Mengapa Stres Membuat Kita Suka Berbelanja? Ini Penjelasan Psikologis

Apa Itu Financial Coping dan Mengapa Kita Sering Belanja Saat Stres?

Pernah merasa ingin belanja padahal tidak benar-benar membutuhkan apa pun? Atau tiba-tiba checkout banyak barang setelah hari yang melelahkan? Fenomena ini ternyata sangat umum dan memiliki penjelasan psikologis. Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Olphi Disya Arinda, M.Psi., Psikolog menyebut fenomena ini sebagai financial coping.

Penjelasan tentang Financial Coping

Financial coping adalah cara seseorang dalam mengatasi stres dengan menggunakan uang. Uang tersebut digunakan sebagai alat untuk regulasi emosi. Banyak orang yang menggunakan financial coping. Jadi, uang itu bukan hanya alat tukar, bukan alat tukar antarbarang aja, tapi juga alat tukar emosi, yang tadinya sedih biar bisa jadi senang lagi.

Psikolog Disya menjelaskan bahwa uang dan aktivitas belanja kerap dianggap sebagai cara cepat untuk meredakan emosi yang sedang naik. Tak hanya berbelanja berlebihan, berbagai bentuk financial coping seperti mengambil pinjaman hingga menghamburkan uang juga dilakukan sebagian orang untuk mengurangi stres, kesepian, rasa tak berdaya, atau perasaan tidak aman.

Dalam kondisi itu, ketika seseorang merasa tidak puas atau tidak tenang, uang seolah menjadi alat untuk mendapatkan kembali rasa kontrol dan power. Namun, karena dilakukan tanpa tujuan yang jelas dan lebih didorong oleh emosi sesaat, Psikolog Disya menegaskan bahwa perilaku tersebut bukanlah cara yang tepat untuk mengelola emosi maupun keuangan.

Banyak orang juga yang mengeluarkan uang tidak pada tujuan yang tepat, sehingga bisa jadi ini ada latar belakang kondisi emosi yang bisa dibilang kurang sehat. Tanpa disadari ini menciptakan pola yang namanya emotional spending atau emotional debt.

Mengapa Keputusan Belanja Jadi Impulsif?

Psikolog Disya menjelaskan bahwa saat seseorang berada dalam kondisi emosional yang kuat, bagian otak yang mengatur logika dan pengambilan keputusan, prefrontal cortex menjadi kurang aktif. Sebaliknya, amigdala atau pusat emosi bekerja lebih dominan.

Otak logis kita tuh jadi kayak redup, jadi kita enggak bisa melakukan perencanaan atau pengambilan keputusan yang bijak. Inilah yang membuat seseorang itu cenderung impulsif, menghindar kalau ada masalah atau mengambil keputusan jangka pendek.

Hal ini membuat keputusan finansial yang diambil saat stres sering kali impulsif, tidak terencana, dan tidak mempertimbangkan risiko jangka panjang. Akibatnya, seseorang bisa menyesal setelahnya, terutama jika belanja dilakukan berulang sebagai pelarian emosi.

Bentuk-Bentuk Emotional Spending

Beberapa bentuk emotional spending yang sering terjadi, seperti:

  • Belanja kecil tapi sering, misalnya checkout barang murah ketika sedang merasa sedih.
  • Belanja besar secara impulsif, seperti membeli gadget atau pakaian mahal setelah konflik.
  • Mengambil pinjaman atau paylater untuk mengejar rasa lega instan.
  • Memberikan hadiah berlebihan pada diri sendiri sebagai bentuk kompensasi atas rasa lelah atau kecewa.

Tindakan ini bisa memberi kenyamanan sesaat, namun jika berulang, berpotensi menciptakan pola keuangan yang tidak sehat.

Bagaimana Cara Mencegah Financial Coping?

Penting untuk menyadari motivasi di balik keputusan financial coping. Jika yang dikejar adalah rasa lega instan, bukan kebutuhan nyata, maka perlu ada pengelolaan emosi yang lebih sehat. Berikut beberapa langkah yang bisa diakukan:

  • Kenali pemicunya, misalnya apakah belanja muncul setiap kali merasa marah atau kesepian.
  • Gunakan jeda sebelum membeli, seperti menunggu 24 jam.
  • Alihkan ke kegiatan yang menenangkan, misalnya journaling, mandi air hangat, atau berjalan kaki.
  • Kelola emosi dengan teknik lebih adaptif, seperti latihan pernapasan atau mindfulness.
  • Atur anggaran belanja agar tidak keluar jalur.
  • Cari dukungan profesional bila perilaku belanja sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan