Menamatkan sore di pantai-pantai Jepara

Ada dua hal yang saya rasa kurang pas jika disandingkan: pantai dan sampah. Dua hal ini tidak sebaiknya berdekatan, apalagi saling menyayangi. Jika disandingkan, keduanya akan seperti kue tart yang dilalerin, seperti telur ceplok yang setengahnya dikerubungi semut (tidak menarik lagi).

Saya merasa perlu menuliskan soal ini. Sebuah kekesalan yang didasari rasa sayang. Ceritanya, beberapa minggu lalu saya ingin menamatkan tahun dengan menikmati keindahan pantai di daerah Jepara.  Sayangnya, saya justru nemu pantai yang kurang bersih. Rasanya sulit sekali menemukan sudut yang baik, yang eksotis, yang estetik, yang... (tentu saja).... tanpa sampah.

Bukan, ini bukan tentang pantai Kartini maupun Bandengan yang kerap dielu-elukan para wisatawan itu. Ini tentang keinginan mencari pantai lain, selain keduanya. Sebuah pantai yang mulai dikenal tapi belum begitu viral. Pantai yang lebih jarang dilirik maupun dipilih. Pantai yang punya label, "sunset view."

Siapa coba, yang tak ingin mengakhiri tahun di tempat semacam itu?

Sunset View di Pantai Teluk Awur

Usut punya usut, datanglah kami ke pantai pertama yang namanya Pantai Teluk Awur. Memang banyak pantai di Jepara. Saking banyaknya, saya rasa kota ini tepat juga kalau dijuluki kota pantai selain julukan kota ukir.

Ya, pada akhirnya kami asal saja memilih bermodal foto-foto di Google.

Pukul 17.16 saya tiba di gerbang Pantai Teluk Awur. Waktu yang tepat untuk berburu sunset. Dan benar, warna biru langit mulai redup, digantikan jingga yang mulai nampak malu-malu. Rupanya pantai ini tidak sesepi gambar di Google. Banyak orang memilih menamatkan sore di sana.

Sayang, ada tumpukan sampah di dekat papan nama mereka. Maksud saya, ya kenapa harus ada di sana? Semua orang datang dengan ponsel dan ingin mengabadikan momen, spot di depan seperti papan nama tentu menjadi bagian yang tak mungkin terlewatkan. Tapi ya sudahlah.

Saya berjalan menuju ke Barat (tapi bukan untuk mengambil kitab suci, ya!) dan mencoba menggapai warna jingga langit. Warung-warung makan menawarkan sensasi minum kelapa sembari duduk lesehan menghadap ke laut. Muda-mudi, keluarga, memenuhi spot-spot terbaik versi mereka.

Kami terus berjalan, mencari titik paling aman untuk mengabadikan momen. Tidak mudah memang, bibir Pantai Teluk Awur tidak terlalu bersih. Ada-ada saja yang kami temukan, potongan ranting, bungkus kemasan yang membuatnya jadi tidak sempurna.

Hilanglah sudah niat membuat video estetik sembari berjalan di tepi pantai layaknya lagu Caffein. 

"Berjalan di tepi pantai..tertiup angin berhembus, sejukan hati, damaikan diri, melihat biru..." 

Tau lagunya, kan? Lagu ini pernah jadi jadi lagu kebangsaan anak-anak milenial pada eranya. Tapi rupanya, kenyataan tak seindah lagu.

Sunset di Teluk Awur masih indah, meski lautnya tak begitu biru plus sampah di sepanjang bibirnya. Kami memilih berdiri dibanding duduk di salah satu lesehan. Saya pikir bisa saja ini menjadi sunset pertama sekaligus terakhir yang saya lihat di 2025.

Dan sunset itu muncul. Sebuah pemandangan alam yang tak perlu didapat dengan pergi ke luar negeri. Cukup dengan merapat ke daerah pesisir utara pulau Jawa.

Sebuah view yang membuat saya bersyukur dengan lelahnya perjalanan di 2025. Keindahan itu seolah mengajak saya untuk mengakhiri 2025 dengan indah dan menyambut 2026 dengan penuh harapan.

Ceritanya belum selesai.

Namanya Pantai Prawean

Saya masih penasaran dengan pantai-pantai lain. Di hari setelahnya saya kembali ke pantai tapi kali ini memilih yang lebih asing lagi: Pantai Prawean. Sebuah nama yang sulit diingat karena terpeleset dengan kata "Perawan". Lokasinya tak jauh dari Pantai Bandengan yang kesohor itu.

Saya berharap pantai ini masih ranum, layaknya perawan yang kesepian, alias tidak banyak orang.

Begitu datang saya disambut kapal-kapal penumpang yang parkir di pinggir pantai. Sebuah ikon ikan Bandeng raksasa ada di dekat kapal-kapal itu.

Rupanya saya salah, cukup banyak juga orang berkunjung ke pantai ini.

Laut di pantai ini tidak terlihat biru. Pasirnya tidak terlalu bersih, ada-ada saja sampah baik itu ranting atau sisa sampah bungkus makanan. Meski begitu anak-anak terlihat menyukainya. Mereka tetap bermain air dengan riang. Kaum satu ini memang jitu soal menikmati kondisi, tak peduli dengan keruhnya air atau tumpukan bekas Pop Mie yang terlihat lelah pasca bertarung dengan air laut dan pasir pantai.

Saya duduk di salah satu lesehan sembari menyantap Pop Mie. Rupanya tempat duduk kami letaknya sedikit lebih tinggi, sehingga sampah-sampah tadi jadi tidak terlihat. Hm, pantas saja orang santai saja menikmati suasana tanpa terganggu, seolah semua baik-baik saja.

Sebenarnya pantai ini bukan tidak dibersihkan. Seorang laki-laki terlihat sedang membersihkan sampah di area kedainya tak jauh dari tempat saya duduk. Tapi tetap saja sampah-sampah ranting yang terbawa arus terus berdatangan. Belum lagi sampah bungkus makanan yang entah hanyut dari mana.

Yang menarik dari pantai ini adalah, ada banyak ayunan di pinggir pantai. Ini menjadi salah satu spot foto terepik yang bisa saya dapat. Beberapa spot memang bisa dibilang kurang bagus, entah karena bibir pantai yang tidak bersih atau warna air yang kurang menarik.

Menemukan ayunan ini membuat saya gembira. Setidaknya saya bisa pulang membawa video estetik untuk dipamerkan di sosial media.

Ya, saya tidak bisa berharap banyak dari pantai yang tiket masuknya saja murah meriah. Kalau mau yang lebih tenang, bersih dan lebih eksotis tentu saja saya harus masuk dari pintu salah satu resort mahal. Tapi andaikan pantai dengan tiket murah pun bisa sangat bersih, tentu itu menjadi nilai plus yang bisa diunggulkan untuk menarik wisatawan.

Tempat Nongki dan Ngopi di Pantai Marina

Di samping pantai Prawean, ada Pantai Marina. Tiket yang tadi saya bayar ternyata sudah termasuk juga untuk masuk ke Pantai Marina. Matahari hampir tenggelam sempurna ketika saya menginjakkan kaki ke sana. Jaraknya tidak jauh. Tak butuh 5 menit juga tak butuh rute yang berkelok-kelok.

Sepertinya kami datang diwaktu yang tepat. Tempat ini terlihat lebih estetik ketika malam. Berbeda dengan Pantai Prawean yang lebih ramah aktivitas dan pengunjungnya rata-rata keluarga, Pantai Marina cenderung berisi kedai-kedai kopi yang dikunjungi muda-mudi.

Masing-masing kedai menawarkan kursi-kursi sederhana yang ditata menghadap ke laut. Jika pantai lain mulai sepi, tempat ini justru baru hidup. Bagi mereka dengan kantong terbatas, opsi nongkrong di tempat semacam ini terdengar menarik.

Tempat ini menandakan bahwa setiap orang juga berhak bahagia meski dengan cara sederhana dan ngopi cantik di kala senja bukan hanya milik mereka yang mampu menyewa resort-resort mewah.

Di banding 2 pantai sebelumnya, area Pantai Marina lebih bersih dan terkendali. Sayang saya tak bisa berlama-lama di sana. Jarak penginapan dengan tempat ini cukup jauh, cukup mengkhawatirkan jika ditempuh dalam kondisi gelap.

Pantai-pantai di Jepara mengingatkan saya soal banyak hal. Bahwa Tuhan menitipkan kebahagiaan dengan tidak kurang-kurang, bahwa manusia lebih sering lupa bersyukur dan lupa merawat alam, bahwa kitalah yang menodai titipan-titipan itu dengan terus menerus keras kepala : memproduksi sampah-sampah dan membuangnya sembarangan.

Tentu ini bukan hanya PR warga Jepara saja, tapi semua masyarakat di seluruh Indonesia. Kita tidak tahu dari mana bungkus Pop Mie itu datang, bisa jadi ia hanyut dari salah satu pulau di timur Indonesia atau salah satu sudut di Ibu Kota. Yang jelas, kitalah yang melakukannya, bukan kucing ataupun makhluk gaib.

Saya berharap pantai-pantai di Jepara berangsur membaik, jadi lebih bersih dan cantik. Semua orang harus bergegas, jangan sampai bertambah parah dan mengharuskan tim Pandawara datang ke sana!

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan