Menembak Target Head Line, Semua Meleset

Perasaan yang Tersembunyi

Ah, akhirnya aku tidak tahan lagi. Rasa jengkel ini terus menghantui. Ada sekitar 40 tulisan dalam sebulan sejak tulisanku terakhir dinaikkan ke panggung paling bergengsi di nurulamin.pro. Dari jumlah itu, 10 diantaranya sangat kuyakini akan masuk target. Namun, apa daya, pucuk dicinta ulam pun tiba, tapi malah tidak nyambung sama sekali. Tidak ada satupun yang berhasil mencapai sasaran. Ai makjang. Hati ini merana.

Setiap tulisan yang kuhasilkan memakan waktu sekitar 2-5 jam. Apa salahku? Apa dosaku hingga hidupku disiksa seperti ini? Haruskah hidupku terus begitu dengan derita yang tak berujung? Kemanakah jalan yang harus kutempuh agar bisa bahagia?

Oh Tuhan, berikanlah petunjuk-Mu untuk kujadikan pegangan hidupku. Katakanlah kesalahan dan dosaku sehingga aku bisa memperbaikinya. Aku tak sanggup lagi menerima derita ini. Aku tak sanggup lagi menerima semuanya.

Tuh kan, jadi nyanyiin lagunya Abang-abangku yang ngumpul di D'Llyod hahaha. Memang bawaan kerja otak sih, kalau kita mengharapkan sesuatu tapi tidak mendapatkannya, otak akan mulai tebak-tebakan sendiri. Tebakannya bisa sangat liar. Apakah karena aku begini, atau karena aku begitu. Apakah karena tulisannya biasa saja atau justru terlalu bermutu. Apakah adminnya tidak menyukai aku. Dan entah apa-apa lagi yang dijolok-jolokkan oleh Si Amigdala (yang kubuat nama Si Black) ke lapisan kesadaranku.

Namun, asisten emosi di otakku ini sudah cukup lama kulatih, kujinakkan, agar tidak terlalu mengatur-atur tuannya, aku. Aku lebih mendengarkan asisten lainnya, Si Prefrontal Korteks (yang kubuat nama Si White). Dia bilang bahwa admin benar-benar menyukai konten-konten orisinil khas ala jurnalis warga, gemar dengan tulisan-tulisan yang topiknya aktual dan memiliki manfaat praktis bagi para pembacanya.

"Tapi kan, tulisan-tulisan Abang, banyak kok yang aktual dan bermanfaat. Buktinya ada yang bilang begitu di kolom komennya." Si Amygdala nyolot. Tapi jariku langsung kuletakkan di bibirnya yang tebel tapi enak ditengok itu, "Pssttt! Black, kamu diam dulu".

Ada satu pemikiran menarik yang diajukan oleh Si PK, yaitu admin memang berusaha mendahulukan penulis-penulis yang belum dikasih centang biru demi memenuhi kuota syarat. Hmmm, masuk akal juga, walau belum tentu kebenarannya begitu wkwkwk.

Busyet dah, Si Black masih menggerutu juga. Dia bilang tengok tuh Kompasianer X, Y, Z, tulisan-tulisannya selalu masuk HL. Langsung kusentil bibirnya yang monyong itu dan kubilang klo mereka itu memang wajar begitu, toh tulisan-tulisan mereka memang berkualitas semua, apalagi tulisan dengan topik yang sudah menjadi personal brandingnya. Gak kayak kita, random blas hahahah.

Waktu di awal-awal bergabung satu dekade yang lalu, pemikiran-pemikiran yang sebenarnya gak penting-penting amat ini, benar-benar mengganggu sekali. Dan udah gak terhitung banyaknya kompasianer yang mengeluhkan soal HaEl HaElan ini. Tapi seiring waktu, ya terbiasa juga. Kembali mempertanyakan diri sendiri, refleksi, apakah nulis di nurulamin.pro itu demi HL. Tulis ajalah apa yang mau ditulis, gak usah terlalu dihiraukan HaEl HaElan itu. Jaga aja niat baik, syukur-syukur ada pembaca yang memperoleh suatu kemanfaatan dari tulisan kita, walau itu hanya satu orang.

Aku pernah mengalaminya, dan itu bikin hatiku benar-benar maknyesss ademnya. Apalagi yang menyampaikannya melalui inboks segala. Priceless!

Para admin nurulamin.pro benar-benar menyadari bahwa banyak tulisan Kompasianer yang layak dinaikkan ke panggung HL, tapi ukuran panggungnya sangat terbatas dan kemampuan mereka juga sangat terbatas dalam memilih puluhan hingga ratusan tulisan yang masuk ke dashboard admin setiap harinya.

Sungguh, aku benar-benar percaya pada kearifan para admin. Gak nepotis, gak main ordal, gak milih-milih berdasarkan kepentingan pribadinya. Terlalu besar marwah nurulamin.pro dikorbankan demi hal-hal yang sangat sepele begitu. Si PK bilang, kemungkinannya nyaris nol besar. Beneran gak masuk akal klo begitu.

Mereka mengikuti ketentuan-ketentuan yang jika kita berada di posisi mereka, akan sangat memaklumi dan mengikuti aturan-aturan itu dengan baik.

Nah, sekarang Si Black sudah tenang, gak grasak-grusuk lagi di lapisan kesadaranku. Aku juga yakin sekali, bukan hanya aku aja yang diganggu perasaan semacam ini. Pasti banyak sekali Kompasianer yang digoda perasaan negatif itu, khususnya bagi teman-teman yang baru gabung, mungkin loh ya.

Seperti yang tadi kubilang teman-teman Kompasianer. Tulis ajalah apa yang mau ditulis, yang dirasa ada manfaatnya bagi para pembacanya. Niat baik gitu doang aja, udah diganjar pahala kebaikan loh. Heheheh.

Bagaimanapun, ada juga sih manfaatnya menargetkan HL, biar kita sadar gak sadar terdorong untuk membuat tulisan yang bagus-bagus bernas. Dan ketika target kita kena, wah rasanya nikmat sekali. Katakanlah seperti main game, gamenya pasti membosankan klo gak ada targetnya, gak ada levellingnya. Padahal secara view, jumlahnya kadang kalah jauh sama tulisan-tulisan kita yang gak HL. Jadi, kenikmatannya sebenarnya kenikmatan semu hahaha.

Oke, oke, iya betul juga klo peluang tingkat keterbacaan dan jumlah vote-nya jadi lebih tinggi. Lagi-lagi, jadikan itu sebagai booster untuk mendorong kita membuat tulisan-tulisan yang bagus-bagus. Tapi ya itu, ingat saja klo harapan itu berbanding lurus dengan kebahagiaan klo berhasil dan kekecewaan klo gagal. Jadi, yang sedang-sedang ajalah harapannya hehehe.

Salam hangat ya Dear Kompasianers. Udah ya, jangan manyun lagi hahaha

(Ajuskoto. Cianjur. 3 Januari 2026)

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan