Mengapa Tidak Semua Anak Harus Jago Matematika?

Kegaduhan Nilai TKA Matematika: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Beberapa waktu lalu, publik kembali dihebohkan oleh isu nilai TKA Matematika yang dianggap "jeblok". Banyak orang buru-buru menyalahkan pandemi sebagai penyebabnya. Ada juga yang menganggap ini sebagai bukti bahwa generasi sekarang semakin melemah dalam pelajaran eksak. Namun, kegaduhan seperti ini bukanlah hal baru. Bahkan sejak kita masih sekolah, matematika selalu menjadi momok bagi sebagian siswa.

Perbedaannya adalah dulu tidak ada media sosial yang siap membesar-besarkan setiap kegagalan belajar. Kini, sebuah nilai rendah bisa berubah menjadi bahan perdebatan nasional hanya karena diposting ke publik. Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa kita masih menganggap semua anak harus hebat dalam matematika?

Viralnya Kekeliruan, Lenyapnya Keistimewaan

Fenomena nilai jeblok hanyalah bagian dari persoalan yang lebih luas. Kita sering melihat video siswa yang tidak hafal nama pahlawan, salah menjawab pertanyaan IPA dasar, atau bingung menyebutkan sila Pancasila. Video itu viral, lalu publik ramai-ramai menyimpulkan bahwa generasi ini penuh kekurangan.

Padahal, video itu hanya potongan 10-15 detik dari kehidupan seorang anak. Kita tidak tahu konteksnya. Mungkin ia sedang grogi, mungkin terintimidasi kamera, atau mungkin pertanyaannya tidak sesuai dengan gaya belajarnya. Namun karena dunia digital bergerak cepat, kegagalan sekecil apa pun bisa langsung diviralkan dan dijadikan "bukti" bahwa siswa zaman sekarang menurun kualitasnya.

Masalahnya bukan pada matematika, bukan pada IPS, bukan pada IPA. Masalahnya ada pada budaya kita yang masih mengukur nilai seorang anak dari kelemahannya, bukan kelebihannya.

Setiap Anak Memiliki Keistimewaan Berbeda

Sebagian dari kita mungkin memiliki pengalaman positif dengan matematika. Ketika guru menerangkan dan kita memahami logikanya, matematika terasa menyenangkan. Kita bisa mengembangkan sendiri penyelesaian tanpa perlu menghafal rumus panjang. Tetapi pengalaman itu tidak berlaku untuk semua anak.

Ada siswa yang kuat dalam angka. Ada yang unggul dalam bahasa. Ada yang cemerlang di seni. Ada yang menonjol dalam keterampilan praktik. Ada yang cepat menangkap konsep abstrak, tapi gugup berbicara di depan kamera.

Kita lah yang keliru ketika berharap semua anak memiliki bakat dan kecerdasan yang sama. Pendidikan bukan soal menyeragamkan kemampuan, melainkan menemukan kekuatan unik pada setiap diri anak.

Matematika Dasar Sudah Cukup untuk Kehidupan Nyata

Ada hal yang sering dilupakan publik ketika membahas nilai matematika: dalam keseharian, kebanyakan orang menggunakan matematika dasar. Namun di balik itu, matematika tingkat tinggi tetap menjadi fondasi penting bagi banyak bidang ilmu dan pekerjaan. Tentunya bagi siswa yang ingin melanjutkan ke bidang sains/teknik, matematika lanjutan tetap sangat penting.

Penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Itulah yang paling sering kita butuhkan untuk: - mengelola keuangan sehari-hari, - menghitung harga belanja, - memahami diskon, - mengukur kebutuhan rumah tangga.

Konsep-konsep rumit seperti integral, limit, atau matriks tentu penting, tetapi hanya untuk profesi tertentu. Tidak semua orang harus menjadi ahli kalkulus untuk hidup dengan baik.

Maka, nilai matematika yang rendah tidak serta-merta menandakan bahwa seorang anak akan gagal dalam kehidupan. Mungkin ia memiliki potensi kuat di bidang lain yang jauh lebih menentukan masa depannya.

Tekanan Orangtua yang Justru Menyakiti

Sayangnya, viralnya kekurangan akademik justru membuat banyak orangtua semakin cemas. Kekhawatiran itu lalu berubah menjadi tuntutan yang berlebihan: anak harus ranking, harus bagus di semua mata pelajaran, harus bisa menjawab semua pertanyaan, dan tidak boleh salah.

Padahal tekanan semacam itu sering menjadi luka psikologis yang tidak terlihat. Banyak anak mengalami stres berat, kecemasan berlebih, hingga hilang motivasi belajar karena merasa dirinya terus dibandingkan dan tidak pernah cukup baik. Mereka tumbuh dengan rasa takut pada kegagalan, bukan keberanian untuk belajar dan mencoba.

Padahal pendidikan seharusnya membuat anak berkembang, bukan ketakutan. Seharusnya membuat anak ingin tahu, bukan justru tertekan.

Menggeser Fokus: Dari Kelemahan ke Keistimewaan

Mungkin inilah saatnya kita mengubah cara memandang pendidikan. Alih-alih panik melihat nilai matematika turun, alih-alih menertawakan kekeliruan anak di video viral, kita seharusnya mulai bertanya: - Apa keistimewaan yang dimiliki anak ini? - Apa yang membuatnya unik? - Apa yang ia sukai dan bisa ia tekuni?

Sebab kemampuan manusia tidak pernah satu warna. Setiap anak datang dengan warna berbeda-beda, dengan kekuatan yang kadang baru terlihat ketika diberi ruang untuk bertumbuh. Pendidikan yang baik bukanlah yang memaksa semua anak menjadi hebat di semua mata pelajaran. Pendidikan yang baik adalah yang membantu anak menemukan jalur terbaik dari keistimewaannya.

Jika kita mampu mengubah fokus dari kelemahan ke kekuatan, dari tuntutan ke penerimaan, maka kita bukan hanya menyelamatkan anak dari tekanan yang tidak perlu, tetapi juga menumbuhkan generasi yang tumbuh dengan percaya diri, berkarakter kuat, dan bahagia menjadi dirinya sendiri.

Selanjutnya itulah tujuan tertinggi pendidikan: menumbuhkan manusia, bukan mencetak angka.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan