
Ledakan di Masjid Homs Tewaskan Delapan Orang
Pada hari Jumat (26/12/2025), sebuah ledakan besar terjadi di sebuah masjid di wilayah Homs, Suriah. Ledakan tersebut menewaskan setidaknya delapan orang dan melukai 18 orang lainnya saat para jemaah sedang menjalani shalat Jumat. Insiden ini memicu kekacauan dan rasa takut di kalangan warga setempat.
Masjid yang menjadi tempat kejadian tersebut berada di lingkungan Wadi al-Dhahab, yang sebagian besar penduduknya merupakan anggota komunitas Alawite. Serangan ini merupakan bagian dari serangkaian serangan terhadap komunitas Alawite dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, ini juga menjadi ledakan kedua di tempat ibadah sejak pemerintahan baru berkuasa setahun lalu.
Kelompok Ekstremis Mengaku Bertanggung Jawab
Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di aplikasi Telegram, kelompok ekstremis bernama Saraya Ansar al-Sunna mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka menyatakan bekerja sama dengan kelompok lain yang tidak dikenal dan menggunakan bahan peledak yang ditempatkan di dalam Masjid Imam Ali bin Abi Thalib.
Meski identitas dan afiliasi kelompok ini masih kabur, mereka telah terkenal sejak Juni ketika mengklaim bertanggung jawab atas pengeboman gereja di Damaskus yang menewaskan banyak korban. Kelompok ini dibentuk setelah penggulingan mantan pemimpin Bashar Al-Assad tahun lalu. Sementara itu, Bashar Al-Assad sendiri diketahui adalah seorang anggota komunitas Alawite.
Kesaksian Korban
Salah satu korban, Usama Ibrahim (47), yang sedang dirawat di rumah sakit karena luka parah akibat pecahan peluru di kepala dan punggungnya, menceritakan pengalamannya. Ia mengatakan bahwa ia sedang melaksanakan shalat Jumat ketika mendengar ledakan keras. "Dunia berubah menjadi merah dan saya jatuh ke tanah. Kemudian saya melihat darah mengalir dari kepala saya," ujarnya.
Sementara itu, Ghadi Maarouf (38), seorang penjual buku yang terluka, menjelaskan bahwa ledakan terjadi sesaat sebelum imam akan naik ke mimbar untuk menyampaikan khotbah. "Itu ledakan yang sangat besar dan saya melihat pecahan peluru beterbangan di sekitar saya," katanya. Kakinya terluka akibat ledakan tersebut.
Pemerintah Berjanji Menindak Pelaku
Kementerian Luar Negeri Suriah mengecam tindakan teror tersebut. Dalam pernyataannya, mereka menyatakan bahwa aksi ini dilakukan dalam konteks upaya putus asa untuk merusak keamanan dan stabilitas serta menyebarkan kekacauan di antara rakyat Suriah. Pihak pemerintah berjanji untuk menyelidiki dan mengumpulkan bukti untuk mengejar pelaku tindakan kriminal ini.
Beberapa negara seperti Arab Saudi, Lebanon, Turki, dan Yordania juga menyampaikan kecaman terhadap serangan tersebut. Perancis menggambarkan ledakan ini sebagai tindakan terorisme yang dirancang untuk menggoyahkan stabilitas negara. Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga mengecam serangan tersebut dan menuntut agar pelaku dibawa ke pengadilan.
Kekacauan Pasca-Kekuasaan Baru
Sejak jatuhnya Bashar Al-Assad, Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah dan penduduk provinsi Homs telah melaporkan penculikan dan pembunuhan yang menargetkan anggota komunitas minoritas. Situasi ini menunjukkan bahwa konflik di Suriah belum sepenuhnya reda dan masih menimbulkan ancaman bagi masyarakat sipil.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar