
Sejarah dan Kiprah Kuburan Band
Kuburan Band, yang awalnya dikenal lewat gimik riasan wajah putih dan lirik-lirik jenaka yang mengundang tawa, tiba-tiba menjadi pusat diskusi panas di jagat maya setelah melontarkan respons satir yang tak terduga terhadap karya terbaru Slank, "Republik Fufufafa". Di tengah polarisasi pendengar musik tanah air, grup asal Bandung ini seolah menanggalkan sejenak topeng komedi mereka demi menunjukkan taring kritisnya, membuktikan bahwa di balik label "Metal Hidrolik" yang absurd, tersimpan nalar tajam yang berani mengusik zona nyaman band legendaris yang selama ini menjadi kiblat musik perlawanan.
Di peta musik Indonesia, jarang ada band yang mampu bertahan di garis tipis antara komedi satir dan musikalitas serius sesolid Kuburan Band. Sejak memoleskan riasan wajah putih pertama mereka pada 11 September 2001, group asal Bandung ini tidak hanya sekadar bermain musik, mereka menciptakan sebuah entitas pertunjukan yang mereka sebut sendiri sebagai "Metal Hidrolik".
Tameng Riasan di Balik Privasi
Memasuki dekade ketiga karier mereka, misteri tetap menjadi komoditas utama. Keputusan untuk tetap menggunakan corpse paint ala Black Metal yang dipadukan dengan kostum eksentrik bukan tanpa alasan. Bagi Resa (Vokal), Raka (Gitar), Aum (Gitar), Denny (Bass), Udhe (Keyboard), dan Surya (Drum), riasan adalah "paspor" untuk tetap bisa hidup normal. Di atas panggung mereka adalah ikon yang liar, namun di bawah panggung, mereka adalah warga Bandung biasa yang bebas menikmati kopi di pinggir jalan tanpa gangguan kilatan kamera. Sebuah prinsip yang dirangkum dalam motto ikonik: "Jauhi Narkoba Utamakan Keluarga, Budayakan Bersedekah Minimal Donor Darah, Brutal tapi Takwa."
Satir Tajam: Dari "Slankers" Hingga Sentilan "Republik Fufufafa"
Nama Kuburan meledak secara nasional lewat lagu "Lupa-lupa Tapi Ingat". Namun, kedalaman lirik mereka melampaui sekadar rima jenaka. Kuburan dikenal sebagai pengamat sosial yang tajam, terutama dalam memperhatikan dinamika sesama musisi. Salah satu momen menarik adalah ketika mereka merilis lagu "Bukan Sekedar Penggemar". Lagu ini merupakan kritik sekaligus penghormatan kepada band legendaris Slank, yang menyentil perilaku fanatisme berlebihan para penggemar di lapangan.
Menariknya, di awal tahun 2026 ini, di tengah riuhnya perilisan lagu terbaru Slank yang berjudul "Republik Fufufafa", sebuah lagu yang penuh kritik keras terhadap kondisi bangsa, Kuburan Band kembali memberikan respons kreatifnya. Walaupun lagu kritik terhadap Slank tersebut masih menuai pro kontra antara karya orisinil atau AI, tapi lirik memberikan "cermin balik" bagi Slank. Mereka menyoroti bagaimana band-band besar yang dulu menjadi simbol perlawanan kini harus kembali "berteriak" lewat metafora Fufufafa untuk menemukan jati dirinya kembali. Bagi Kuburan, kritik sosial tak harus selalu disampaikan dengan urat leher yang tegang, melainkan bisa lewat tawa yang getir.
Denyut Nadi Bobotoh: Menjadi Suara Stadion
Bicara tentang Kuburan Band tidak akan lengkap tanpa membahas keterikatan mereka dengan Persib Bandung. Mereka melahirkan "We Will Stay Behind You" (WWSBY), sebuah anthem yang kini dianggap sakral oleh para Bobotoh. Ditulis oleh sang bassist, Denny Rahmat, lagu ini bertransformasi menjadi janji setia yang menggema di seluruh tribun stadion. Bahkan di medio 2025, mereka memperkuat legasi ini dengan merilis versi Kids Choir (Paduan Suara Anak) untuk merayakan keberhasilan Persib yang meraih juara secara beruntun (back-to-back). Ini membuktikan bahwa di balik riasan seram mereka, ada rasa cinta yang mendalam terhadap tanah kelahiran.
Eksistensi yang Tak Pernah Mati
Meski sempat bereksperimen dengan nama The KUBS pada 2011, mereka akhirnya kembali ke akar nama "Kuburan" karena kekuatan emosional penggemar yang terlalu kuat. Hingga tahun 2026, dengan single terbaru seperti "Si Manis", Kuburan Band membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal batas usia maupun tren. Kuburan Band mengajarkan kita bahwa untuk tetap relevan, sebuah grup musik tidak harus selalu tampil serius. Dengan menertawakan absurditas dunia termasuk dinamika politik dan musik di sekitar kita. Mereka berhasil membuktikan bahwa di balik riasan wajah yang "seram", detak jantung musikalitas mereka justru paling hangat dan jujur.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar