Profil Dwiarso Budi Santiarto, Lulusan Terbaik S3 Unair dengan IPK Sempurna
Dwiarso Budi Santiarto adalah sosok yang menginspirasi, terutama bagi para lulusan universitas dan praktisi hukum. Ia tidak hanya dikenal sebagai lulusan terbaik jenjang S3 di Universitas Airlangga (Unair) dengan IPK sempurna 4,00, tetapi juga memiliki peran penting dalam dunia politik dan peradilan. Prestasi akademiknya menjadi bukti dedikasi dan komitmen terhadap pengembangan ilmu hukum.
Lulusan Terbaik Program Doktor Ilmu Hukum
Pada momen wisuda yang digelar pada Sabtu (6/12/2025), Dwiarso dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik Program Doktor Ilmu Hukum setelah berhasil meraih IPK sempurna, yakni 4.00. Capaian ini menunjukkan dedikasi dan ketekunan selama menempuh studi. Ia kini resmi menyandang gelar akademik baru: Dr. Dwiarso Budi Santiarto SH MHum.
Dwiarso juga dikenal sebagai Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Non Yudisial. Kehadirannya dalam prosesi wisuda tersebut menambah kebanggaan karena ia tidak hanya sukses dalam bidang pendidikan, tetapi juga memegang peran penting di tingkat nasional.
Perjalanan Akademik di Unair
Dwiarso menyampaikan rasa syukur mendalam karena dapat kembali menuntaskan studi di kampus yang sudah menjadi bagian penting dari perjalanan intelektualnya. Ia mengingat kembali masa kuliahnya saat pertama kali menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Hukum Unair pada tahun 1986. “Pilihan utama saya saat S1 dulu itu Unair. Selain dekat, kuliah di Unair itu keren,” ujarnya.
Program doktor yang diambil Dwiarso menjadi langkah penting untuk memperkuat landasan teoritis yang menunjang praktik peradilan. Program tersebut merupakan hasil kerja sama antara Mahkamah Agung dan Fakultas Hukum Unair, yang dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas para hakim.
Penelitian tentang Pertanggungjawaban Korporasi
Dalam disertasinya, Dwiarso mengangkat isu strategis yang semakin relevan dalam dunia hukum modern, yakni pertanggungjawaban korporasi dalam tindak pidana. Penelitiannya berfokus pada bagaimana perusahaan sebagai entitas hukum dapat dimintai pertanggungjawaban secara lebih tegas dan terukur ketika terlibat dalam kejahatan.

Karyanya yang berjudul Pedoman Pemidanaan Terhadap Korporasi sebagai Subjek Hukum Pidana hadir sebagai respons terhadap meningkatnya kasus kriminalitas yang melibatkan korporasi di era bisnis modern. Melalui penelitian tersebut, Dwiarso merumuskan pedoman pemidanaan yang lebih komprehensif dan proporsional, sehingga diharapkan mampu memperkuat efektivitas penegakan hukum terhadap perusahaan di masa mendatang.
Kombinasi Teori dan Praktik dalam Pendidikan Hukum
Sebagai seorang praktisi hukum, Dwiarso memandang bahwa pendalaman teori merupakan langkah penting untuk meningkatkan kapasitas seorang hakim. “Praktisi perlu memperbarui teori. Akademisi kuat di teori, kita kuat di praktik. Kalau digabungkan, manfaatnya besar bagi hakim,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa kekuatan normatif Fakultas Hukum Unair memberi kontribusi besar dalam mempertajam analisis hukum para praktisi. Menurutnya, perpaduan antara pengalaman lapangan dan pemahaman akademik yang kuat menjadi fondasi penting untuk menghasilkan penegakan hukum yang lebih adil dan berkualitas.
Persaingan di Dunia Kerja Hukum
Dwiarso berpesan agar seluruh mahasiswa Fakultas Hukum memanfaatkan setiap kesempatan belajar yang tersedia selama di kampus. Ia mengajak mereka untuk benar-benar menyelami ilmu hukum sedalam mungkin dan tidak ragu berdiskusi dengan para guru besar atau dosen tamu dari kalangan praktisi.
Menurutnya, kehadiran para praktisi di ruang kuliah adalah keuntungan besar yang seharusnya dimaksimalkan. Ia menilai bahwa kurikulum Unair saat ini telah memberikan paduan seimbang antara teori dan praktik, sebuah kombinasi yang sangat dibutuhkan ketika mahasiswa memasuki dunia kerja.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa persaingan di bidang hukum sangat ketat. “Lapangan kerja luas, tetapi lulusan juga banyak. Jadi harus siap bersaing,” katanya.

Untuk itu, Dwiarso mendorong mahasiswa agar aktif menulis di jurnal, memperkaya wawasan, serta membangun kesiapan profesional sejak awal perkuliahan. Ia menegaskan bahwa kesungguhan dalam belajar merupakan kunci utama untuk berkembang. Menurutnya, kemampuan membaca dan menulis adalah fondasi penting yang tidak boleh diabaikan.
“Kalau tidak kita menulis dan tidak kita sampaikan, nanti kita hanya asal lulus saja,” ujarnya. Ia juga menganjurkan mahasiswa untuk mengejar IPK terbaik, memperluas pengalaman, dan terus menambah pengetahuan sebagai bekal menghadapi perkembangan dunia hukum yang semakin dinamis.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar