
Kehilangan Sosok Legendaris di Dunia Bus
Mbah Datuk, sosok legendaris yang dikenal sebagai sopir bus antarkota, meninggal dunia pada usia 66 tahun. Ia dikenal dengan slogan khas “Tak ganyang besmu” dan menjadi ikon bagi para penggemar bus di Indonesia. Kepergian Mbah Datuk menimbulkan duka mendalam tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi komunitas busmania.
Kabar Duka dari Keluarga
Kabar duka tersebut disampaikan langsung oleh pihak keluarga melalui unggahan di media sosial. Dalam pesan yang penuh haru, anak almarhum memohon doa dan keikhlasan dari semua pihak atas kepergian sang ayah. Mereka berharap kesalahan yang mungkin terjadi selama hidup Mbah Datuk dapat dimaafkan.
“Assalamualaikum. Saya anak Mbah Datuk mantan sopir Sumber, mohon doanya karena ayah sudah tidak ada. Kalau ayah ada salah mohon dimaafkan. Matur suwun,” tulis pihak keluarga.
Mbah Datuk mengembuskan napas terakhir pada Rabu, 25 Desember, pukul 19.00 WIB di Puskesmas Mojoagung, dan dimakamkan keesokan harinya, 26 Desember pukul 08.00 WIB. Ucapan duka juga datang dari warganet dan komunitas busmania yang turut merasakan kehilangan atas kepergian sosok yang begitu dicintai.
Ucapan Duka dan Penjelasan dari Pihak Keluarga
Salah satu warganet, Farel Smi, mendoakan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Dalam komentarnya, ia juga menanyakan penyebab wafatnya almarhum.
Menanggapi hal tersebut, akun Kendali Tomo memberikan klarifikasi bahwa Mbah Datuk meninggal dunia akibat sesak napas dan diabetes kering yang dideritanya. Informasi ini sekaligus meluruskan rasa penasaran publik yang turut berbelasungkawa atas kepergian sosok sopir legendaris yang dikenal luas di kalangan busmania.
Legenda di Balik Kemudi Bus
Nama Mbah Datuk bukanlah nama asing di kalangan pecinta bus. Ia dikenal sebagai salah satu sopir paling melegenda di bawah naungan PT Sumber Group, khususnya PO Sugeng Rahayu. Slogan ikonik “Tak ganyang besmu” melekat kuat pada dirinya, menjadi ciri khas yang membuatnya mudah dikenali.
Tak hanya dikenal karena gaya mengemudi yang tegas dan percaya diri, Mbah Datuk juga dihormati karena sikap ramah, rendah hati, serta kedekatannya dengan penumpang dan busmania. Banyak yang menilai, ia adalah representasi sopir bus sejati—berani di jalan, namun santun dalam perilaku.
“Driver paling hebat di PT Sumber Group. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi-Nya dan husnul khotimah,” tulis salah satu penggemarnya.
Setia Mengabdi Meski Usia Tak Lagi Muda
Lahir pada tahun 1958 dan berasal dari Sidoarjo, Mbah Datuk telah mengabdikan hidupnya di dunia transportasi darat selama puluhan tahun. Meski usia terus bertambah, kecintaannya pada dunia bus membuatnya tetap setia berada di balik kemudi hingga usia senja.
Dalam sebuah wawancara di YouTube, Mbah Datuk mengaku telah bergabung dengan Sumber Group sejak era bus-bus lama, bahkan sebelum penggunaan sasis asal China seperti Dongfeng. Saat itu, di usia lebih dari 60 tahun, ia masih tampak cekatan dan penuh semangat saat mengemudikan bus besar di tengah padatnya lalu lintas.
Namun seiring berjalannya waktu dan mengikuti aturan perusahaan, Mbah Datuk akhirnya harus berhenti dari PO Sugeng Rahayu karena faktor usia. Meski demikian, semangatnya tak padam. Ia dikabarkan masih bekerja sebagai sopir travel dengan rute Jombang–Surabaya–Malang, membuktikan bahwa kecintaannya pada jalan raya tak pernah benar-benar berhenti.
Kepergian Mbah Datuk meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi para bus mania.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar