
aiotrade, JAKARTA — Pemerintah mengajak para pengusaha untuk berperan aktif dalam menciptakan peluang kerja, terutama di tengah tantangan penyerapan lulusan sarjana yang masih rendah. Setiap tahun, jumlah lulusan sarjana mencapai sekitar 1,5 juta orang. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, pada Senin (1/12/2025).
Menurutnya, banyak lulusan sarjana mengalami kesulitan masuk ke pasar kerja karena syarat yang diberikan perusahaan sering kali membutuhkan pengalaman kerja minimal satu hingga dua tahun. "Banyak dari mereka langsung ditolak karena tidak memenuhi kriteria tersebut," ujarnya.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah telah menyiapkan program magang bagi lulusan baru. Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mendapatkan pengalaman kerja sebelum benar-benar masuk ke dunia kerja. Magang akan dilaksanakan selama enam bulan dan peserta akan menerima gaji sesuai upah regional.
Pada tahun 2025, kuota magang yang disediakan adalah sebanyak 100.000 orang. Tahun depan, kuota ini akan ditingkatkan menjadi 100.000 lagi. "Saya berharap Kadin dapat menerima anak-anak terbaik dan memberi mereka kesempatan untuk bekerja," tambahnya.
Dalam acara tersebut, Airlangga juga menyampaikan data investasi yang telah mencapai Rp1.434 triliun dari target Rp1.900 triliun. Dari investasi ini, sebanyak 1,95 juta orang terserap sebagai tenaga kerja.
Pengangguran Masih Tinggi
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,46 juta orang pada Agustus 2025. Angka ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 7,47 juta orang. Namun, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2025 sebesar 4,85%, sedikit meningkat dibandingkan Februari 2025 yang sebesar 4,76%.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa penurunan TPT terjadi baik pada penduduk laki-laki maupun perempuan, serta di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Meskipun begitu, TPT tertinggi tercatat di wilayah perkotaan dengan angka 5,75%, sementara di perdesaan sebesar 3,47%.
Secara keseluruhan, BPS mencatat ada 218,17 juta penduduk usia kerja pada Agustus 2025. Jumlah ini meningkat sebesar 2,80 juta orang dibandingkan Agustus 2024. Namun, tidak semua penduduk tersebut terserap dalam pasar kerja.
Adapun rincian penduduk usia kerja terdiri dari:
- Bukan Angkatan Kerja (BAK): Sebanyak 64,17 juta orang atau naik 0,91 juta orang.
- Angkatan Kerja (AK): Sebanyak 154,00 juta orang atau naik 1,89 juta orang.
- Penduduk yang bekerja: Sebanyak 146,54 juta orang atau naik 1,90 juta orang.
- Penduduk yang menganggur: Sebanyak 7,46 juta orang atau turun 4.000 orang.
Lebih lanjut, Edy menjelaskan bahwa penduduk yang bekerja terdiri dari tiga kategori:
- Pekerja penuh: Sebanyak 98,65 juta orang. Mereka bekerja maksimal 35 jam seminggu.
- Pekerja paruh waktu: Sebanyak 36,29 juta orang. Mereka bekerja kurang dari 35 jam seminggu tapi tidak mencari pekerjaan lain.
- Setengah pengangguran: Sebanyak 11,60 juta orang. Mereka bekerja kurang dari 35 jam seminggu dan masih mencari pekerjaan tambahan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar