Lombok Utara dan Kaki Rinjani Hadapi Tantangan Berat, Fokus Penurunan Kemiskinan di NTB

Lombok Utara dan Kaki Rinjani Hadapi Tantangan Berat, Fokus Penurunan Kemiskinan di NTB

Profil Wilayah Termiskin di NTB

Di tengah prestasi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang baru saja keluar dari daftar 10 provinsi termiskin secara nasional per September 2024, masih terdapat tantangan berat dalam mengentaskan kemiskinan di tingkat kabupaten. Fokus utama penanganan ini seringkali tertuju pada wilayah-wilayah yang secara historis menjadi kantong kemiskinan, terutama di Pulau Lombok, yakni Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Utara.

Kabupaten Lombok Timur (Lotim)

Lotim sering disebut sebagai kabupaten dengan persentase kemiskinan tertinggi di NTB. Daerah ini memiliki populasi yang besar dan masalah kemiskinan terkonsentrasi di wilayah pedesaan yang padat, terutama yang berbatasan dan berada di kaki Gunung Rinjani. Akses terbatas dan keterbatasan sumber daya menjadi kendala utama.

Kabupaten Lombok Utara (KLU)

Sebagai kabupaten pemekaran yang relatif baru, KLU juga menghadapi tantangan berat dalam pengentasan kemiskinan. Meskipun memiliki daya tarik pariwisata kelas dunia seperti Gili Trawangan, Meno, dan Air (Gili Tramena), manfaat ekonomi dari pariwisata belum merata. Faktor geografis wilayah pegunungan serta dampak dari bencana alam yang terjadi beberapa tahun terakhir turut memperburuk kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Wilayah Lain

Selain dua kabupaten di Lombok tersebut, wilayah di Pulau Sumbawa seperti Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan Kabupaten Dompu juga seringkali tercatat memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi. Fluktuasi harga komoditas pertanian dan pertambangan di wilayah ini sangat memengaruhi kondisi ekonomi masyarakatnya.

Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan Struktural

Kemiskinan di NTB, khususnya di daerah-daerah tersebut, bukanlah masalah tunggal, melainkan hasil dari interaksi beberapa faktor struktural yang kompleks:

1. Hambatan Geografis dan Aksesibilitas

Wilayah di kaki Gunung Rinjani memiliki medan yang curam dan sulit dijangkau. Kondisi ini secara langsung memengaruhi:

  • Akses Pendidikan dan Kesehatan: Sulitnya mencapai fasilitas publik yang memadai.
  • Akses Pasar: Tingginya biaya logistik dan transportasi untuk menjual hasil bumi atau mengakses barang kebutuhan.
  • Produktivitas Pertanian: Lahan yang sulit diolah atau rentan terhadap bencana seperti longsor.

2. Ketergantungan Kuat pada Sektor Pertanian

Mayoritas penduduk miskin sangat bergantung pada pertanian tanaman pangan atau hortikultura. Sektor ini sangat rentan terhadap:

  • Perubahan Iklim: Musim kemarau panjang atau gagal panen akibat cuaca ekstrem.
  • Fluktuasi Harga: Harga komoditas yang tidak stabil dan rentan dimainkan oleh tengkulak.

3. Pariwisata yang Belum Merata

Meskipun NTB dikenal dengan pariwisata super prioritas, seperti Mandalika dan Gili, manfaat pariwisata belum sepenuhnya "menetes" ke masyarakat miskin di pedalaman. Pusat-pusat pariwisata seringkali berada jauh dari permukiman miskin. Keterampilan masyarakat lokal untuk terlibat dalam rantai bisnis pariwisata (seperti homestay berkualitas atau penyedia jasa) masih terbatas.

Upaya dan Tantangan Penanganan Kemiskinan

Keberhasilan NTB keluar dari 10 provinsi termiskin nasional menunjukkan adanya perbaikan makro. Namun, fokus pemerintah daerah kini harus lebih tajam ke tingkat mikro, yaitu penanganan kemiskinan ekstrem di kabupaten-kabupaten tersebut. Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara telah menjadi subjek dari berbagai program intervensi, mulai dari bantuan sosial, pembangunan infrastruktur dasar (jalan, irigasi, sanitasi), hingga program pemberdayaan ekonomi lokal.

Tantangan terbesar saat ini adalah memastikan:

  • Akurasi Data: Penargetan program bantuan sosial dan pemberdayaan harus tepat sasaran ke rumah tangga termiskin.
  • Sinergi Program: Integrasi antara program pembangunan infrastruktur (Dinas PUPR), pemberdayaan ekonomi (Dinas Perindustrian/Perdagangan), dan pertanian/kelautan harus berjalan harmonis.
  • Pengembangan Ekonomi Alternatif: Mengurangi ketergantungan pada pertanian dengan mengembangkan sektor lain, seperti pariwisata berbasis masyarakat (ekowisata) atau kerajinan tangan, dengan mempertimbangkan potensi unik masing-masing wilayah.

Dengan intervensi yang tepat sasaran dan berkelanjutan, harapan untuk mengangkat masyarakat dari jerat kemiskinan di kaki Gunung Rinjani dan wilayah terpencil lainnya di NTB dapat terwujud, demi mewujudkan visi NTB yang lebih Sejahtera dan Mandiri.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan