Peran Anak Muda dalam Penyebaran Ideologi NII
Ketua Yayasan Prabu Foundation sekaligus mantan aktivis NII, Asep Muhargono, mengungkapkan bahwa perekrutan anggota Negara Islam Indonesia (NII) kini lebih fokus pada pelajar dan mahasiswa. Kelompok ini memilih menargetkan anak muda karena dianggap paling mudah dipengaruhi dan proses penyebaran ideologinya dapat berlangsung lebih cepat.
"Ketika ideologi ini sudah kuat di kalangan anak muda, maka akan menyebar ke seluruh jaringan dan bangsa," ujar Asep saat ditemui usai kegiatan pencabutan baiat mantan anggota NII di Aula Ki Hajar Dewantara, Dinas Pendidikan Jawa Barat, Kota Bandung, Kamis (11/12/2025).
Ia memberi contoh, pada 2015, banyak siswa meninggalkan keluarga bahkan sampai melakukan tindakan melanggar hukum akibat doktrin NII. "Banyak anak sekolah yang meninggalkan orang tua, menganggap ibunya kafir, dan sebagainya. Ini bagian dari proses perekrutan NII yang saat itu sedang marak di Indonesia, terutama di Jawa Barat sebagai pusatnya karena jaringan memang terkoneksi ke sana," tambahnya.
Dinamika Internal NII
Di dalam NII, kata Asep, banyak anggota berpindah antar faksi. Namun, semua kelompok tetap menekankan kewajiban rekrutmen dan pengumpulan dana. "Ketika mereka tidak puas dengan satu jaringan, mereka pindah ke jaringan lain atau faksi lain. Namun sebenarnya mereka tidak akan menemukan hal baru, karena semuanya sama-sama memanfaatkan kekuatan rekrutmen orang dan uang," jelasnya.
Asep menilai bahwa pemerintah menjadi kunci pencegahan penyebaran ideologi tersebut. Ia mendorong pemerintah untuk memperkuat pengawasan dan pendidikan di sekolah, terutama SMA. "Kalau itu tidak disentuh, dan ideologi sudah masuk ke pikiran anak-anak muda, akan sangat sulit dibersihkan," katanya.
Data dan Aktivitas NII
Penelitian Prabu Foundation mengungkap bahwa sekitar 262.000 orang pernah berbaiat kepada NII. Dari jumlah itu, hampir 700 orang telah kembali ke NKRI, namun sebagian besar masih aktif. "Karena itu, pemerintah perlu memperkuat pendidikan untuk mencegah penyebaran ideologi ini. Ketika seseorang sudah mengalami cuci otak, mereka membenci negara, menyalahkan aparat, dan mengarahkan kebencian bukan pada individu tetapi pada negara," ujarnya.
Asep juga menyebutkan bahwa jaringan NII memiliki aktivitas di luar negeri, seperti Malaysia. "Soal jaringan di luar negeri, ada juga. Saya tidak terlalu paham detailnya, tetapi yang jelas aktivitas jaringan seperti milik Pak Asyid dengan CI itu merupakan bagian dari jaringan ini, termasuk aktivitas yang ada di Malaysia," pungkasnya.
Faksi-Faksi NII di Jawa Barat
Menurut Asep, ada 41 faksi NII yang ada di Jawa Barat, namun saat ini hanya tujuh faksi saja yang masih aktif melakukan perekrutan. Ia menilai bahwa keberadaan faksi-faksi ini menjadi ancaman serius bagi stabilitas sosial dan keamanan.
Dengan adanya penyebaran ideologi NII yang semakin luas, penting bagi pihak terkait untuk terus meningkatkan pemantauan dan edukasi masyarakat, khususnya generasi muda. Dengan demikian, potensi penyebaran ideologi radikal dapat diminimalkan dan keamanan nasional tetap terjaga.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar