
Peran Perbankan dalam Perekonomian Indonesia
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyoroti rasio dana pihak ketiga (DPK) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang masih lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam. Hal ini menjadi sinyal bahwa kontribusi perbankan terhadap perekonomian belum optimal. Anggota Dewan Komisioner LPS, Doddy Zulverdi, menegaskan bahwa meskipun kinerja perbankan Indonesia berada dalam posisi kuat, rasio DPK terhadap PDB yang relatif rendah menunjukkan peran sistem keuangan dalam menyokong ekonomi domestik belum maksimal.
Kondisi ini menjadi salah satu perhatian utama LPS ketika memetakan prospek ekonomi global, domestik, dan kontribusi sektor perbankan ke depan. Menurut Doddy, penilaian LPS terbaru memperlihatkan membaiknya lingkungan global, dengan meredanya risiko geopolitik serta ketidakpastian perdagangan. Sejumlah indikator volatilitas di pasar keuangan global, mulai dari saham, obligasi, hingga valuta asing, terus menunjukkan tren penurunan.
“Ini kombinasi kondisi global yang memberi ruang bagi investor untuk kembali masuk ke emerging market, termasuk Indonesia,” ujar Doddy dalam acara Bisnis Indonesia Group Conference di Hotel Raffles, Jakarta, Senin (8/12/2025).
Peluang Global yang Perlu Dimanfaatkan
Menurutnya, inflasi global yang relatif rendah dan ruang pelonggaran suku bunga di berbagai negara menjadi peluang yang perlu dimanfaatkan Indonesia. Aliran modal asing berpotensi meningkat, menopang stabilitas nilai tukar serta menjaga suku bunga domestik tetap kompetitif. Namun, optimisme global tersebut perlu ditopang oleh penguatan sisi domestik agar benar-benar menjadi peluang nyata bagi perekonomian nasional.
Hingga kuartal III/2025, perekonomian Indonesia menunjukkan resiliensi, terutama didorong konsumsi rumah tangga yang tetap kuat dan kinerja ekspor yang terjaga meski menghadapi dinamika kebijakan tarif internasional. Indikator-indikator bulanan seperti penjualan ritel, persepsi konsumen, dan PMI manufaktur pun konsisten menunjukkan tren positif.
Di sektor perbankan, pertumbuhan pendanaan, terutama pada komponen giro, menjadi sinyal bahwa optimisme domestik masih terjaga. Likuiditas perbankan meningkat, permodalan kuat, serta rasio kredit bermasalah (NPL) yang lebih rendah turut memperkuat fondasi sektor finansial menghadapi ketidakpastian global.
Tantangan Struktural dalam Perbankan
Meski demikian, Doddy menekankan adanya tantangan struktural pada peran perbankan terhadap perekonomian. “Rasio DPK terhadap PDB kita masih relatif rendah dibandingkan peers country, seperti Malaysia dan Vietnam yang bahkan sudah tembus di atas 100%,” ungkapnya.
Rendahnya rasio ini menunjukkan bahwa uang yang diciptakan di dalam negeri belum optimal menjadi bahan bakar bagi pertumbuhan ekonomi. Selain itu, disparitas antara dana yang dihimpun suatu wilayah dan kredit yang disalurkan di wilayah yang sama masih terjadi. Ketidakseimbangan ini mencerminkan belum meratanya transmisi fungsi intermediasi perbankan di seluruh Indonesia.
Doddy menegaskan bahwa LPS tidak hanya melihat dinamika ekonomi global dan domestik dalam konteks penjaminan simpanan dan resolusi bank, tetapi juga bagaimana lembaga dapat mendukung penguatan peran sistem keuangan secara menyeluruh. “Kami memastikan nasabah merasa nyaman menyimpan dananya di perbankan, namun lebih dari itu, sistem perbankan harus mampu mengalirkan dana tersebut ke sektor riil untuk mendorong kinerja ekonomi nasional,” tegasnya.
Komitmen LPS untuk Meningkatkan Intermediasi Perbankan
Ke depan, LPS berkomitmen memperkuat koordinasi dengan otoritas lain guna menciptakan ekosistem keuangan yang lebih efisien dan inklusif. Penguatan intermediasi perbankan menjadi kunci agar peluang perbaikan global dapat dioptimalkan menjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Dengan langkah-langkah strategis ini, LPS berharap bisa membantu sektor perbankan Indonesia lebih aktif dalam mendukung perekonomian nasional secara keseluruhan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar