
aiotrade—
Perkembangan teknologi di bidang neuroteknologi kembali menunjukkan kemajuan signifikan. Max Hodak, salah satu pendiri perusahaan Neuralink, kini menghadirkan proyek baru yang bernama Science Corp. Dengan ambisi besar, Science Corp. berupaya menciptakan integrasi antara otak, mata, dan mesin, yang diharapkan mampu mengubah cara manusia memahami dunia sekitarnya.
Setelah meninggalkan Neuralink pada tahun 2021, Hodak fokus pada visi yang lebih luas, yaitu mengembangkan teknologi yang tidak hanya terbatas pada antarmuka otak-mesin, tetapi juga mampu memengaruhi persepsi dan kesadaran manusia secara menyeluruh.
Proyek pertama dari Science Corp. adalah sistem retina bernama PRIMA. Perangkat ini merupakan chip kecil yang ditanamkan di retina, lalu dikombinasikan dengan kacamata ber-kamera dan baterai eksternal. Tujuan utamanya adalah membantu pasien dengan degenerasi makula lanjut untuk kembali melihat, bukan hanya cahaya samar, tetapi bentuk-bentuk visual seperti huruf, bentuk, hingga kata.
Dalam uji klinis terhadap 38 pasien, Science Corp. menyatakan bahwa sekitar 80 persen peserta kembali mampu membaca, meskipun hanya satu atau dua huruf dalam satu waktu. Hodak menegaskan bahwa ini merupakan pencapaian pertama yang berhasil memulihkan kemampuan membaca secara pasti pada pasien tunanetra.
Para peneliti menambahkan bahwa PRIMA bukan sekadar kemajuan kecil. Sistem ini memberikan apa yang disebut sebagai “form vision”, yakni kemampuan mengenali bentuk dan pola, bukan hanya persepsi cahaya. Sebelumnya, perangkat serupa hanya mampu menghasilkan “phosphenes”, yaitu bintik cahaya di medan visual pasien, bukan kemampuan mengenali bentuk atau membaca.
Di tengah pencapaian tersebut, Science Corp. telah mengajukan sertifikasi CE di Eropa untuk PRIMA dan berencana meluncurkan produk ini secara komersial dalam waktu dekat. Di Amerika Serikat, proses regulasi masih berlangsung bersama otoritas terkait.
Namun, visi Hodak tidak berhenti pada pemulihan penglihatan. Science Corp. juga sedang mengeksplorasi teknologi antarmuka neuro-komputer berbasis neuron biologis. Pendekatan ini memanfaatkan sel punca untuk menghasilkan neuron baru yang dapat tumbuh dan berintegrasi secara biologis dengan jaringan otak.
Dalam uji coba terhadap hewan (tikus), perangkat “bio-hybrid” ini menunjukkan bahwa neuron buatan mampu membentuk koneksi saraf dan memicu respons motorik sederhana. Menurut Hodak, pendekatan ini berpotensi menjawab keterbatasan sistem yang berbasis elektroda. “Rekayasa otak adalah sebuah konsep yang sangat kuat,” ujarnya saat mendirikan Science Corp., sambil menegaskan bahwa tujuannya bukan hanya merekam sinyal, tetapi membuka kemungkinan adanya “perluasan kesadaran” yang melampaui batas biologis alami.
Visi ini memiliki implikasi besar dalam ranah ilmiah, medis, dan sosial. Jika berhasil, teknologi antarmuka ini dapat membuka jalan bagi pemulihan fungsi neurologis, restorasi indera, dan transformasi cara manusia berinteraksi dengan lingkungannya.
Namun, risiko ketidaksetaraan akses juga muncul karena biaya awal prosedur diperkirakan sangat tinggi, sehingga hanya sedikit orang yang mampu menjangkaunya. Lebih jauh lagi, konsep “kesadaran yang diperluas”, baik melalui retina buatan, neuron buatan, maupun koneksi otak-mesin, memunculkan pertanyaan mendasar: apakah manusia di masa depan akan tetap sama, atau evolusi biologis itu sendiri yang akan berubah?
Science Corp. menegaskan bahwa mereka masih berada pada tahap awal pengembangan, tetapi langkah-langkah yang ditempuh menunjukkan bahwa batas antara biologi dan mesin semakin tipis. Dengan rekam jejak yang sebelumnya melekat pada perusahaan teknologi besar, Hodak kini tampil sebagai figur yang berpotensi menggeser paradigma neuroteknologi.
Jika Science Corp. berhasil membawa visinya ke publik, dunia mungkin akan menyaksikan bukan hanya lompatan ilmiah, tetapi lahirnya cara baru dalam memahami apa arti menjadi manusia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar