Lirik Lagu 'Desember' Efek Rumah Kaca: Melodi Pelangi dari Luka Dalam

Lirik Lagu 'Desember' Efek Rumah Kaca: Melodi Pelangi dari Luka Dalam

Lagu "Desember" dan Makna yang Mendalam

Di Jakarta, ketika hujan mulai turun di sore hari, suara Cholil Mahmud sering muncul kembali dalam pikiran banyak orang. Bulan Desember selalu membawa aroma yang aneh: campuran rindu, kehilangan, dan ketegaran. Dan di antara ribuan lagu yang tiba-tiba terasa relevan di penghujung tahun, “Desember” milik Efek Rumah Kaca muncul seperti pelangi kecil setelah badai.

Setiap baitnya memanggil kembali memori kolektif bangsa—khususnya suara laut yang berubah menjadi maut pada 26 Desember 2004. Ketika gelombang setinggi 30 meter menghantam Aceh dengan kecepatan 100 meter per detik, dunia berubah dalam hitungan detik. Luka itu tidak hanya meninggalkan puing, tetapi juga sebuah keheningan panjang yang kini menjelma menjadi lagu.

Dan melalui “Desember,” Efek Rumah Kaca seakan menepuk bahu kita. Mengingatkan bahwa sekalipun awan hitam pernah menutup seluruh langit, selalu ada seseorang—atau sesuatu—yang bernyanyi di baliknya. Hujan boleh membawa duka, tapi suatu hari ia juga memulihkan luka.

Latar dan Makna Lagu “Desember”

“Desember” bukan sekadar lagu yang enak diputar saat hujan. Lagu ini lahir dari kesadaran, ingatan, dan luka kolektif. Cholil Mahmud menulisnya sebagai pengingat peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di bulan Desember—terutama bencana tsunami Aceh 2004, salah satu tragedi paling memilukan dalam sejarah Indonesia.

Saat itu, gempa bermagnitudo 9,3 mengguncang dasar Samudera Hindia. Gelombangnya datang tanpa ampun, menyapu daratan Aceh hingga rata. Lebih dari dua ratus ribu nyawa hilang. Dan di tengah kehilangan itu, manusia dipaksa bertahan, memeluk satu-satunya hal yang tersisa: harapan.

Lagu “Desember” memotret rasa itu dengan cara yang lembut namun dalam. Ia tidak berteriak. Ia justru menenangkan, seperti tangan yang merapikan rambut orang yang sedang menangis.

Pesan Sosial yang Diselipkan Efek Rumah Kaca

Sejak awal berdiri, Efek Rumah Kaca bukan band yang sekadar bermain kata. Mereka mengangkat isu-isu yang menempel di tanah tempat mereka berpijak: lingkungan, hak asasi manusia, keresahan sosial, hingga tragedi kemanusiaan. Dalam “Desember,” suara itu kembali terdengar: lirih, tapi tegas.

Lagu ini mengajak pendengarnya untuk tetap tegar menghadapi cobaan. Untuk percaya bahwa setelah hujan yang panjang, ada sesuatu yang menunggu—sebuah pemulihan, sebuah pelangi.

Pesan itu jelas terasa dalam bait paling ikonik: "Seperti pelangi setia menunggu hujan reda, aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember…”

Ini bukan hanya lirik, tapi doa yang dibisikkan pelan-pelan.

Lirik Lagu "Desember" Efek Rumah Kaca

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
Dibalik awan hitam
Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini
Menanti seperti pelangi setia
Menunggu hujan reda
Aku selalu suka sehabis hujan dibulan Desember
Di bulan Desember

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
Dibalik awan hitam
Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini
Menanti seperti pelangi setia
Menunggu hujan reda
Aku selalu suka sehabis hujan dibulan Desember
Di bulan Desember

Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka
Aku selalu suka sehabis hujan dibulan Desember
Di bulan Desember

Karna aku selalu suka sehabis hujan dibulan Desember
Di bulan Desember
Seperti pelangi setia
Menunggu hujan reda

Album yang Melahirkan Sebuah Ingatan

“Desember” masuk dalam album pertama Efek Rumah Kaca yang juga bertajuk Desember. Dirilis pada 2007, album ini memuat 12 lagu yang penuh kritik sosial dan refleksi. Bersama Cholil Mahmud, Adrian Yunan Faisal, dan Akbar Bagus Sudibyo, band indie Jakarta ini menjadi ikon musik alternatif yang berani bicara, jujur, dan apa adanya.

Dua tahun setelahnya, mereka merilis album Kamar Gelap, yang semakin menegaskan identitas ERK sebagai band yang berpihak kepada suara-suara kecil di tengah hiruk-pikuk dunia.

Desember selalu membawa kita kembali pada apa yang pernah hilang—dan pada apa yang tetap ingin kita jaga. “Desember” dari Efek Rumah Kaca bukan hanya lagu, tetapi sebuah ruang untuk pulih, merenung, dan mengingat bahwa badai tidak selamanya tinggal. Bahwa suatu hari, hujan berhenti, luka mereda, dan pelangi menunggu kita di ujung jalan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan