
Pengertian Miqat dalam Ibadah Haji dan Umrah
Miqat merupakan istilah yang sering digunakan dalam konteks ibadah haji dan umrah. Secara umum, miqat merujuk pada tempat atau waktu yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai pintu masuk untuk memulai ibadah haji atau umrah. Dalam kitab "Tuntunan Manasik Haji dan Umrah" yang diterbitkan Kementerian Agama, miqat memiliki dua jenis, yaitu miqat zamani (waktu) dan miqat makani (tempat).
Miqat Zamani
Miqat zamani adalah batas waktu melaksanakan ibadah haji. Batas waktu ini dimulai dari 1 Syawal hingga terbit fajar pada 10 Zulhijjah. Untuk umrah, miqat zamani berlaku sepanjang tahun. Dengan demikian, jemaah dapat melakukan umrah kapan saja selama tidak melewati batas waktu yang telah ditentukan.
Miqat Makani
Sementara itu, miqat makani merujuk pada lokasi tertentu yang menjadi titik awal pelaksanaan ihram. Jemaah harus mengenakan pakaian ihram dan melakukan niat di lokasi tersebut sebelum bertolak ke Mekkah. Ada lima lokasi miqat makani yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu:
-
Zulhulaifah (Bir Ali)
Lokasi ini digunakan oleh penduduk Madinah dan jemaah yang melewatinya. Jemaah haji asal Indonesia yang tiba di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah biasanya mengambil miqat di Masjid Zulhulaifah yang berjarak sembilan kilometer dari Madinah. -
Juhfah
Berlokasi sekitar 183 kilometer di arah barat laut Mekkah. Lokasi ini biasanya digunakan oleh jemaah dari Syria, Yordania, Mesir, dan Lebanon. -
Qarnul Manazil (as-Sail)
Terletak dekat kawasan pegunungan Taif, sekitar 94 kilometer di timur Makkah. Biasanya digunakan oleh jemaah dari Dubai. -
Yalamlam
Berada di arah tenggara Mekkah, dengan jarak sekitar 92 kilometer. Lokasi ini menjadi miqat bagi jemaah dari Yaman dan mereka yang melalui rute yang sama, seperti jemaah dari India, Pakistan, China, dan Jepang. -
Zatu Irqin
Berjarak sekitar 94 kilometer di arah timur laut Mekkah. Lokasi ini biasanya digunakan oleh jemaah dari Iran dan Irak.
Lokasi Miqat Makani untuk Jamaah Haji Indonesia
Jamaah haji Indonesia menggunakan beberapa lokasi miqat makani, tergantung pada gelombang keberangkatan. Contohnya:
- Gelombang I: Jemaah yang mendarat di Madinah mengambil miqat di Bir Ali (Zulhulaifah).
- Gelombang II: Jemaah yang turun di Jeddah memiliki beberapa opsi, seperti di asrama haji embarkasi, di dalam pesawat ketika pesawat melintas sebelum atau di atas Yalamlam, atau di Bandara Internasional King Abdul Aziz.
Bandara Internasional King Abdul Aziz dijadikan lokasi miqat setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa pada 1980 tentang keabsahan bandara tersebut sebagai tempat miqat.
Selain itu, ada juga Masjid Tan'im yang berjarak 7,5 kilometer dari Masjidil Haram, Makkah. Masjid ini juga menjadi lokasi miqat penduduk Makkah.
Niat dan Doa Saat Miqat
Setelah mengambil miqat, jemaah diharapkan membaca niat haji atau umrah. Niat tersebut adalah:
FNHNJR*O 'DR-N,NQ HN#N-R1NER*O (PGP DPDGP *N9N'DNI DN(NQJRCN 'DDNQGOENQ (-N,KN)P
Nawaitul hajja wa ahramtu bihi lillahi taala labbaika Allahumma hajjan.
Artinya: Aku niat melaksanakan haji dan berihram karena Allah Swt. Aku sambut panggilan-Mu, ya Allah untuk berhaji.
Setelah itu, jemaah juga membacakan doa selesai berihram:
'NDDQpGOENQ #O-N1PQEO 4N9R1PJR HN(N4N1PJR HN,N3N/PJR HN,NEPJR9N ,NHN'1P-PJR EPFR CODPQ 4NJR!M -N1NQER*NGO 9NDNI 'DREO-R1PEP #N(R*N:PJR (P0pDPCN HN,RGNCN 'DRCN1PJREN JN' 1N(NQ 'DR9N@@'DPEPJRFN
Allahumma uharrimu syari wa basyari wa jasadi wa jamia jawarihi min kulli sya-in harramtahu alal muhrimi abtaghi bidzalika wajhakal karima ya rabbal alamin
Artinya: Ya Allah aku mengharamkan rambut, kulit, tubuh dan seluruh anggota tubuhku dari semua yang Kau haramkan bagi seorang yang sedang berihram, demi mengharapkan ridha-Mu semata, wahai Tuhan pemelihara seluruh keberadaan.
Larangan Saat Berihram
Setelah miqat dan mengucapkan niat, jemaah akan menjalani larangan-larangan saat berihram. Beberapa larangan tersebut antara lain:
- Laki-laki dilarang mengenakan pakaian biasa, sepatu yang menutup tumit dan mata kaki, serta tutup kepala.
- Perempuan dilarang berkaus tangan dan menutup muka.
- Tidak boleh menggunakan wangi-wangian (kecuali sebelum berihram), melakukan hubungan suami-istri, memotong kuku, mencabut/memotong rambut atau bulu, serta memburu binatang.
Dalam perjalanan dari miqat menuju Masjidil Haram, jemaah dianjurkan banyak membaca talbiyah:
DN(NQJRCN 'DDNQGOENQ DN(NQJRCN DN(NQJRCN DN' 4N1PJCN DNCN DN(NQJRCN %PFNQ 'DR-NER/N HN'DFPQ9REN)N DNCN HN'DREODRCN DN' 4N1PJCN DNCN DN(NQJRCN
Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk laa syariika laka labbaik.
Artinya: Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Aku memenuhi panggilan-Mu.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar