
Kondisi Rawan Penipuan Saat Libur Akhir Tahun
Libur akhir tahun sering kali menjadi waktu yang penuh dengan kesempatan bagi para penipu untuk menjalankan aksi mereka. Dalam periode Natal dan Tahun Baru, kondisi ini menjadi ideal bagi para pelaku penipuan, terutama dalam transaksi online. Berdasarkan temuan dari perusahaan penyelenggara Sertifikat Elektronik (PSrE) yang berlisensi dan tersertifikasi, VIDA, kelemahan dalam sistem keamanan digital menjadi salah satu faktor utama.
Salah satu kelemahan tersebut adalah OTP (One-Time Password) atau kode unik yang hanya bisa digunakan sekali untuk verifikasi identitas saat login atau bertransaksi online. Data VIDA menunjukkan bahwa 80 persen pembobolan akun terjadi karena kerentanan OTP berbasis SMS atau teknik phishing. Teknologi yang seharusnya menjadi alat keamanan justru menjadi celah terbesar bagi para penipu.
Selain itu, modus penipuan baru pada tahun 2025 yaitu AI Deepfake juga ditemukan melonjak hingga 1.550 persen di Indonesia. Penipu kini menggunakan teknologi AI Voice Cloning untuk meniru suara keluarga, atasan, atau pejabat dan meminta transfer dana dengan suara yang 99 persen mirip aslinya. Hal ini meningkatkan risiko penipuan yang semakin sulit dideteksi.
Laporan Penipuan yang Mengkhawatirkan
Data Indonesia Anti-Scam Center (IASC) mencatat 373.129 laporan penipuan sejak November 2024 hingga 30 November 2025—rata-rata 874 laporan setiap hari. Dari 619.394 rekening yang dilaporkan terkait penipuan, hanya 117.301 rekening yang berhasil diblokir.
"Identitas digital adalah gerbang utama keamanan finansial kita. Dengan rata-rata 874 laporan penipuan setiap hari, kita tidak bisa lagi mengandalkan metode pengamanan tradisional yang mudah dibobol seperti OTP berbasis SMS," ujar Founder & Group CEO VIDA, Niki Luhur dalam siaran pers yang diterima nurulamin.pro, Jumat (26/12/2025).
Modus Penipuan Terbesar Menurut OJK
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tiga modus penipuan terbesar yaitu fake call/telepon palsu (39.978 laporan, kerugian Rp1,54 triliun), shopping scam (64.933 laporan, kerugian Rp1,14 triliun), dan Investment scam bodong (24.803 laporan, kerugian Rp1,40 triliun).
Di sisi lain, masyarakat Indonesia rata-rata baru melaporkan penipuan setelah 12 jam, jauh lebih lambat dari negara lain (15-20 menit). Keterlambatan ini membuat hanya 4,76 persen dana korban yang bisa diselamatkan karena jejak digital dan dana sudah berpindah tangan.
Peringatan dari Otoritas dan Tips Mencegah Penipuan
Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sebelumnya juga telah mengingatkan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap modus penipuan yang menyasar identitas digital pengguna.
Indonesia sendiri diproyeksikan membelanjakan Rp120 triliun untuk kebutuhan liburan.
Tips Hindari Penipuan Selama Liburan
Sebagai perusahaan penyedia identitas digital dan pencegahan penipuan di Indonesia, VIDA membagikan tips agar keamanan digital pengguna tetap terjaga selama periode libur akhir tahun. Berikut tipsnya:
- Hindari Wi-Fi Publik untuk Transaksi: Jaringan publik rentan penyadapan; jangan gunakan untuk perbankan.
- Verifikasi Permintaan Darurat: Hubungi kembali melalui nomor kontak yang sudah dikenal, jangan percaya suara familiar ditelepon.
- Waspada Tekanan 'Urgency': Verifikasi melalui kanal resmi jika ada desakan waktu ("akun akan diblokir", "promo terbatas").
- Cek Detail Transfer: Pastikan nama penerima dan nominal benar sebelum memproses.
- Gunakan Biometrik, Bukan OTP: Beralih dari OTP SMS ke autentikasi biometrik yang lebih aman dan tahan terhadap upaya penipuan deepfake.
Selain momen liburan, VIDA juga mengimbau masyarakat dan pelaku industri untuk selalu waspada terhadap serangan siber yang dapat terjadi kapan pun dan di mana pun, serta memperkuat infrastruktur keamanan demi menjaga pengalaman digital masyarakat yang aman, nyaman, dan terpercaya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar