Macet parah di Kelapa Gading, sopir tinggalkan mobil untuk beli gorengan

JAKARTA, nurulamin.pro – Kemacetan total yang melanda Jalan Boulevard Barat Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara, membuat sejumlah pengendara mobil frustrasi karena kendaraan mereka nyaris tidak bergerak sama sekali.

Kondisi ini bahkan membuat beberapa pengemudi meninggalkan mobilnya untuk membeli makanan atau sekadar melepas penat.

Pantauan nurulamin.pro sekitar pukul 11.45 WIB, beberapa mobil ditinggalkan oleh pengemudinya di pinggir jalan. Mereka membeli cemilan seperti gorengan dan roti sambil menunggu arus lalu lintas bergerak kembali.

Rusdi (46), salah satu sopir kendaraan angkutan yang terjebak macet, mengaku sengaja keluar dari mobil untuk melepas penat. Ia mengatakan sudah dua jam terjebak kemacetan akibat banjir di Jalan Yos Sudarso, Sunter.

"Biar enggak capek saja lah, sudah dari pagi begini (kena macet), mending minggir nerokok," kata Rusdi.

Saat tengah merokok di sisi jalan, Rusdi melihat seorang penjual makanan berteduh dari hujan. Ia pun membeli camilan dan kopi untuk mengisi perut.

"Saya lihat ada tukang gorengan, ya beli aja dah. Sekalian ngopi, daripada stres nungguin macet," ujarnya.

Rusdi merasa aman meninggalkan mobilnya karena arus lalu lintas sama sekali tidak bergerak.

"Memang enggak gerak mau bagaimana, tinggalin aja. Paling 10 menit, 15 menit sekali baru jalan. Itu juga paling berapa meter doang," ucapnya.

Sementara itu, Iman (50), sopir taksi, juga terlihat meninggalkan kendaraannya di tengah kemacetan. Ia berlari menutupi kepala dari hujan menuju seorang penjual kopi keliling.

"Dingin banget habisnya, nyari yang anget-anget deh," kata Iman.

Iman mengaku terkejut dengan kemacetan yang terjadi setelah mengantar penumpang ke depan Mall of Indonesia (MOI).

"Tadi enggak nyampe mall bahkan nganternya, cuma di depannya berapa ratus meter dia (penumpang) jalan pakai payung. Soalnya macet, males nunggu kan penumpang," ujarnya.

Meski stres karena waktu yang terbuang, Iman memilih menghabiskan waktu sambil menikmati kopi dan roti yang dibelinya di pinggir jalan.

"Ya, harusnya kan kalau enggak macet sudah nyari penumpang lagi. Ini enggak bisa, ya sudahlah namanya Jakarta," ucapnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan