
Pergerakan Saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada 4 Desember 2025
Pasar modal Indonesia pada hari Kamis, 4 Desember 2025, ditutup dengan sedikit tekanan. Di tengah harapan akan adanya window dressing—aksi pembelian saham di akhir tahun yang biasanya mengerek indeks—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru terkoreksi tipis sebesar 0,06% ke level 8.611. Penurunan ini mencerminkan situasi pasar yang sedang menghadapi berbagai faktor eksternal dan internal.
Di tengah situasi ini, saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) tak luput dari tekanan, termasuk salah satu andalan investor, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Berdasarkan pantauan, saham BBCA tercatat ditutup melemah sekitar 0,9% pada hari itu. Penurunan ini, meskipun tidak drastis, menimbulkan keheranan bagi investor ritel:
“Kenapa BBCA turun, padahal bank ini fundamentalnya selalu kuat, labanya tumbuh, dan baru saja mengumumkan pembagian dividen interim?”
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu menganalisis tiga lapisan faktor: kondisi pasar harian, pengaruh teknikal dividen, dan tren jangka panjang yang mendasari pergerakan big banks sepanjang tahun 2025.
Koreksi Seiring Melemahnya IHSG dan Sektor Keuangan
Penurunan BBCA pada 4 Desember 2025 tidak terjadi secara terisolasi, melainkan sejalan dengan suasana pasar secara umum. Sejumlah media sebelumnya sudah memproyeksikan adanya potensi koreksi setelah IHSG mencetak rekor baru di awal Desember, sebuah normalisasi yang wajar dalam perdagangan.
Dalam sesi perdagangan tersebut, analis menggarisbawahi bahwa sektor keuangan, yang berisi saham-saham penopang indeks (seperti BBCA dan BBRI), justru memberikan tekanan jual. Meskipun koreksinya ringan, kelemahan kolektif di sektor ini turut menyeret indeks. Ketika investor melakukan profit taking (mengunci keuntungan) di saham-saham yang sudah menguat di awal Desember, saham big caps perbankan yang memiliki bobot besar di IHSG selalu menjadi target utama.
Faktor Teknis Dividen Interim: Efek Ex-Date
Alasan paling kuat yang menjelaskan volatilitas harga BBCA pada periode 2–5 Desember 2025 adalah siklus pembagian dividen interim. BCA, melalui pengumuman resminya, telah menetapkan jadwal pembayaran dividen interim tunai sebesar Rp 55 per saham. Jadwal krusialnya adalah:
- Cum Dividen (tanggal terakhir investor berhak dividen) di pasar reguler: 2 Desember 2025.
- Ex Dividen (tanggal di mana saham diperdagangkan tanpa hak dividen) di pasar reguler: 3 Desember 2025.
- Cum Dividen pasar tunai dan Record Date: 4 Desember 2025.
Secara teori, setelah melewati tanggal cum dividen, harga saham pada tanggal ex dividen cenderung menyesuaikan turun sebesar nilai dividen yang dibagikan. Meskipun tanggal ex dividen pasar reguler jatuh pada 3 Desember, tekanan jual dan profit taking dari para dividend hunter yang sudah mengantongi hak dividen sering berlanjut hingga beberapa hari berikutnya, sehingga menekan harga pada sesi 4 Desember.
Sentimen Jual Asing (Net Sell) Jangka Panjang
Penurunan harian BBCA tidak lepas dari tren koreksi yang lebih besar. Sepanjang tahun 2025, saham big banks Indonesia banyak mengalami tekanan jual dari investor asing. Analis mencatat, hingga awal Oktober 2025, BBCA sudah terkoreksi lebih dari 23% year to date, dengan nilai net sell asing yang mencapai puluhan triliun Rupiah.
Analis menggarisbawahi bahwa tekanan jual ini bukan semata karena fundamental BCA, melainkan karena aksi realokasi dana global dari pasar negara berkembang ke sektor lain, seperti energi dan komoditas, atau adanya penyesuaian valuation di saham big caps perbankan. Oleh karena itu, penurunan 0,9% pada 4 Desember 2025 adalah kelanjutan dari tren tekanan jual panjang, yang diperparah oleh tekanan teknikal dividen.
Fundamental Tetap Kuat, Valuasi Sedang Dikoreksi
Dari sisi fundamental, BCA tetap menunjukkan kekuatan. Laporan laba bersih 9 bulan pertama 2025 masih tumbuh sekitar 6% Year-on-Year (YoY), ditopang oleh pertumbuhan kredit yang sehat. Namun, pasar sedang mencermati dua hal:
- Pertumbuhan Laba yang Melambat: Pertumbuhan laba BCA di 2025 tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya, hanya mencapai single digit.
- Kenaikan Provisi: BRIDS mencatat adanya peningkatan beban pencadangan (provisi) dan write-off yang sedikit menekan margin, menunjukkan kehati-hatian bank terhadap risiko kredit di tengah ketidakpastian ekonomi.
Faktor-faktor ini membuat pasar melakukan koreksi terhadap premium valuation (penilaian harga yang tinggi) yang selama ini melekat pada BBCA.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar