
Purwokerto, berita
- Dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) yang keluarganya menjadi korban bencana longsor dan banjir di Aceh mengungkapkan kondisi terkini keluarga mereka yang masih terisolasi. Minimnya bantuan, akses jalan terputus, serta sulitnya mendapatkan makanan dan BBM membuat warga di kampung halaman mereka harus berjuang untuk bertahan hidup.
Fariha Salsabila, mahasiswi semester 3 Program Studi Anestesi UMP, menceritakan keluarganya di Bener Meriah, Aceh, masih berada dalam kondisi darurat pascalongsor besar yang melanda wilayah itu. Ia mengaku sempat kehilangan kontak hampir dua minggu. Baru pada Senin (8/12/2025), ibunya tiba-tiba menghubungi lewat video call singkat.
"Seminggu setelah kejadian enggak ada kabar sama sekali. Tiba-tiba mamah video call cuma 2 menit, belum sempat nanya lebih sudah terputus," tutur Fariha saat acara Sambung Rasa Mas Rektor dengan Mahasiswa UMP Asal Sumatra di Kampus UMP, Jumat (12/12/2025).
Namun hingga kini Fariha belum dapat berkomunikasi lagi dengan keluarganya. Meski demikian, Fariha mengaku sedikit lega karena seluruh keluarganyaayah, ibu, kakak, dan keponakandalam kondisi selamat.
Menurut kabar yang ia terima, bantuan logistik belum menjangkau desanya. "Kemarin dikabari bantuan belum masuk. Banyak yang kelaparan. Warga harus jalan 10 kilometer untuk ambil bantuan," kata Fariha.
Karena lokasi berada di daerah pegunungan, warga bertahan hidup dengan bahan makanan seadanya. "Di sana orang makan pisang rebus, ubi rebus. Untung masih ada hasil bumi. Tapi BBM juga susah," ujar Fariha.
Meski memiliki keinginan kuat untuk pulang, Fariha mengaku tak bisa karena akses menuju rumahnya belum bisa dilalui kendaraan. "Dari bandara ke rumah harus jalan kaki. Jalannya belum bagus, jadi belum bisa pulang," ucap Fariha.
Fariha berharap pemerintah mempercepat distribusi logistik ke wilayahnya. "Harapan saya, bantuan logistik segera masuk. Banyak orang di pengungsian meninggal karena kelaparan," kata Fariha.
Listrik dan Air Bersih Belum Tersedia, BBM Langka
Mahasiswa lainnya, Tamlika Riamban, mahasiswi Semester 3 Anestesi UMP, mengaku keluarganya di Aceh Utara terdampak banjir besar. Ia baru mengetahui kondisi keluarganya tiga hari setelah kejadian.
"Kondisi keluarga baik, tidak apa-apa. Tapi akses listrik dan air bersih masih terputus," ujar Tam, sapaannya. Ia mengatakan kelangkaan BBM membuat mobilisasi warga semakin sulit. Jaringan komunikasi juga tidak stabil sehingga ia hanya bisa menanyakan kabar secukupnya.
"SPBU langka, HP juga sulit sinyal. Jadi komunikasi hanya sebatas tanya kabar," kata Tam. Sama seperti Fariha, Tamlika ingin mudik untuk menemui keluarganya, namun akses menuju rumahnya masih terputus.
"Pengin pulang, tapi jalan terputus semua," ujar Tam. Kedua mahasiswa ini mengaku bertahan di Purwokerto menggunakan tabungan pribadi sambil menunggu kondisi membaik di kampung halaman mereka. "Kebetulan masih ada tabungan sedikit, jadi bisa bertahan," kata Fariha.
UMP Beri Keringanan Biaya dan Bantuan
Sementara itu, Rektor UMP Prof Jebul Suroso mengatakan, pihaknya menggratiskan biaya SPP selama dua semester untuk mahasiswa asal Aceh dan Sumatra Utara. "Kami akan menggratiskan biaya tetap SPP selama satu tahun. Kami juga akan memberikan beasiswa dengan skema khusus untuk warga Aceh, Sumatera Utara dan Sumatra," kata Jebul.
Untuk meringankan beban mahasiswa asal Aceh dan Sumut, pihaknya juga memberikan makan gratis di Cafe Samara, milik UMP. Saat ini tercatat ada 8 mahasiswa asal Aceh dan Sumut di UMP. "Rumah saya juga dekat dari kampus, kalau mau makan silakan bisa di tempat saya," ujar Jebul.
Mendengar hal itu, Aulia Febi, mahasiswi Jurusan Pertanian, tampak tak bisa menahan tangis. "Terimakasih atas keringanannyang sudah diberikan," kata Febi dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu, dalam acara ini juga digelar lelang lukisan karya penyandang disabilitas alumni UMP, Eprisa Nova Rahmawati. Hasil lelang tersebut akan disalurkan untuk korban bencana Sumatra.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar