
aiotrade, JAKARTA - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menyampaikan komitmen pemerintah untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam penanganan bencana.
Perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi kekuatan kemanusiaan yang berperan penting dalam situasi darurat seperti yang terjadi di Sumatra. Kehadiran akademisi, peneliti, dan mahasiswa di lapangan menunjukkan bahwa ilmu, teknologi, dan inovasi harus bekerja untuk masyarakat.
"Kami memastikan seluruh sumber daya perguruan tinggi bergerak cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran," tegas Menteri Brian pada Senin (8/12).
Sebagai wujud dari kebijakan "Diktisaintek Berdampak", Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengonsolidasikan Posko 28 perguruan tinggi dan 11 perguruan tinggi pendukung dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdiktisaintek, Khairul Munadi saat mengunjungi Posko Tanggap Darurat Bencana Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh, Jumat (5/12) menyatakan bahwa Kemdiktisaintek secara aktif berkoordinasi intensif dengan pihak-pihak kampus di berbagai wilayah.
Tujuan dari koordinasi ini adalah agar penyaluran bantuan dapat tepat sasaran dan termonitor dengan baik. Di setiap lokasi terdampak bencana, ada kampus yang menyiapkan relawan dan bantuan.
"Seperti di Aceh ini, ada beberapa Posko bencana yang telah didirikan oleh kampus, seperti Universitas Syiah Kuala yang mendirikan Posko di Pidie, Bireun, dan Meulaboh," ujar Ditjen Khairul.
Menurut Dirjen Dikti, keberadaan Posko ini menjadi upaya agar dukungan dan aktivitas operasi tanggap darurat bencana dapat lebih optimal dan tepat sasaran, khususnya dalam membantu masyarakat di wilayah sekitarnya.
Lokasi pembangunan posko serta penempatan relawan mulai dari tenaga medis, relawan logistik, dan dukungan teknis, akan disesuaikan dengan kebutuhan lapangan agar respons kemanusiaan dapat berlangsung lebih efisien, cepat, dan tepat sasaran.
"Perluasan jaringan posko juga berorientasi pada pemetaan kebutuhan di wilayah terdampak lainnya. Ini penting agar akses bantuan lebih merata," tegas Dirjen Khairul.
Lebih lanjut, Dirjen Dikti menyebut kunjungan ini dilakukan mewakili Kemdiktisaintek untuk berkoordinasi dengan perguruan tinggi di Aceh, guna memastikan bantuan tersalurkan dengan optimal.
“Penanganan bencana tidak mungkin dilakukan satu pihak. Kemdiktisaintek dalam hal ini bergerak bersama kampus untuk memastikan warga cepat tertolong,” tegas Dirjen Khairul.
Dengan terbangunnya kolaborasi lintas kampus dan posko tanggap darurat, Kemdiktisaintek memastikan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada distribusi bantuan, tetapi berlanjut ke fase pemulihan dan pemberdayaan masyarakat.
Hingga saat ini, untuk tanggap darurat di Aceh, Kemdiktisaintek telah menghadirkan bantuan mulai dari tenaga medis, dapur umum, hingga air bersih.
Salah satu kampus yang hadir adalah Universitas Syiah Kuala (USK), yang telah memberikan dukungan lapangan dengan mengirimkan empat surveyor, dari Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) ke Kabupaten Pidie Jaya.
Tim ini ditugaskan mendukung pendirian Posko Satgas dan melakukan survei cepat kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak. USK juga mengerahkan 15 dokter residen dari berbagai spesialisasi untuk memperkuat layanan medis.
Dukungan ini dikoordinasikan melalui Satgas Senyar USK, yang saat ini telah membuka pusat layanan informasi dan penggalangan bantuan terpusat melalui Rumah Amal USK.
"Alhamdulillah, tim medis dari FK USK sudah berangkat menuju Aceh Tengah dan Bener Meriah. Mencoba menembus wilayah tengah dan memberikan pelayanan serta mendampingi masyarakat terdampak," jelas Ketua Satgas Bencana Senyar USK, Syamsidik.
Selain USK, upaya tanggap darurat lainnya juga telah dilakukan melalui pendistribusian bantuan oleh Universitas Teuku Umar (UTU). Dukungan ini merupakan tindak lanjut koordinasi Kemdiktisaintek terkait penanggulangan bencana dan pemulihan pascakrisis, yang melibatkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti), dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) setempat.
Distribusi bantuan dipimpin langsung oleh Rektor UTU, Ishak Hasan bersama tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, serta mahasiswa. Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan dukungan dapat tersalurkan sesuai prioritas kebutuhan masyarakat terdampak.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar