Masyarakat Waswas dengan Super Flu, Ini Penjelasan Kemenkes

Masyarakat Waswas dengan Super Flu, Ini Penjelasan Kemenkes

Penjelasan Mengenai Subclade K Influenza di Indonesia

Subclade K dari virus influenza, yang sering disebut sebagai "super flu", telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Indonesia. Pertanyaan utama yang muncul adalah apakah virus ini lebih berbahaya dibandingkan dengan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa meskipun subclade K perlu diwaspadai, tingkat keganasannya tidak lebih berbahaya dibandingkan influenza biasa atau bahkan virus SARS-CoV-2. Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa istilah "super flu" bukanlah kategori baru dalam dunia medis. Virus tersebut merupakan influenza tipe A dengan subtipe H3N2 yang sudah dikenal sejak lama dan terus dipantau secara global.

“Ini bukan virus baru. Influenza A H3N2 sudah ada sejak lama, hanya saja mengalami mutasi,” ujar Budi Gunadi Sadikin saat dimintai keterangan. Menurutnya, masyarakat tidak perlu panik berlebihan karena hingga saat ini belum ditemukan bukti bahwa subclade K menyebabkan tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan influenza musiman lainnya maupun virus SARS-CoV-2.

Namun, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan karena sifat virus yang mudah bermutasi dan berpotensi menyebar lebih cepat. Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI drg Widyawati, MKM, menjelaskan bahwa temuan subclade K berasal dari pemeriksaan sentinel terhadap kasus Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di berbagai daerah.

Dari total 88 kasus yang diperiksa hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus subclade K yang tersebar di delapan provinsi. “Kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat,” ujar Widyawati dalam siaran pers, Kamis (1/1/2026). Ia menambahkan, surveilans ini dilakukan secara rutin untuk memetakan pola peredaran virus influenza di Indonesia.

Berdasarkan data pemeriksaan genomik terhadap 348 sampel, Kemenkes mencatat influenza tipe A/H3 masih mendominasi dengan proporsi 49 persen atau 172 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62 kasus merupakan subclade K. Sementara itu, influenza tipe A/H1 tercatat sebanyak 152 kasus atau 44 persen, dan influenza tipe B/Victoria sebanyak 24 kasus atau 7 persen.

Dari sisi demografi, perempuan menjadi kelompok terbanyak yang terinfeksi dengan proporsi 64 persen. Berdasarkan usia, anak-anak berusia 1–10 tahun mencatatkan angka tertinggi, yakni 35 persen.

Meski tidak lebih mematikan, para ahli mengingatkan bahwa subclade K diduga memiliki kemampuan penularan yang lebih tinggi. Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandani, SpA, SubspRespi(K), menjelaskan bahwa indikasi peningkatan transmisi masih terus diteliti.

“Kalau flu A biasa bisa menularkan ke dua sampai tiga orang, kemungkinan ini bisa lebih. Namun penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan, baik terkait tingkat penularan maupun keparahannya,” ujar dr Nastiti dalam konferensi pers daring IDAI, Senin (29/12/2025). Ia menambahkan, jika penyebaran terjadi secara masif, subclade K berpotensi memicu lonjakan kasus influenza yang berdampak pada meningkatnya kebutuhan perawatan rumah sakit serta alat kesehatan, terutama di negara-negara dengan musim dingin yang panjang.

Fenomena serupa sempat terjadi di Amerika Serikat, ketika subclade K menyebar cepat dan menyebabkan sekitar 71 ribu kasus di New York hanya dalam waktu satu pekan. Spesialis paru dr Erlina Burhan menegaskan bahwa mutasi merupakan karakter alami virus influenza. Ia menyamakan pola mutasi ini dengan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

“Virus influenza memang terus bermutasi. Subclade K ini merupakan hasil antigenic drift dari H3N2,” ujarnya, Kamis (1/1/2026). Menurut dr Erlina, H3N2 termasuk virus influenza musiman yang cenderung meningkat pada kondisi tertentu, seperti cuaca dingin. Situasi tersebut membuat penyebaran menjadi lebih cepat dan gejala yang ditimbulkan bisa terasa lebih berat pada kelompok rentan, meski secara umum tidak lebih mematikan dibandingkan COVID-19.

Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker saat sakit, serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala flu berat, terutama pada anak-anak, lansia, dan penderita penyakit penyerta. Kewaspadaan dinilai penting, namun pemerintah menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk panik berlebihan menghadapi kemunculan subclade K.

Tindakan Pencegahan dan Protokol Kesehatan

Untuk mencegah penyebaran virus influenza, masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan dengan cara-cara sederhana seperti:

  • Membersihkan tangan secara rutin dengan sabun atau hand sanitizer.
  • Menggunakan masker saat berada di tempat umum atau saat sedang sakit.
  • Menjaga jarak fisik dengan orang lain, terutama saat sedang mengalami gejala flu.
  • Melakukan vaksinasi sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
  • Memperkuat sistem imun melalui pola makan sehat dan cukup istirahat.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tetap waspada dan tidak mengabaikan gejala-gejala awal flu, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis. Dengan menjalankan langkah-langkah pencegahan ini, diharapkan dapat mengurangi risiko penyebaran subclade K dan meminimalkan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Peran Masyarakat dalam Menghadapi Subclade K

Peran aktif masyarakat sangat penting dalam menghadapi kemunculan subclade K. Masyarakat perlu sadar bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan lingkungan sekitar. Dengan kesadaran dan komitmen yang tinggi, masyarakat dapat membantu pemerintah dalam mencegah penyebaran virus influenza.

Selain itu, masyarakat juga diharapkan untuk selalu memperbarui informasi mengenai perkembangan virus influenza melalui sumber-sumber resmi dan terpercaya. Dengan begitu, masyarakat akan lebih siap menghadapi situasi apa pun yang mungkin terjadi.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan