
Kolaborasi Lintas Sektor dalam Membangun Ekosistem Kecerdasan Buatan
Pemerintah dan pelaku industri semakin giat membangun ekosistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) melalui kolaborasi lintas sektor untuk mencetak talenta digital. Namun, di tengah maraknya program pelatihan dan pengembangan talenta AI, para pengamat mengingatkan adanya risiko jika penciptaan talenta tidak diiringi dengan kesiapan ekosistem dan ruang pemanfaatan yang nyata di industri.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Edwin Hidayat Abdullah, menjelaskan bahwa pengembangan ekosistem AI saat ini mengusung konsep kolaborasi tiga sektor, yakni pemerintah, universitas, dan industri bisnis. Ia mencontohkan Garuda Park Innovation Hub dan AI Innovation Hub Telkomsel serta ITB sebagai contoh kerja sama yang terjalin antara ketiga sektor tersebut.
Menurut Edwin, kolaborasi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan talenta digital agar masyarakat Indonesia memiliki kemampuan digital yang memadai dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional. Ia juga menyatakan bahwa selama ini pemanfaatan AI di Indonesia masih didominasi untuk kebutuhan hiburan. Oleh karena itu, diperlukan jembatan antara riset dan industri agar AI dapat menciptakan nilai tambah yang lebih luas.
Edwin menekankan bahwa penguatan ekosistem digital menjadi salah satu titik intervensi penting untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menargetkan kontribusi ekonomi digital yang lebih besar, seiring AI disebut sebagai gelombang baru ekonomi nasional. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa fokus utama pemerintah bukan hanya mengejar angka kontribusi ekonomi, tetapi lebih pada pendidikan talenta digital.
Target Mencetak Jutaan Talent Digital
Edwin menyampaikan bahwa pengembangan wadah ekosistem AI seperti AI Innovation Hub yang dikembangkan bersama Telkomsel mampu menciptakan jutaan talenta digital dalam lima tahun ke depan. Targetnya adalah dalam 5 tahun ke depan, mencetak sekitar 4 juta techpreneur atau mereka yang bisa memanfaatkan teknologi digital dan bisa melakukan pekerjaan berbasis teknologi.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB periode 2025—2030 Irwan Meilano menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Telkomsel melalui AI Innovation Hub merupakan bagian dari langkah nasional ITB untuk menjadi kampus yang berdampak. Bahkan, ITB mewajibkan seluruh mahasiswa tingkat pertama mempelajari AI lintas program studi. Selain itu, ITB akan membuka program konsentrasi khusus AI pada jenjang sarjana mulai tahun 2026, dirancang dengan pendekatan multidisiplin agar AI dapat diterapkan di berbagai sektor.
Masalah Utama: Minimnya Ekosistem Pemanfaatan
Namun, pengamat telekomunikasi dari ITB Agung Harsoyo menilai bahwa persoalan utama bukan semata kekurangan talenta AI, melainkan belum siapnya ekosistem pemanfaatan. Ia menyoroti bahwa talenta yang sudah tercetak membutuhkan akses pada data, masalah nyata, dan kesempatan berkarya. Menurutnya, masalah utama bukan hanya kekurangan talenta AI, tapi kurangnya ekosistem yang memberi kesempatan berkarya, data, dan masalah nyata untuk mereka selesaikan.
Agung berharap sinergi antarpemangku kepentingan dapat diperkuat agar talenta AI benar-benar berdampak bagi industri dan negara. Ia menilai peran pemerintah menjadi krusial dalam menyatukan ekosistem berbasis AI lintas sektor.
Tantangan dan Risiko Pengembangan AI
Sementara itu, pengamat telekomunikasi Heru Sutadi mengingatkan bahwa AI bukan hanya peluang, tetapi juga tantangan besar, terutama bagi tenaga kerja. Ia menilai perkembangan AI berpotensi menggeser banyak pekerjaan manusia. Oleh karena itu, reskilling dan upskilling menjadi kunci agar masyarakat tidak tertinggal. Dia juga menyoroti risiko pengangguran jika tantangan tersebut tidak dijawab, terutama di tengah bonus demografi.
Heru mengingatkan agar pengembangan AI difokuskan pada kebutuhan nasional. Ia juga menegaskan bahwa target penciptaan techpreneur tidak boleh menjadi tujuan utama. Ia khawatir jika pendekatan terlalu fokus pada peluang bisnis, maka akan kembali mengulang kegagalan dalam pengembangan startup.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar