Lentera di Sumatera, Buddha Tzu Chi tunaikan janji bangun 2.500 huntap penyintas bencana

JAKARTA, nurulamin.proDi hamparan tanah Sumatera yang kini masih menyisakan rona duka, aroma lumpur yang mengering di dinding-dinding kayu seolah menjadi saksi bisu atas amuk alam yang tak terperikan.

Akhir November 2025 menjadi titimangsa kelam saat langit menitahkan hujan tanpa jeda, meluapkan sungai-sungai, dan meruntuhkan tebing-tebing kokoh di Aceh, Sumatera Barat, hingga Sumatera Utara.

Namun, di tengah isak tangis yang belum mereda, hadir sebuah oase yang menjunjung tinggi martabat manusia, melampaui sekat-sekat perbedaan: Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Melalui sebuah visi yang mereka sebut sebagai "Rumah Cinta Kasih", yayasan ini tidak sekadar membangun dinding dan atap, melainkan sedang merajut kembali martabat para penyintas yang tercerabut oleh bencana.

Gema di Tanah Sibolga

Minggu, 21 Desember 2025, menjadi hari yang istimewa di Desa Aek Parombunan, Sibolga Selatan.

Di bawah langit Sumatera Utara yang mulai cerah, gempita doa melangit saat prosesi groundbreaking Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi dilaksanakan.

Di atas lahan seluas 80 meter persegi untuk setiap unitnya, akan berdiri 200 rumah tipe 36 yang menjadi bagian dari janji suci Tzu Chi untuk Sumatera.

Hadirnya para pejabat seperti Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, menjadi validasi atas urgensi gerakan ini.

"Penyediaan rumah yang layak harus dilakukan secara cepat. Kita berterima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang hadir dengan sigap dalam situasi darurat maupun pemulihan," tutur Maruarar, akrab disapa Ara, dikutip nurulamin.pro, Selasa (30/12/2025).

Namun, esensi sejati dari pembangunan ini bukan sekadar beton dan baja. Seperti yang diungkapkan oleh Mendagri Tito Karnavian, proyek ini mengusung model relokasi strategis.

Membangun kembali di tempat asal yang rawan longsor adalah sebuah kesia-siaan, sementara merelokasi mereka ke tempat yang aman adalah sebuah kebijaksanaan.

Sebelum Beduk Idul Fitri Bertalu

Di balik orkestrasi besar ini, ada sebuah nurani yang menggerakkan. Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei, dengan diksi yang lembut namun penuh ketegasan, mengungkapkan arah kompas yayasannya.

Dalam penanganan bencana, Tzu Chi selalu menjalankan program jangka pendek, menengah, dan panjang.

Kali ini, mereka berharap dapat membangun Rumah Cinta Kasih di Aceh, Sumatera Barat, dan Utara. Ini merupakan tekad bersama, agar para warga dapat segera kembali memiliki tempat tinggal dan menata kehidupan mereka.

"Selain itu, dalam beberapa bulan ke depan umat Muslim di Indonesia akan menyambut Hari Raya Idul Fitri. Kami berharap sebelum itu para korban bencana dapat segera hidup dengan lebih tenang dan stabil," ungkap Liu Su Mei.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Ada empati mendalam yang melintasi batas iman. Tzu Chi memahami bahwa Idul Fitri adalah simbol kemenangan dan kebahagiaan, dan alangkah pedihnya jika hari kemenangan itu dirayakan di bawah tenda terpal yang pengap.

Membangun 2.500 unit hunian tetap (huntap), dengan rincian 1.000 unit di Aceh, 500 unit di Sumatera Barat, dan 1.000 unit di Sumatera Utara, adalah perlombaan dengan waktu demi mengembalikan senyum di wajah para penyintas.

Menenteramkan Raga, Hati, dan Hidup

Tzu Chi tidak bergerak dengan gegabah. Mereka memiliki pakem yang matang dalam menangani bencana, sebuah "Trilogi Kemanusiaan" yang telah teruji sejak tsunami Aceh 2004 dan gempa Palu 2018.

Menenteramkan Raga (Tahap Darurat):

Sejak 28 November 2025, saat air bah masih menggenang, relawan Tzu Chi dari komunitas Medan hingga Tebing Tinggi telah berjibaku.

Mereka mendistribusikan beras, air mineral, hingga makanan hangat. Hingga 14 Desember, bantuan telah menjangkau 47.845 jiwa melalui 79 titik lokasi.

Jalur darat yang terputus ditembus melalui udara dan laut, membuktikan bahwa cinta kasih tak mengenal rintangan.

Menenteramkan Hati (Tahap Pemulihan):

Luka fisik mungkin mengering, namun trauma batin seringkali menetap. Melalui Tzu Chi International Medical Association (TIMA), bakti sosial kesehatan digelar.

Para dokter dan perawat relawan tidak hanya mengobati infeksi kulit akibat banjir, tetapi juga memberikan sentuhan afeksi yang menenangkan batin.

Pembersihan fasilitas umum pascabanjir dilakukan bahu-membahu, memberikan pesan bahwa mereka tidak sendirian.

Memulihkan Kehidupan (Tahap Jangka Panjang):

Puncaknya adalah pembangunan 2.500 unit Huntap ini. Inilah titik di mana keberlanjutan hidup dijamin.

Dengan dukungan dari Pengusaha Peduli NKRI, Tzu Chi memastikan setiap rumah dilengkapi dengan fasilitas umum yang mendukung ekosistem sosial yang sehat.

Bagi relawan Tzu Chi, setiap bata yang dipasang adalah sebuah doa. Setiap semen yang diaduk adalah sebuah harapan.

Mereka tidak hanya memberikan "ikan", tapi juga "kolam" dan "identitas" baru bagi warga Tapanuli Utara yang rumahnya hanyut diterjang banjir bandang.

Di Desa Aek Parombunan, pembangunan ini menjadi mercusuar bagi daerah lain. Bahwa kedermawanan tidak perlu menunggu waktu luang, dan bantuan tidak perlu melihat perbedaan latar belakang.

Kini, Sumatera tengah bersolek kembali. Di lokasi-lokasi pembangunan Huntap, suara palu bertalu-talu seolah menjadi musik yang menjanjikan masa depan.

Yayasan Buddha Tzu Chi telah membuktikan bahwa di tengah kegelapan bencana, lentera kemanusiaan akan selalu menyala selama masih ada tangan-tangan yang bersedia mengulur.

Kita menanti datangnya Idul Fitri 2026 dengan harapan besar; melihat anak-anak penyintas tertawa di teras rumah baru mereka, mengenakan pakaian bersih, dan merayakan kehidupan yang telah dipulihkan.

Inilah arah dan tujuan sejati dari peradaban manusia, saling menjaga saat badai menerjang, dan saling memeluk saat fajar menyingsing.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan