Maria Theotókos: Pendamping dan Berkat Ziarah Kehidupan Manusia (Refleksi Awal Tahun 2026)

Maria Theotókos: Pendamping dan Berkat Ziarah Kehidupan Manusia (Refleksi Awal Tahun 2026)

Refleksi Awal Tahun 2026

Sekedar Membuka
Salah satu pertanyaan klasik yang sering mengusik hati manusia adalah, mengapa orang Katolik mengimani dan menerima Maria, Ibu yang melahirkan Yesus, disebut sebagai Bunda Allah. Pertanyaan ini diikuti oleh pertanyaan lain, bagaimana seorang manusia bisa memperoleh sebutan seperti itu. Ringkasnya, mengapa Maria yang adalah manusia biasa dari Nazaret bisa disebut sebagai “Bunda Allah”. Bagi mereka yang non Katolik akan merasa heran dan bahkan keberatan jika mendengar dan mengikuti cara berimannya orang Katolik khususnya penghormatan dan pengakuan mereka kepada Maria sebagai Ibu Tuhan, Bunda Allah (Theotókos) atau dia yang melahirkan seorang Allah (Maria Deipara, Dei genitrix).

Namun Gereja memiliki fondasi yang kuat tatkala berbicara tentang status keibuan Maria. Itu sejatinya ditarik dari Kitab Suci berdasarkan kisah kelahiran Yesus dalam memahami inti dan makna perayaan ini: Hari Raya Maria Bunda Allah yang dirayakan pada tanggal pertama bulan Januari. Salah satu hal yang pasti ialah bahwa tak mungkin seorang manusia biasa dapat memberikan ke-Allah-an dalam kelahiran anaknya. Sekalipun demikian, Allah memungkinkan apa yang mustahil di mata manusia menjadi sebuah kenyataan. Persis di sinilah, misteri keibuan Maria sebagai Bunda Allah sebagaimana yang diwartakan Malaikat Tuhan (bdk. Luk 1:26-38) dapat dinyatakan secara jelas bagaimana, Maria seorang manusia biasa diperkenankan mengambil bagian dalam misteri ilahi sebagai seorang Bunda yang melahirkan Allah-Manusia, Yesus Kristus.

Maria “Dei Genitrix”: Dia yang Melahirkan Sang Kepala dan Anggota-anggotanya

Merayakan Tahun Baru itu seperti memulai suatu siklus baru dalam memulai sebuah perjalanan. Ini seperti membuka lembaran baru di waktu dan suasana yang baru. Persis di awal tahun ini, Gereja Katolik mendedikasikan secara khusus hidupnya dengan merayakan sebuah perayaan khusus yakni, menghormati Maria sebagai Bunda Allah. Tahun Baru sejatinya mau memperlihatkan suatu kepastian yang akan menemani hari-hari hidup manusia Kristiani bahwa setiap insan pengikut Kristus adalah putra-putri Allah dan sekaligus juga merupakan suatu kawanan umat yang hidup dalam bimbingan Maria, Bunda Allah. Dari sebab itu, mempercayakan diri pada bimbingan seorang “ibu” sama artinya membiarkan diri dibimbing dan dididik olehnya. Itulah sebabnya, seorang Kristiani tidak akan pernah merasa sendirian dan merasa diri sebagai kaum yatim piatu pada perjalanan hidupnya di tahun yang baru!

Allah itu Maha Baik sebab Ia berkenan mengutus Putra-Nya lahir dari seorang wanita (bdk. Gal 4:4). Fakta bahwa Allah menjadi Manusia dan membiarkan nama-Nya selalu dikenang, itu terlaksana oleh karena seorang wanita suci mengizinkan hal itu terjadi. “Lahir dari seorang wanita”: dua kata ini mengandung seluruh misteri keibuan Maria. Ia adalah Bunda Allah, “Theotókos”, “Dei Genitrix”. Dalam Komunitas Gereja Perdana, di samping muncul suatu kesadaran yang mendalam di antara para murid bahwa Yesus adalah Putra Allah, tampak semakin jelas pula suatu kesadaran dan keyakinan bahwa Maria adalah Theotókos, dia yang melahirkan Allah yang menjadi Manusia (Maria Deipara). Dari sini, Gereja kemudian mendefinisikan kebenaran keibuan ilahi Maria dalam Konsili Efesus pada tahun 431, dan seluruh umat beriman menyambutnya dengan penuh sukacita.

Keibuan Maria yang Melampaui Batas Biologis

Maria telah dipilih menjadi Bunda Tuhan. Dengan menerima tugas sebagai Ibu yang melahirkan Putra-Nya, maka kebundaan Maria tak hanya dibatasi pada aspek biologis belaka. Artinya keberadaan Maria sebagai “Ibu” tak terpaku pada proses biologis dalam melahirkan anak. Dikatakan demikian oleh karena menurut Jacques Bur, kebundaan Maria meliputi pula dimensi lainnya, yakni psikologis dan spiritual. Maria tidak hanya sekedar menjadi Bunda Allah begitu saja; dalam pemahaman bahwa Allah hanya memperoleh tubuh manusiawi-Nya melalui Maria dan selesai. Samasekali tidaklah demikian. Kebundaan Maria justru mencakup aneka dimensi lain: jiwa, kehendak, akal budi, hati, dan seluruh hidupnya.

Sebagai seorang “Ibu”, Maria tidak hanya melahirkan Putra Allah, Yesus Kristus secara biologis, akan tetapi juga secara rohani melahirkan semua umat Kristiani. Santo Louis-Marie Grignion de Montfort (1673-1716), “Saksi dan Guru Spiritualitas Marial” (bdk. Redemptoris Mater 48), dalam mahakarya mariologisnya berkata: “Seorang Manusia dan seorang manusia dilahirkan di dalam dia”, kata Roh Kudus: Homo et homo natus est in ea. Menurut tafsiran beberapa Bapa Gereja, manusia pertama yang dilahirkan di dalam Maria adalah Manusia-Allah, Yesus Kristus; yang kedua adalah manusia belaka, anak angkat Allah dan Maria” (Bakti yang Sejati kepada Maria [BS] no. 32). Dari sini menjadi jelas bahwa Maria tak hanya melahirkan seorang “Pemimpin” atau “Kepala” tanpa anggota-anggotanya, demikian juga ia tidak melahirkan anggota-anggota tanpa Kepala. Jadi menurut “teolog klasik” dan “Misionaris Apostolik” ini, dalam tata rahmat, baik Sang “Kepala” maupun anggota-anggota lahir dari ibunda yang sama, yakni Perawan Suci Maria. Dia yang melahirkan “Kepala” dan anggota-anggotanya ini pada 1 Januari dihormati, dan dirayakan secara istimewa dalam liturgi Katolik sebagai Bunda Allah (Theotókos).

Bunda Allah yang Memberkati Ziarah Hidup Manusia

Dengan mewartakan Maria Theotókos, sebetulnya Gereja menegaskan bahwa dia adalah “Ibunda Sang Sabda yang Menjelma, yang adalah Allah.” Faktanya, Maria adalah Bunda Yesus, “yang lahir dari seorang wanita” (Gal 4:4). Dia adalah Ibunda Sang Penebus dan Ibu rohani dari semua manusia justru karena dia adalah Ibu Sang Putra yang atas kehendak Allah, adalah Saudara kita. Dia adalah rahim umat manusia yang telah ditebus. Misteri keibuan ilahinya, yang dirayakan Gereja pada Tahun Baru (1 Januari), mengandung suatu karunia rahmat yang berlimpah yang dibawa oleh setiap keibuan manusia, sedemikian rupa sehingga kesuburan rahim Perawan Suci Maria selalu dikaitkan dengan berkat Allah. Bunda Allah adalah orang pertama yang diberkati dan Dialah yang membawa berkat tersebut. Dia adalah wanita yang menyambut Yesus ke dalam dirinya sendiri dan melahirkan-Nya bagi seluruh umat manusia (bdk. Yes 7:14; Luk 1:26-38; Gal 4:4).

Perayaan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah yang dirayakan pada 1 Januari merupakan suatu ajakan untuk menghidupkan kembali bakti (devosi) sejati umat Kristiani kepada Maria, sekaligus juga menjadi suatu kesempatan untuk mempercayakan seluruh hidup pada bimbingan seorang Ibu, yakni Maria. Dia menyinari jalan hidup manusia sebagai tanda penghiburan dari harapan yang pasti, seperti yang ditegaskan oleh Konsili Vatikan II (bdk. Lumen gentium no. 68). “Penghiburan” karena hidup kita sekalian selalu ditemani oleh kasih-sayang seorang “Ibu” yang setia dan kuat; “harapan” karena dia dapat diimani pula sebagai “perantara rahmat” dari Allah yang tetap memuliakan kuasa Kristus dan menjadi “perantara bagi kita” menuju tujuan hidup surgawi.

Pada awal Tahun Baru, Santa Maria, Bunda Allah memberkati kita (manusia) seperti seorang ibu yang selalu siap memberkati putra-putrinya yang harus berangkat dalam suatu perjalanan. Tahun Baru dalam arti tertentu diibaratkan seperti sebuah “ziarah”, yakni suatu perjalanan yang disinari dengan Cahaya dan Rahmat Tuhan. Kiranya ini menjadi sebuah “ziarah kedamaian” bagi setiap orang, khususnya bagi dunia (baca: manusia) yang selalu rakus dan haus akan kekuasaan, dunia yang serakah akan kekayaan, dunia yang suka bertikai, berperang dan merampas hak-hak dan kebebasan orang lain. Dengan berdoa mohon perdamaian dunia maka arti dari perayaan 1 Januari tetap memperlihatkan kedalaman maknanya, di mana 8 hari setelah Natal ketika Gereja (bdk. Gal 2:21), seperti Maria, menunjukkan pada dunia Yesus yang baru lahir (Neonatus), Sang Pangeran Perdamaian, Gereja pun merayakan Tahun Baru pada 1 Januari sebagai “Hari Perdamaian Dunia” seperti yang dinyatakan Paus Paulus VI (1963-1978) pada 1 Januari 1968. Bagi paus Marial ini, hari khusus yang didedikasikan untuk “Perdamaian Dunia” ini bukanlah sebuah perayaan eksklusif umat Katolik, melainkan terbuka bagi siapa saja yang mau mengupayakan perdamaian dunia bersama.

Catatan Akhir

Tahun Baru yang dirayakan saat ini kiranya pula menjadi sebuah “pijakan baru” bagi setiap insan dan semua keluarga di dunia dalam mengukir sejarah masa depannya yang masih terbentang luas. Tentunya ini juga dapat menjadi suatu “ziarah-perjalanan” yang damai dan aman bagi siapa saja yang telah mempercayakan hidup pada bimbingan Tuhan dalam dan melalui Maria, Bunda Allah. Santo Bernardus dari Clairvaux (1990-1153) meyakinkan kita hal-hal ini dengan kata-katanya yang bernas: “Ingatlah, ya Perawan Maria yang paling suci, belum pernah terdengar bahwa tak ada seorang pun yang berlindung padamu telah engkau tinggalkan.”

Semoga Gereja dan seluruh umat manusia yang merayakan Tahun Baru pada 1 Januari tetap dituntun oleh Allah yang Maha Kuasa di sepanjang tahun ini melalui perantaraan dan perlindungan serta tuntunan tangan Maria, Bunda-Nya yang suci (Maria Theotókos). Happy New Year 2026.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan