
Kesuksesan Nvidia yang Didorong oleh Kepedulian terhadap Komputasi
Nvidia berhasil mendominasi industri kecerdasan buatan (AI) dengan bermodalkan keyakinan dan keberanian. Mereka memiliki perspektif bahwa komputasi harus dipercepat, dan GPU akan menjadi media ekspresi penting. Perspektif ini membuat Nvidia adaptif, tidak terpaku pada pasar gaming, dan berani mengejar peluang komputasi paralel meski belum ada pasarnya.
Salah satu keputusan paling besar adalah membunuh produk utama mereka sendiri dan mengubah GPU menjadi programmable, yang melahirkan CUDA pada 2006. Langkah yang awalnya diragukan investor ini justru menjadi tulang punggung perkembangan AI modern. Tanpa keputusan berani tersebut, GPU Nvidia tidak akan menjadi standar perangkat keras yang penting bagi industri AI.
Perusahaan AI Global dan Dominasi Nvidia
Setiap perusahaan AI global boleh bersaing menghadirkan platform tercanggih. Namun, Nvidia tetap bertengger di balik mereka. Nvidia sukses mendominasi industri AI lewat chip buatannya. Perusahaan-perusahaan AI membutuhkan pusat data yang dilengkapi dengan ribuan hingga jutaan chip atau Graphic Processing Unit (GPU), untuk mengembangkan dan mengolah platform kecerdasan buatan mereka sehingga bisa digunakan dalam skala besar.
Pusat data AI itu kini rata-rata menggunakan GPU dari Nvidia. Dengan dominasinya saat ini, Nvidia tampak seperti perusahaan yang memiliki prediksi kuat dan telah mempersiapkan jauh-jauh hari bahwa teknologi AI akan menjadi kebutuhan utama di era sekarang.
Visi yang Tidak Jelas, Hanya Perspektif
Namun, jika menelisik pernyataan-pernyataan CEO Nvidia Jensen Huang, salah satu hal yang menarik adalah perusahaan ini nyatanya tidak dibangun dengan visi atau prediksi kuat tentang AI. Modal nekat menjajaki AI menjadi ciri khas dari kesuksesan mereka.
Dari pernyataan-pernyataan Huang, Nvidia lebih cocok digambarkan sebagai perusahaan yang bermodalkan nekat. Pada 2024, Huang menyebut jika kesuksesan Nvidia saat ini tidak dibangun dengan prediksi yang kuat tentang AI. Dalam sebuah wawancara bersama CNBC, Huang menyampaikan bahwa kesuksesan yang mereka peroleh dari perkembangan industri AI adalah sebuah kombinasi dari keberuntungan dan keterampilan.
"Kami hanya percaya bahwa suatu saat sesuatu yang baru bakal muncul dan sisanya membutuhkan beberapa keberuntungan. Ini bukan prediksi. Prediksinya adalah komputasi yang semakin cepat," kata Huang.
Keyakinan yang Adaptif
Lebih dari satu dekade lalu, tepatnya pada 2011, pemimpin perusahaan yang berlokasi Silicon Valley itu pernah mengungkapkan bahwa Nvidia cenderung dibangun atas dasar keyakinan yang adaptif, alih-alih visi gemilang. Ungkapan tersebut muncul di sebuah video YouTube tertanggal 24 Juni 2011 yang menampilkan Huang sedang mengisi kuliah umum di Universitas Stanford.
Di video tersebut, Huang mengaku tidak memiliki visi. Sikap ini cukup bertolak belakang dengan pemimpin-pemimpin perusahaan teknologi kala itu yang kerap melantangkan visi-visi gemilang untuk mengubah dunia. "Visi itu kata yang terlalu berat. Kata itu menyiratkan bahwa Anda tahu persis apa yang akan terjadi di masa depan, bahwa Anda punya bola kristal," ujarnya di hadapan mahasiswa Stanford saat itu.
Alih-alih visi, Jensen menawarkan konsep yang lebih sederhana, perspektif. "Kami tidak punya visi. Kami punya perspektif bahwa grafis komputer akan menjadi media ekspresi paling penting," katanya. Perbedaan ini krusial. Visi membuat perusahaan kaku, sementara perspektif membuat mereka adaptif. Karena perspektif inilah, Nvidia tidak terjebak hanya melayani pasar gaming.
Keberanian Mengambil Risiko
Tidak hanya keyakinan, kenekatan Nvidia dalam menghadapi masa depan juga dapat dilihat dari keberanian mereka untuk mengambil risiko. Dalam video itu, Jensen membahas salah satu keputusan paling berani dalam Nvidia, yaitu membunuh produk utama mereka sendiri. Pada 2011, Nvidia sudah menjadi raja fixed-function graphics (grafis dengan fungsi tetap). Namun, Jensen menyadari jalan buntu. Jika mereka terus di sana, Nvidia akan mati.
"Jika Anda tidak memakan (produk) Anda sendiri, orang lain yang akan melakukannya," tegas Jensen dalam video tersebut. Ia menceritakan keputusan pentingnya mengubah arsitektur GPU menjadi programmable. Keputusan ini melahirkan CUDA pada tahun 2006, bahasa pemrograman yang memungkinkan GPU dipakai untuk hal selain pemrosesan grafis.
Investasi Nvidia di CUDA saat itu dianggap membebani keuntungan perusahaan. Wall Street skeptis. "Buat apa bikin chip grafis yang bisa diprogram? Orang cuma mau main game Crysis!" mungkin begitu pikir investor kala itu. Namun, keberanian Nvidia mengambil risiko di masa lampau menjadi berkah di masa sekarang.
Kegagalan dan Ketangguhan
Saat ini, Nvidia berhasil menguasai sekitar 90 persen pangsa pasar chip AI, sebagaimana dilansir Yahoo Finance. GPU Nvidia telah melayani perusahaan AI raksasa seperti Google, Amazon, Microsoft, Meta, dan OpenAI. Nvidia punya beragam seri GPU untuk melayani kebutuhan pengembangan dan pengolahan AI di pusat data, terutama seri GPU H100 dan Blackwell yang laris manis di pasaran.
Awal November kemarin, CEO Nvidia Jensen Huang menyampaikan bahwa perusahaan mendapat pesanan senilai 500 miliar dollar AS (sekitar Rp 8.000 triliun) untuk GPU Blackwell generasi saat ini dan GPU terbaru Nvidia Rubin yang akan dirilis tahun depan. Dominasi Nvidia di industri AI berkat chip buatannya sukses mengantarkannya menjadi perusahaan paling prestisius saat ini. Valuasi pasar Nvidia per 9 Desember ini mencapai 4.517 triliun dollar AS (sekitar Rp 75.000 triliun).
Nilai kapitalisasi pasar Nvidia itu jadi yang paling tinggi saat ini secara global, mengungguli berbagai perusahaan teknologi raksasa lainnya, seperti Apple, Google, Amazon, Microsoft, Amazon, dan Meta. Pendapatan Nvidia juga terus melesat. Dalam laporan keuangan kuartal III tahun fiskal Nvidia 2026 yang berakhir pada Oktober 2025, Nvidia melaporkan pendapatannya naik 62 persen (year-on-year/YoY) menjadi 57 miliar dollar AS (sekitar Rp 949 triliun).
Nilai tersebut dihimpun Nvidia berkat permintaan chip AI yang solid. Bahkan, pendapatan dari divisi data center yang mencakup chip AI Nvidia, naik 66 persen YoY. Dari total 57 miliar dollar AS tadi, segmen data center berkontribusi atas pendapatan 51,2 miliar dollar AS (sekitar Rp 852 triliun), naik dari 30,8 miliar dollar AS (sekitar Rp 512 triliun) pada kuartal yang sama tahun fiskal sebelumnya (YoY).
Semua capaian tersebut tidak didapatkan dengan mudah. Dalam video pada 2011 itu, Huang banyak menjelaskan Nvidia sangat lekat dengan kegagalan. Ia menceritakan masa-masa awal Nvidia, saat produk pertama mereka yang dirilis pada 1995, NV1, gagal total karena bersikeras menggunakan teknologi Quadratic Texture Mapping (alih-alih Polygons yang kemudian jadi standar industri).
"Kami kehabisan uang. Kami punya cukup uang untuk 30 hari operasional," kenangnya. Penyelamatnya? Sebuah keputusan nekat untuk membuang hampir semua ego, beralih ke standar industri, dan mengebut pengerjaan produk RIVA 128 (NV3) dalam waktu 6 bulan.
"Definisi startup adalah entitas yang selalu dalam kondisi hampir bangkrut," ujar Jensen. Mentalitas ini, yang ia sebut sebagai "Intellectual Honesty" (kejujuran intelektual untuk mengakui kesalahan dengan cepat), rupanya terus dibawa hingga Nvidia menjadi raksasa. Bahkan saat ini, di puncak kejayaan AI, Jensen sering berkata dalam wawancara terbaru bahwa ia masih bangun tidur dengan perasaan "cemas" bahwa perusahaannya bisa hancur.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar