serikat menyerang Venezuela, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Washington terkait serangan tersebut.
Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil mengatakan negara itu "menolak, mengutuk, dan mengecam ... agresi militer yang sangat serius."
Presiden Nicolas Maduro menandatangani dan memerintahkan pelaksanaan dekrit yang menetapkan Keadaan Gangguan Eksternal di seluruh wilayah nasional menyusul serangan tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian mengatakan pada Sabtu 3 Januari 2026 bahwa Washington "berhasil" melakukan "serangan skala besar" terhadap Venezuela. Ia bahkan mengklaim bahwa Presiden Nicolas Maduro dan istrinya telah diculik dan dibawa keluar dari negara tersebut.
"Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang telah ditangkap bersama istrinya dan diterbangkan keluar dari negara tersebut," kata Trump di platform Truth Social miliknya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar