
Penjelasan Jokowi Mengenai Isu Ijazah Palsu
Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) selama ini menjadi sorotan publik karena permintaan untuk menunjukkan ijazah aslinya. Tudingan bahwa ijazahnya palsu terus muncul, namun hingga kini Jokowi tetap tidak menunjukkan ijazah tersebut. Sikap ini membuat masyarakat semakin geram dan tudingan terhadapnya semakin meningkat.
Setelah lama dihujat dan berbagai tudingan dilemparkan, akhirnya Jokowi memberikan pernyataan resmi. Ia menjelaskan alasan mengapa dirinya enggan menunjukkan ijazah. Menurut Jokowi, hal itu bukan karena takut, melainkan karena ada proses hukum yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
"Saya tidak menyampaikan kepada publik ijazah itu. Karena yang pertama ada aduan ke Bareskrim. Yang kedua saya dituduh ijazah saya palsu. Artinya yang menuduh itu yang harus membuktikan. Dalam hukum acara, siapa yang menuduh itu yang harus membuktikan. Itu yang saya tunggu itu. Coba dibuktikan seperti apa?" ujar Jokowi dalam wawancara eksklusif dengan Kompas TV.
Jokowi menilai bahwa pembuktian lebih baik dilakukan di pengadilan agar keadilan bisa tercapai. "Akan kelihatan adilnya karena yang memutuskan adalah di pengadilan. Karena yang membuat ijazah saya, sudah menyampaikan asli, masih tidak dipercaya, gimana?" tambahnya.
Selain itu, Jokowi merasa ada agenda besar politik di balik isu ini. Ia menilai tujuan dari tudingan tersebut adalah untuk menurunkan reputasinya. "Kenapa sih kita harus mengolok-olok, menjelek-jelekkan, merendahkan, menghina, menuduh-nuduh? Mesti ada kepentingan politiknya," katanya.
Jokowi berharap energi bangsa digunakan untuk hal-hal besar, seperti menghadapi perubahan akibat artificial intelligence. "Jangan malah energi besar kita pakai untuk urusan-urusan yang sebetulnya menurut saya, ya urusan ringan," ujarnya.
Ia sangat yakin ada agenda besar dan "orang besar" di balik kasus ijazahnya. "Saya pastikan, saya tahu. Ya, saya kira gampang ditebak lah. Tapi saya tidak, berusaha sampaikan," ujar Jokowi.
Karenanya, Jokowi sangat menunggu kasus ini diproses secara hukum hingga di bawa ke meja pengadilan. "Ya, untuk pembelajaran kita semuanya, bahwa jangan sampai gampang menuduh orang, jangan sampai gampang menghina orang, memfitnah orang, mencemarkan nama baik seseorang," kata Jokowi.
Ketua Angkatan Jokowi Buka Suara
Profesor UNJ Prof. Ciek Julyati Hisyam sempat mempertanyakan keaslian ijazah Jokowi karena adanya materai berwarna hijau. Menurutnya, materai resmi saat itu harusnya ungu (merah/ungu) berdasarkan UU materai tahun 1985.
Mendengar pernyataan tersebut, Mustoha Iskandar, sebagai ketua angkatan Jokowi di UGM, "skakmat" (membungkam) profesor tersebut. Mustoha memastikan bahwa seluruh lulusan Fakultas Kehutanan UGM dari angkatan yang sama menggunakan jenis materai yang serupa.
Hal tersebut sudah ia cocokkan dengan dokumen kelulusannya dan milik rekan-rekan seangkatannya. "(Materai warna hijau) Bukan merah," kata Mustoha Iskandar.
Mustoha menjelaskan bahwa UGM memiliki empat periode wisuda setiap tahun, yakni Februari, Mei, Agustus, dan November. Ia berujar bahwa tidak ada mahasiswa Fakultas Kehutanan angkatan 1980 yang mengikuti wisuda pada periode Februari yang menggunakan materai berwarna merah.
"Jadi di Gadjah Mada itu ada empat kali wisuda. Ada Februari, Mei, Agustus, dan November. (Fakultas Kehutanan) Angkatan 1980 nggak ada yang wisuda Februari, yang merah itu nggak ada," ucapnya.
"Jadi yang bareng wisuda Pak Jokowi itu hijau materainya, semuanya hijau," kata Mustoha.
Mustoha Iskandar menyebut bahwa klaim ijazah Jokowi bermaterai merah tidak sesuai dengan fakta. "Kalau bilang merah berarti bukan angkatan 1980, apalagi sama-sama wisuda Pak Jokowi, itu bohong," tuturnya.
Siapa Mustoha Iskandar?
Mustoha Iskandar seorang Komisaris Independen PT Pupuk Indonesia (Persero) sejak 4 Agustus 2020 sedang ramai disorot. Dirinya adalah lulusan Sarjana Kehutanan UGM tahun 1986 yang satu angkatan dengan Jokowi. Pada tahun yang sama, ia juga berhasil mendapat gelar Sarjana Muda dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) - kini bernama Universitas Islam Negeri (UIN) - Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Setelah itu, Mustoha lulus dari University of Philippines Los Banos pada 1996. Di sana, ia mendapatkan gelar Magister Manajemen Pembangunan. Tak hanya itu, Mustoha Iskandar juga sukses meraih gelar Doktor Manajemen Bisnis dari Universitas Padjadjaran (Unpad) pada tahun 2006.
Tak berhenti di situ, Mustoha juga sukses meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Krisnadwipayana Jakarta pada 2014. Nama lengkap berikut dengan gelarnya yakni Dr. Ir. Mustoha Iskandar, S.H., MDM.
Sebelum menjadi Komisaris Independen PT Pupuk Indonesia (Persero), Mustoha sempat terlebih dahulu menjabat posisi serupa di PT Pusri Palembang pada 2016-2018. Mustoha juga beberapa kali mengisi kuliah umum, di antaranya di Universitas Bengkulu pada Oktober 2017 dan di Universitas Kuningan pada September 2018.
Mustoha juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Perum Perhutani selama tiga bulan, yakni Agustus-November 2016. Ia juga sempat mengisi kursi jabatan sebagai Direktur Utama Perhutani periode 2014-2019. Pengangkatan Mustoha sebagai Dirut Perhutani tertuang dalam Keputusan Menteri BUMN Nomor 231/MBU/10/2014 tanggal 17 Oktober 2014.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar