
Kembali ke Sumber Rasa yang Asli
Kita hidup di era di mana rasa manis sering kali hadir bersama tambahan. Gula, sirup, pemanis buatan, atau label "rendah kalori" membuat kita semakin sibuk menghitung kandungan dan jumlah kalori. Minuman manis hari ini tidak lagi sederhana; ia diproduksi, dikemas, dipasarkan, lalu diperdebatkan kandungannya. Di tengah hiruk-pikuk itu, kita jarang bertanya: apakah manis memang harus selalu ditambahkan?
Pertanyaan ini muncul setiap kali saya pulang kampung, terutama di musim buah-buahan. Salah satu contohnya adalah pohon markisa yang tumbuh di sebelah rumah. Orang-orang menyebutnya markisa madu, entah sejak kapan. Tidak ada papan nama, tidak ada varietas resmi. Ia hanya buah-buah bulat kehijauan yang menggantung, menunggu matang, lalu jatuh ke tangan siapa saja yang mau memetik.
Musim liburan tahun baru ini pohon itu berbuah lebat. Tanpa pupuk pabrikan, tanpa perawatan rumit. Jaring dan tiang bambu yang menopangnya pun bukan rancangan ahli pertanian, melainkan kebiasaan lama yang diwariskan begitu saja: bambu disusun, jaring dibentangkan, lalu dibiarkan bekerja bersama waktu. Di situlah markisa tumbuh, merambat, dan berbuah.
Saya memetik satu, membelahnya, dan memakannya begitu saja. Rasanya manis, segar, sedikit asam menyegarkan. Tidak ada gula yang ditambahkan, tidak ada resep khusus. Jika ingin minum, isinya dikeruk, diberi air, diaduk sebentar. Selesai. Di kota, minuman seperti ini mungkin akan diberi nama panjang dan harga yang tidak sederhana.
Pengalaman kecil ini terasa kontras dengan kebiasaan kita sekarang. Kita terbiasa membeli minuman manis sebagai produk, bukan sebagai hasil. Kita memercayakan rasa pada industri, bukan pada musim. Padahal, di banyak halaman rumah terutama di kampung, pangan semacam ini masih bekerja diam-diam. Ia tidak masuk iklan, tidak ikut festival, tidak viral. Tapi ia ada, setia pada ritmenya sendiri.
Markisa madu ini mewakili satu cara pandang terhadap pangan: bahwa rasa tidak selalu harus dimodifikasi, dan kebutuhan tidak selalu harus dibeli. Tiang bambu yang menopangnya juga menyimpan pelajaran serupa. Ia murah, mudah dibuat, dan cukup kuat untuk menopang rambatan. Tidak ada klaim "ramah lingkungan" yang ditempelkan, tapi fungsinya nyata.
Di sinilah saya melihat jarak yang makin lebar antara kebiasaan lama dan gaya hidup sekarang. Kita sering membicarakan pangan sehat, pangan berkelanjutan, atau kembali ke alam, tapi sering kali dalam bentuk wacana besar. Sementara itu, praktik kecil yang sudah berlangsung puluhan tahun justru luput dari perhatian. Ia dianggap biasa, tidak layak cerita, apalagi dijadikan rujukan.
Saya tidak sedang mengidealkan kampung atau menolak kemajuan. Tidak semua orang punya halaman, tidak semua orang bisa menanam. Tapi pengalaman ini memberi pengingat halus: bahwa sebagian kebutuhan dasar manusia pernah dipenuhi tanpa rantai panjang produksi dan distribusi. Bahwa rasa manis pernah hadir tanpa perhitungan kalori dan klaim kesehatan.
Markisa madu itu tidak meminta dilestarikan dengan slogan. Ia hanya tumbuh, berbuah, dan dimakan. Jika suatu hari pohon itu ditebang atau halaman berubah fungsi, barangkali tidak ada yang akan menulis laporan. Tapi hilangnya kebiasaan kecil semacam ini sering kali lebih sunyi daripada yang kita sadari.
Di tengah maraknya minuman kemasan dan tren gaya hidup sehat yang kerap rumit, pengalaman memetik markisa memberi jeda. Ia mengingatkan bahwa pangan bukan selalu soal inovasi, tapi juga soal ingatan. Ingatan tentang bagaimana manusia dulu berhubungan dengan apa yang ia makan dan minum.
Barangkali kita tidak kekurangan pilihan minuman hari ini, yang mulai langka justru pengalaman sederhana: mengenal rasa langsung dari sumbernya. Selanjutnya mungkin, tanpa kita sadari, manis yang paling jujur itu masih tumbuh diam-diam di halaman rumah: menunggu untuk kembali diperhatikan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar