
Pendidikan Sejati: Membentuk Pemimpin yang Berintegritas dan Berakhlak
Pendidikan sejati tidak hanya tentang memberi pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk pemimpin yang berintegritas dan memiliki karakter kuat. Dalam konteks kebangsaan dan nilai kemanusiaan, pendidikan harus mengajarkan bahwa identitas bangsa tidak hanya didasari kecerdasan belaka, tetapi juga kesadaran moral dan tanggung jawab terhadap masyarakat.
Sebagai proses membentuk kepribadian, pendidikan memungkinkan seseorang berkembang tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara emosional dan spiritual. Kualitas moral seperti jujur, penuh empati, dan adil bukanlah sifat bawaan, melainkan bisa dipelajari melalui cara belajar yang terarah dan pengalaman dalam kehidupan.
Selain itu, pendidikan berperan penting dalam menciptakan generasi yang visioner dan memiliki integritas. Dengan pendidikan karakter, para pemimpin masa depan akan berpikir visioner namun tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, sehingga mampu membawa perubahan positif sekaligus menjaga nilai-nilai sosial.
Hubungan antara nilai, karakter, dan tanggung jawab sosial sangat erat dalam proses membentuk pemimpin. Pendidikan karakter tidak hanya menanamkan nilai moral, tetapi juga membentuk kesadaran bahwa pemimpin adalah pelayan masyarakat yang bertanggung jawab atas kemajuan bersama.
Konsep “Mendidik Hati dan Pikiran”
Pendidikan modern yang baik harus menggabungkan dua hal utama yaitu mengajar berpikir (pendidikan intelektual) dan mengajar hati (pendidikan moral dan emosional). Mengajar berpikir artinya melatih kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan ilmiah. Di zaman digital saat ini, kemampuan literasi digital sangat penting agar siswa tidak hanya menerima informasi saja, tetapi bisa menghargai, mengevaluasi, dan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan.
Data yang ditunjukkan UNESCO terkait tingkat literasi di Indonesia yang hanya 0,001% menunjukkan kepada kita semua tentang bagaimana kualitas pendidikan Indonesia yang masih kurang maksimal. Semestinya, untuk menciptakan para pemimpin bangsa dimulai dengan pendidikan dasar yaitu literasi. Diliput dari BBPMP Provinsi Jawa Timur tentang literasi di negara Finlandia, disebutkan bahwa angka literasi di negara tersebut mencapai 100% sehingga kualitas generasi yang dihasilkanpun siap untuk dijadikan penerus bangsanya.
Selain literasi yang menjadi pengawal dari pendidikan hati dan pikiran, tentu perlu diperhatikan dari sisi moral dan intelektual setiap individunya. Melalui pendidikan moral, seluruh peserta didik ditanamkan nilai spiritual yang menjadi fondasi utama seorang pemimpin. Presiden Nelson Mandela di tahun 1997 memberikan apresiasi pada Indonesia tentang kemampuan bangsa Indonesia dalam menjadikan keragaman sebagai kekuatan. Karena, bangsa Indonesia sendiri adalah bangsa heterogen, dengan nilai moral yang tertanam kuat dalam setiap individu membuat kita semua dapat berdiri dengan baik dalam bangsa yang satu.
Juga dari sisi pendidikan intelektual perlu diperhatikan dengan baik. Karena, pendidikan intelektual ini harus bekerja sama dengan pendidikan moral sebaik mungkin agar tecipta pendidikan berkualitas dalam setiap individu.
Keseimbangan Antara Keduanya
Keseimbangan antara pendidikan hati dan pikiran adalah dasar penting dalam membentuk pemimpin yang utuh. Jika hanya mengandalkan pikiran saja, seseorang mungkin menjadi cerdas secara intelektual, tetapi kurang memiliki nilai batin. Pemimpin seperti ini bisa membuat keputusan cepat, menganalisis data dengan tepat, dan menguasai aspek teknis, tetapi tidak memiliki empati, kepekaan moral, atau kemampuan melihat dampak manusiawi dari tindakan mereka. Hal ini bisa menghasilkan kepemimpinan yang keras, mekanis, dan tidak peduli pada kesejahteraan warga.
Di sisi lain, jika hanya mengandalkan hati saja, seseorang akan menjadi idealis tetapi tidak memiliki arah. Individu yang memiliki empati tinggi, keinginan untuk membantu, atau semangat moral kuat, tetapi tidak memiliki kecerdasan berpikir, pemahaman data, atau keterampilan intelektual yang memadai, akan kesulitan menerjemahkan nilai-nilai moral menjadi kebijakan yang efektif. Hal ini bisa membuat tindakan mereka lebih didasari perasaan, tanpa didukung analisis yang menyeluruh.
Oleh karena itu, pendidikan harus menciptakan keseimbangan antara kemampuan intelektual dan kematangan emosional serta moral. Melalui kolaborasi antara pendidikan hati dan pikiran ini menciptakan seseorang yang berperilaku jujur, amanah, cerdas, visioner dan berakhlak mulia, sebagaimana sifat seorang pemimpin bangsa yang diimpikan.
Tantangan Pendidikan di Era Globalisasi
Namun, untuk menanamkan pendidikan hati dan pikiran tersebut, ada banyak tantangan yang harus dihadapi, seperti misalnya saat ini yaitu kehidupan yang serba digital. Banyak para calon pemimpin bangsa yang justru terjerumus ke dalam dampak negatif era digitalisasi ini. Laporan dari Otoritas Jasa Keuangan melaporkan angka pinjaman online (pinjol) mencapai Rp. 90,99 triliun hingga September 2025. Data ini menunjukkan kenaikan mencapai 22,16% dibanding tahun sebelumnya. Tentunya kasus pinjaman online ini berawal dari penyalah gunaan teknologi yang ada. Imbasnya adalah tingkat pendidikan moral di Indonesia menurun perlahan.
Selain itu, pendidikan di zaman sekarang yang hanya fokus pada kuantitas bukan pada kualitas peserta didik. Banyak orang yang akhirnya hanya berfokus untuk mengejar angka pada buku rapot masing-masing. Tentunya, ini tidak sejalan dengan tujuan pendidikan Indonesia yang ingin mencetak generasi bangsa untuk menjadi pemimpin masa depan.
Masalah berikutnya adalah kurangnya contoh yang baik dari tokoh publik, guru, dan pemimpin masyarakat. Kementrian Pendidkan dan Kebudayaan mencatat bahwa sekitar 77% pengakuan terkait kekerasan seksual terjadi di lingkup perguruan tinggi. Dari kasus ini, kita mengetahui bahwa masih banyak pendidik yang justru memberikan contoh buruk bagi peserta didiknya. Padahal, para pendidik ini menjadi salah satu penentu kualitas pendidikan bagi generasi saat ini.
Yang terakhir, ketimpangan dalam akses pendidikan berkualitas masih menjadi isu serius. Wilayah perkotaan memiliki fasilitas pendidikan modern dan guru yang cukup, sedangkan daerah terpencil masih kurang guru, sarana belajar, dan dukungan teknologi. Ketidakseimbangan ini menyebabkan perluasan karakter dan kompetensi tidak merata di seluruh negeri.
Strategi Membangun Pendidikan yang Mendidik Hati dan Pikiran
Membangun sistem pendidikan yang mampu mengembangkan aspek emosional dan intelektual secera seimbang membutuhkan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan. Bisa dimulai dengan cara reformasi kurikulum yang menggabungkan prinsip-prinsip karakter, empati, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial di seluruh mata pelajaran. Integrasi nilai tersebut tidak hanya pada mata pelajaran agama atau Pancasila saja, tetapi di seluruh bagian pelajaran.
Kemudian partisipasi pihak pendidik agar bisa menjadi model utama yang baik bagi seluruh peserta didik. Tidak hanya untuk menyampaikan materi pelajaran saja, tetapi juga dalam praktik sehari-harinyapun setiap pendidik harus bisa melakukannya. Karena, setiap peserta didik pasti akan menjadikan gurunya sebagai salah satu patokannya dalam bersikap dan bertutur kata.
Dan yang terakhir, pendidikan perlu menawarkan pengalaman belajar yang mendorong refleksi dan partisipasi. Diskusi mengenai nilai-nilai, kegiatan pelayanan masyarakat, proyek kolaboratif, dan pembelajaran berbasis pengalaman memberikan kesempatan bagi setiap siswa untuk menyadari pentingnya keterlibatan sosial. Dari kegiatan ini, para siswa akan mengetahui bahwa kepemimpinan bukan hanya soal memimpin, tetapi juga memberikan dampak baik dan manfaat bagi orang lain.
Dan tentunya hal ini tidak akan berjalan sepenuhnya tanpa ada kolaborasi dari tenaga kependidikan, pemerintah, lingkungan masyarakat, dan keluarga. Diperlukan juga partisipasi dari mereka semua agar pendidikan hati dan pikiran ini dapat berjalan dengan baik sampai akhir. Pengawasan terhadap penggunaan teknologi juga perlu ditingkatkan untuk mendukung berjalannya pendidikan yang berkualitas. Sehingga, generasi yang disiapkan untuk menjadi pengemban bangsa di masa yang akan datang, bisa terealisasi sesuai rencana.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar