Libur Nataru 2026, Penjualan Oleh-Oleh di Kuningan Turun 20 Persen

Libur Nataru 2026, Penjualan Oleh-Oleh di Kuningan Turun 20 Persen

Penurunan Omzet Pedagang Oleh-Oleh di Kuningan Selama Libur Nataru 2026

Musim liburan Natal dan Tahun Baru 2026 ternyata tidak memberikan dampak positif bagi para pedagang oleh-oleh di Kabupaten Kuningan. Banyak dari mereka mengeluhkan penurunan pendapatan yang cukup signifikan, bahkan hingga 20 persen dibandingkan periode liburan sebelumnya. Meski penyebab pasti dari penurunan ini belum diketahui secara pasti, berbagai faktor seperti cuaca dan minat wisatawan diduga turut memengaruhi kondisi tersebut.

Salah satu pedagang oleh-oleh di Jalan Raya Cilimus, Syarief, mengungkapkan bahwa omzet penjualannya mengalami penurunan sekitar 20 persen selama musim liburan tahun ini. Ia menyatakan bahwa meskipun masih ada pembeli, jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. “Saya belum tahu pasti penyebabnya, tapi penurunan ini terasa cukup besar,” ujarnya.

Meski demikian, Syarief menekankan bahwa produk yang dijual di lapaknya sebagian besar berasal dari UMKM lokal Kuningan. Produk-produk tersebut mencakup berbagai makanan khas daerah, seperti tape ketan Cibeureum, rangginang, keripik singkong, wajik, dodol, dan manisan buah. Tape ketan, khususnya, disebut sebagai salah satu oleh-oleh favorit wisatawan yang masuk dalam 10 besar oleh-oleh terpopuler di wilayah ini.

Produk Oleh-Oleh Lokal yang Masih Digemari

Di antara berbagai oleh-oleh yang tersedia, beberapa produk khas Kuningan tetap diminati oleh wisatawan. Misalnya, rangginang dari Cigugur dan Sindangsari, wajik Subang, serta manisan pepaya. Selain itu, ada juga keripik singkong dan jeruk nipis yang sering menjadi pilihan oleh-oleh.

Syarief menjelaskan bahwa ragam oleh-oleh khas Kuningan memang cukup melimpah. Namun, ia menyadari bahwa permintaan untuk produk-produk tersebut tidak sebesar sebelumnya. Hal ini membuatnya khawatir tentang masa depan usaha yang ia jalani selama bertahun-tahun.

Pengaruh Cuaca Terhadap Aktivitas Wisata

Selain perubahan pola konsumsi, Syarief juga menyebutkan bahwa cuaca yang tidak menentu selama musim liburan akhir tahun ikut berdampak pada aktivitas wisata. Wilayah Kuningan belakangan ini sering diguyur hujan hampir setiap hari. Menurutnya, intensitas hujan yang tinggi kemungkinan besar mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut.

“Banyak pengunjung yang memilih untuk tidak datang karena cuaca yang tidak mendukung,” tambahnya. Ia berharap agar situasi ini bisa segera pulih, sehingga para pedagang oleh-oleh dapat kembali merasakan pertumbuhan usaha yang stabil.

Tantangan dan Harapan untuk Masa Depan

Penurunan omzet ini menjadi tantangan besar bagi para pelaku UMKM di Kuningan, terutama di bidang oleh-oleh. Meski begitu, Syarief tetap optimis bahwa dengan dukungan dari wisatawan dan pemerintat setempat, usaha-usaha kecil ini bisa bangkit kembali.

Ia berharap agar pihak terkait dapat melakukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kunjungan wisata dan mempromosikan oleh-oleh khas Kuningan lebih luas lagi. Dengan demikian, para pedagang dapat tetap bertahan dan bahkan berkembang dalam industri ini.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan