
Bali.pikiran-rakyat.com- Di balik foto-foto estetik yang wara-wiri di media sosial, Subak Piak di Tabanan menyimpan kekuatan tradisi yang telah bertahan selama ratusan tahun.
Banyak orang datang ke destinasi wisata Tabanan Bali ini hanya untuk mengejar sunrise, namun sedikit yang menyadari bahwa mereka sedang berdiri di atas salah satu ekosistem pertanian paling terorganisir di Pulau Dewata.
Subak Piak bukan hanya tentang pemandangan, ia adalah bukti hidup bagaimana kearifan lokal mampu menjaga alam tetap lestari di tengah gempuran modernisasi.
Terletak di Desa Wong Aya Gede, Kecamatan Penebel, Subak ini dikelola secara gotong royong oleh 335 orang krama subak di bawah komando seorang Pekaseh, I Nengah Suika. Luas areanya yang mencapai 136 hektar terbagi ke dalam enam tempekan, mulai dari Tempek Riak I hingga Tempek Riang VI.
Keasrian udaranya pun bukan tanpa alasan; batas utara wilayah ini adalah hutan lindung yang bertindak sebagai paru-paru sekaligus pengatur iklim mikro lokal, membuat siapa pun yang datang merasa paru-parunya terisi oleh kesegaran yang tulus.
Ketahanan pangan di sini sangat terjaga berkat pasokan air yang melimpah dari tiga sungai suci: Sungai Yeh Mada, Yeh Dino, dan Yeh Telangis. Dengan pola tanam Padi-Padi dua kali setahun, para petani di sini konsisten menggunakan varietas lokal yang menghasilkan produktivitas gabah kering rata-rata 4 ton per hektar.
Menariknya, sistem pembagian air di sini masih sangat menjunjung tinggi keadilan melalui sistem ayahan dan proporsionalitas luas lahan yang diatur dalam Awig-Awig tahun 2016.
Jadi, saat Anda berkunjung untuk menikmati ketenangan jiwa, ingatlah bahwa Anda sedang bertamu ke sebuah rumah besar yang menjaga kedaulatan pangan Bali dengan cinta dan tradisi yang tak luntur dimakan zaman. ***
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar