Mengapa Harapan Orang Tua Jadi Kekuatan Pendidikan Kita?


Pagi itu, langkah saya tergesa-gesa seperti sprint elegan yang hanya dilakukan oleh dosen yang tak ingin terlihat tidak rapi. Di area parkiran kampus, saya bertemu seorang mahasiswa yang datang bersamaan dengan saya. Dari jauh, segalanya tampak biasa: seorang anak turun dari motor, seorang pengemudi ojol, dan kampus yang siap memulai rutinitasnya.

Saya sempat berpikir, "Wah, anak ini pasti baru bangun." Namun pikiran itu buyar ketika motor ojol itu berhenti, dan sang driver menepuk perlahan kepala si mahasiswa sambil berkata lirih, "Yang baik kuliahnya, Nak." Si mahasiswa kemudian mencium tangan pengendara itu—bukan sekadar salam, tapi salam yang dihembuskan rasa hormat yang sangat dalam.

Dan saya baru sadar: ojol itu ayahnya.

Adegan sederhana itu membuat langkah saya terhenti. Ada sesuatu yang menepuk dada saya lebih kencang daripada angin pagi. Seolah saya sedang menonton cuplikan pendek tentang harapan, perjuangan, dan cinta orang tua yang dikemas dengan helm hijau dan jaket hujan.

Saya masuk kelas dengan sedikit linglung. Bukan karena kurang sarapan, tapi karena saya merasa baru saja melihat inti dari pendidikan dalam bentuk paling jujur: seorang ayah yang mungkin bangun sebelum subuh, menjemput rezeki, lalu tetap mengantar anaknya agar masa depan si anak lebih terang dari masa depannya.

Di kelas, wajah-wajah mahasiswa tampak seperti biasa—ada yang fokus, ada yang fokus pada notifikasi HP, ada pula yang fokus pada menahan kantuk. Namun pagi itu, saya memperhatikan mereka dengan cara berbeda. Di balik wajah-wajah lugu, riuh notifikasi, dan jadwal kuliah yang berantakan, ada orang-orang di rumah yang menaruh harapan sangat besar kepada mereka.

Saya sering lupa bahwa setiap mahasiswa datang membawa "modal awal" yang tak terlihat: doa orang tua, utang pendidikan, tabungan yang dikumpulkan dari menjahit baju atau berdagang sayur, dan kerja keras yang diam-diam dilakukan di belakang layar.

Pemandangan ayah ojol tadi memaksa saya melihat ulang realitas ini: bahwa pendidikan di negeri ini mungkin punya masalah kurikulum, fasilitas, dan kebijakan, tapi ia tetap memiliki sebuah fondasi kokoh—harapan orang tua.

Dan harapan itu, Kanda, tidak pernah kecil. Kadang bahkan lebih besar dari kemampuan dompet mereka sendiri.

Saya menghubungkan kejadian itu dengan obrolan-obrolan lama mahasiswa: tentang biaya kos yang membengkak, tentang orang tua yang kerja serabutan, tentang keinginan lulus cepat agar bisa "membalas"—padahal mereka belum tahu mau membalas apa dan kepada siapa.

Di Indonesia, pendidikan bukan sekadar aktivitas akademik; ia adalah janji antar-generasi. Orang tua bekerja keras hari ini agar anaknya bisa hidup lebih baik esok hari. Jika perlu, mereka menunda beli baju baru, menahan lapar, atau menjadi pengemudi ojol dari pagi sampai malam.

Saya teringat sebuah konsep dalam sosiologi pendidikan tentang intergenerational mobility—perpindahan kelas sosial melalui pendidikan. Orang tua kita mungkin tidak mengenal istilah itu, tapi mereka sangat memahami praktiknya: sekolah adalah tangga ke masa depan.

Dan pagi itu, saya melihat sebuah anak sedang menaiki tangga itu, sementara sang ayah berada di bawah—memegang tangga agar anaknya tidak jatuh.

Penelitian dari UNESCO (2022) menyebutkan bahwa keluarga di negara berkembang menempatkan harapan yang jauh lebih tinggi pada pendidikan dibanding negara maju. Ini terjadi karena pendidikan dianggap satu-satunya "jalan aman" untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Sementara itu, studi dari Journal of Family Psychology menunjukkan bahwa keterlibatan emosional orang tua—termasuk mengantar anak kuliah, memberikan dukungan moral kecil—memiliki dampak signifikan pada ketekunan dan prestasi mahasiswa. Ternyata, tepukan kecil di kepala itu bukan sekadar gestur; ia adalah bahan bakar psikologis.

Dan yang paling menarik, studi dari Higher Education Quarterly menegaskan bahwa mahasiswa yang berasal dari keluarga pekerja manual (buruh, pengemudi, petani, pekerja informal) memiliki tingkat motivasi akademik lebih tinggi dibanding mahasiswa dari keluarga yang ekonominya stabil. Mereka termasuk kategori first-generation college students, generasi pertama yang menembus perguruan tinggi.

Artinya: anak ojol itu, secara statistik, justru punya peluang menjadi mahasiswa paling gigih di kelas saya.

Kejadian pagi itu bukan sekadar momen menyentuh; ia adalah data empiris yang hidup—yang berjalan di parkiran kampus sambil memakai jaket hijau.

Dari kegelisahan positif ini, saya merasa ada tiga hal yang perlu kita pikirkan ulang tentang pendidikan, terutama bagi kita yang mengajar.

Pertama, jangan pernah meremehkan mahasiswa. Kita tidak tahu berapa kilometer ayah atau ibunya harus menempuh jalan agar si anak sampai di depan kelas. Kita tidak tahu doa siapa yang mendorong mereka terus belajar.

Kedua, pendidikan harus memperluas perhatian, bukan hanya memperluas kurikulum. Jika orang tua bisa memberikan harapan begitu besar, maka institusi, dosen, dan kebijakan pendidikan harus memberikan perhatian yang sepadan.

Ketiga, mahasiswa harus mengerti bahwa mereka tidak datang ke kelas hanya membawa tas dan buku, tapi membawa amanah. Amanah dari orang yang berdiri paling dekat di balik masa depan mereka: orang tua.

Jika kita menyadari betapa seriusnya investasi emosional orang tua, maka cara kita mengajar pasti berubah. Kita mungkin akan berbicara lebih pelan, menjelaskan lebih sabar, dan memarahi dengan lebih manusiawi.

Bagi mahasiswa, kesadaran ini bisa menjadi pendorong moral. Mereka mungkin masih sibuk scroll TikTok, tapi mereka akan punya alasan untuk berhenti dan kembali fokus. Bukan karena tugas sulit, tapi karena ada figur yang mereka cintai menunggu hasil pendidikan itu.

Bagi institusi pendidikan, ini menjadi alarm halus—bahwa pendidikan bukan sekadar layanan akademik, tapi layanan sosial yang bertumpu pada harapan rakyat kecil.

Dan bagi saya, dosen yang pagi ini terlambat sedikit tapi diberi pelajaran jauh lebih awal, kejadian sederhana itu menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang masa depan mahasiswa, tapi juga tentang masa depan orang tua mereka.

Karena setiap anak yang kuliah, sesungguhnya membawa sebuah doa yang diselipkan dalam helm pengendara ojol: "Semoga hidupmu lebih baik dari hidupku."

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan