Mencegah Terperosok dengan Menutup Lobang

Kondisi Keuangan Keluarga yang Berat

Tunjangan sertifikasi triwulan 4 akhirnya cair juga. Tunjangan ini sudah ditunggu-tunggu sejak bulan November dengan harapan dapat menutupi kebutuhan sehari-hari dan membayar hutang-hutang sebelumnya. Mungkin banyak orang yang bertanya, "Memangnya gaji berdua tidak cukup?" Namun, pandangan tersebut mungkin berasal dari luar yang belum memahami kondisi di dalam. Seperti judul buku Robert T. Kiyosaki "Who took my money ?".

Tahun 2025 ini memang tahun yang berat dalam keluarga kami, terutama dalam bidang keuangan. Biaya anak yang sedang kuliah berdampak pada resiko keuangan kami, termasuk biaya hidup dan biaya tinggal. Anak kami yang sudah setahun kuliah membutuhkan biaya UKT semester 3 dan juga biaya kos yang harus dibayar setahun.

Biaya ini sebenarnya bisa dibayar dengan uang istri yang dipakai untuk biaya talang. Namun kondisi keuangan sekolah tidak memungkinkan untuk membayarnya, sehingga terpaksa meminjam dan meminjam. Membuat lobang, tutup lobang, dan terus berulang. Ternyata saya sendiri tidak bisa menanggung biaya keluarga sendiri, dan peran istri terasa begitu besar dalam membantu ekonomi keluarga.

Kesulitan dalam Berhutang

Berutang itu terasa menyedihkan, dengan suara dan kalimat memelas meminta bantuan kepada orang lain. Tapi apa daya semua itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan persoalan. Apalagi bila kita berutang karena uang kita dipinjam oleh orang lain. Rasa marah dan sedih bercampur sudah, orang yang kita pinjami seolah tidak peduli dengan kesusahan kita, padahal uang yang kita pinjamkan tidak kita kasih bunga. Seolah mereka hanya berbagi kesusahan dan tidak mau berbagi kegembiraan kepada kita.

Di zaman yang sedemikian mementingkan diri sendiri ini, saya beruntung memiliki beberapa sahabat yang peduli kepada teman. Ketika kondisi keuangan saya sedang sulit, salah seorang sahabat ini dengan mudahnya meminjamkan uangnya sampai beberapa kali. Saya sendiri belum tentu mampu melakukannya seperti beliau, karena tanpa bertemu langsung melalui WhatsApp langsung menyetujui permintaan pinjaman saya.

Maka pantas saja beliau diberi anugrah rezeki yang lebih di tahun ini untuk melaksanakan umroh beserta isteri dan ibundanya. Kebaikan memberi pinjaman disaat kami sedang susah merupakan suatu kebaikan yang tidak terkira bagi kami. Dan saya pun berusaha agar saya tidak membiarkan hutang tidak dibayar, karena saya menyadari mungkin orang yang meminjamkan uang merasa kesulitan karena perilaku kita.

Kesulitan dalam Mengelola Utang

Meminjam uang dua juta kelihatannya mudah untuk dibayar ketika kita mengajukan pinjaman, tetapi ketika waktunya membayar ada uang pun terasa berat karena takut uang tidak cukup sampai akhir bulan. Dan akhirnya utang tetap tidak terbayarkan dan membayarnya pun menjadi telat.

Untungnya di sekolah kami ada koperasi yang mengajarkan bagaimana mengelola keuangan. Selain sahabat yang baik hati, koperasi banyak menolong kami waktu kondisi keuangan kami sedang sulit. Walaupun sebenarnya uang yang kami pinjam di koperasi adalah uang kami sendiri. Tapi anggota hanya dapat meminjam 80% dari total simpanan mereka. Bila anggota perlu uang yang lebih untuk dipinjam, mereka bisa meminjam jatah pinjaman anggota lain. Aturan ini dilakukan untuk menjaga kesehatan koperasi itu sendiri dan memungkinkan uang selalu tersedia di pengurus.

Pengeluaran Besar untuk Menutupi Hutang

Untuk akhir tahun ini, kami melakukan pengeluaran yang cukup besar untuk membayar hutang-hutang kami dan menyisakan uang yang kami peroleh untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Kami menahan diri untuk melakukan pengeluaran yang tidak perlu untuk kelangsungan hidup kami dan juga menghindari membuat lobang baru agar tidak terperosok ke jurang yang dalam.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan