Mengapa Amerika Benci Maduro, Kebencian Trump ke Presiden Venezuela

Mengapa Amerika Benci Maduro, Kebencian Trump ke Presiden Venezuela

Sejarah Panjang Permusuhan AS terhadap Nicolas Maduro

Permusuhan Amerika Serikat (AS) terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro bukanlah konflik yang muncul tiba-tiba. Ini merupakan akumulasi panjang dari benturan kepentingan ekonomi, ideologi, dan kekuasaan geopolitik yang berakar sejak dua dekade lalu, jauh sebelum nama Nicolas Maduro dikenal dunia.

Hubungan Washington dan Caracas mulai retak sejak naiknya Hugo Chávez ke tampuk kekuasaan pada akhir 1990-an. Hugo Chávez datang dengan misi Revolusi Bolivarian. Ia menulis ulang konstitusi, menasionalisasi sektor strategis, dan secara terbuka menantang dominasi Amerika Serikat di Amerika Latin. Langkah itu secara langsung menghantam kepentingan korporasi AS, khususnya di sektor minyak.

Venezuela, yang pada awal abad ke-20 menjadi salah satu pemasok energi utama bagi Amerika Serikat, berubah dari mitra ekonomi menjadi musuh ideologis.

Singkirkan Perusahaan Minyak Besar dari Venezuela

Pada 2007, Chávez menyingkirkan ExxonMobil dan ConocoPhillips dari proyek-proyek minyak besar, memaksa negara mengambil alih kepemilikan mayoritas. Sejak titik itulah, konflik tak lagi bersifat diplomatik, melainkan struktural.

Kudeta 48 Jam dan Tudingan AS Dalangnya
Krisis memuncak pada 2002 ketika Chávez digulingkan dalam kudeta singkat selama 48 jam. Meski pemerintahan George W Bush membantah keterlibatan, Venezuela menuding Washington berada di balik layar. Sejak itu, ketidakpercayaan menjadi permanen.

Hugo Chávez semakin mendekat ke Rusia, China, dan Iran, tiga negara yang juga dipandang AS sebagai rival strategis. Di dalam negeri, dia memperluas program sosial berbasis minyak, namun di saat yang sama membuka celah besar bagi korupsi dan salah urus ekonomi.

Maduro, Krisis, dan Eskalasi Tekanan AS

Ketika Hugo Chavez meninggal pada 2013, Nicolas Maduro mewarisi bukan hanya kekuasaan, tetapi juga ekonomi rapuh yang sepenuhnya bergantung pada minyak. Keruntuhan harga minyak global pada 2014 membuat Venezuela goyang. Terjadi krisis ekonomi. Di tengah tekanan tersebut, media-media barat mengabarkan pemerintahan Nicolas Maduro melakukan represif.

Versi media barat menyebut terjadi krisis ekonomi yang berujung krisis kemanusiaan di sana. Bagi Washington, itu menjadi justifikasi moral dan politik untuk menaikkan level konfrontasi. Jika pada era Presiden Barack Obama sanksi masih bersifat terbatas dan ditargetkan pada individu, maka pada masa Donald Trump kebijakan berubah drastis menjadi strategi "tekanan maksimum".

Sanksi tidak lagi menyasar pejabat, tetapi seluruh sistem ekonomi. PDVSA, bank sentral, sektor emas, hingga aset negara Venezuela di luar negeri. Dampaknya menghancurkan, hiperinflasi, kelangkaan pangan, dan eksodus jutaan warga Venezuela.

Pemilu Kontroversial

Pemilu 2018 dan 2024 menjadi titik krusial. Oposisi dilarang, hasil dipersengketakan, dan legitimasi Maduro ditolak oleh AS serta banyak negara Barat. Juan Guaidó sempat diakui sebagai presiden sementara, meski gagal menggoyang kekuasaan di dalam negeri. Pada 2024, kembali muncul sengketa hasil pemilu. Bahkan PBB ikut mengkritik prosesnya.

Namun, Nicolas Maduro tetap dilantik pada Januari 2025, menegaskan bahwa perubahan rezim melalui tekanan politik telah gagal.

Perubahan Sanksi ke Ancaman Militer

Ketegangan melonjak tajam ketika Donald Trump kembali ke Gedung Putih. Status perlindungan ratusan ribu migran Venezuela dicabut. Geng Tren de Aragua ditetapkan sebagai organisasi teroris asing, meski klaim keterkaitannya dengan Maduro dipertanyakan badan intelijen AS sendiri.

Langkah paling provokatif datang pada pertengahan 2025. Hadiah penangkapan Maduro digandakan menjadi US$50 juta. Nicolas Maduro dilabeli “pemimpin teroris global”, dan AS meluncurkan operasi maritim besar-besaran di Karibia. Tuduhan narkotika dan terorisme menggantikan narasi demokrasi.

Ketika Trump mengonfirmasi izin operasi rahasia CIA di Venezuela dan mengerahkan kapal induk USS Gerald R Ford ke kawasan pada November 2025, konflik yang selama ini bersifat ekonomi dan diplomatik resmi memasuki wilayah militer.

Lebih dari Sekadar Maduro

Bagi Washington, Maduro bukan sekadar presiden bermasalah. Dia adalah simbol perlawanan negara produsen minyak terhadap dominasi AS, sekutu Rusia dan China di Belahan Barat, serta preseden berbahaya bagi negara berkembang lain yang ingin menantang tatanan lama.

Itulah sebabnya mengapa Amerika Serikat tidak sekadar membenci Nicolás Maduro, tetapi berupaya menyingkirkannya. Konflik itu bukan tentang satu orang, melainkan tentang siapa yang berhak mengendalikan sumber daya, pengaruh, dan arah politik Amerika Latin di abad ke-21.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan