
Kondisi Ketenagakerjaan di Jawa Tengah
Dalam situasi perekonomian yang terus berkembang, kondisi ketenagakerjaan menjadi salah satu indikator penting yang selalu menjadi perhatian publik. Meskipun berbagai program penyerapan tenaga kerja telah dilakukan, beberapa daerah di Jawa Tengah masih mengalami tingkat pengangguran yang relatif tinggi dibanding kabupaten lainnya. Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan gambaran yang menarik sekaligus menjadi bahan evaluasi bersama.
Apa Itu Pengangguran Terbuka?
Pengangguran terbuka merujuk pada kondisi di mana penduduk usia kerja tidak memiliki pekerjaan, sedang mencari pekerjaan, atau sedang mempersiapkan usaha tetapi belum mulai bekerja. Ini merupakan indikator utama untuk melihat seberapa besar tantangan pasar tenaga kerja di suatu wilayah.
Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya pengangguran terbuka antara lain:
- Ketidaksesuaian keterampilan antara pencari kerja dengan kebutuhan industri.
- Pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, terutama di sektor industri padat karya.
- Terbatasnya lapangan kerja formal di daerah tertentu.
- Perubahan struktur ekonomi, misalnya beralihnya sektor-sektor tradisional ke sistem digital atau otomatisasi.
Lima Kabupaten dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi di Jawa Tengah (2025)
Berdasarkan data resmi BPS 2025, berikut lima kabupaten dengan tingkat pengangguran terbuka tertinggi di Jawa Tengah, dimulai dari posisi kelima hingga pertama:
-
Kabupaten Banyumas
Kabupaten Banyumas berada di posisi kelima dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 6,26%. Meski menjadi salah satu pusat pendidikan dan ekonomi di wilayah Barlingmascakeb, pertumbuhan jumlah pencari kerja tidak sepenuhnya diimbangi dengan penyerapan tenaga kerja yang memadai, khususnya di sektor industri manufaktur dan jasa modern. -
Kabupaten Pemalang
Di peringkat keempat terdapat Kabupaten Pemalang dengan angka 6,61%. Tantangan utamanya muncul dari keterbatasan sektor industri besar serta minimnya investasi baru yang berpotensi membuka lapangan kerja lebih luas. -
Kabupaten Cilacap
Sebagai salah satu wilayah industri strategis, Cilacap justru mencatat tingkat pengangguran terbuka sebesar 7,40%. Tingginya angka tersebut dipengaruhi oleh ketergantungan pada sektor industri tertentu dan belum meratanya kesempatan kerja di kecamatan-kecamatan luar pusat kota. -
Kabupaten Tegal
Di posisi kedua, Kabupaten Tegal mencatat angka 7,61%. Dinamika sektor UMKM dan industri rumahan belum cukup untuk menampung tingginya jumlah angkatan kerja baru yang masuk setiap tahunnya. -
Kabupaten Brebes
Kabupaten Brebes menempati posisi pertama sebagai daerah dengan tingkat pengangguran terbuka tertinggi di Jawa Tengah pada 2025, yakni 8,07%. Sebagai kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar di provinsi ini, Brebes menghadapi tantangan struktural terkait rendahnya diversifikasi ekonomi serta terbatasnya lapangan kerja formal yang tersedia.
Pengangguran Terbuka di Jawa Tengah Secara Umum
Secara keseluruhan, tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Jawa Tengah tercatat sebesar 4,66% pada 2025. Angka ini relatif lebih rendah dibanding kabupaten-kabupaten yang masuk daftar tertinggi di atas, menunjukkan adanya ketimpangan distribusi kesempatan kerja antar daerah.
Bagaimana Cara Mengatasi Pengangguran Terbuka?
Untuk menurunkan angka pengangguran terbuka, sejumlah langkah strategis dapat dilakukan pemerintah daerah maupun pusat, antara lain:
- Meningkatkan pelatihan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri lokal.
- Mendorong investasi, terutama di sektor-sektor yang padat karya.
- Memperkuat UMKM melalui akses permodalan dan digitalisasi.
- Mengembangkan pusat ekonomi baru, khususnya di daerah yang belum tersentuh pembangunan industri.
- Memperluas kerja sama pendidikanindustri, agar lulusan sekolah dan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang sesuai dengan permintaan pasar.
Dengan upaya kolaboratif dan kebijakan yang tepat sasaran, kabupaten-kabupaten yang kini mengalami tingkat pengangguran tinggi diharapkan dapat menekan angka pengangguran terbuka dan menciptakan ekonomi daerah yang lebih inklusif serta berkelanjutan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar